“Dokter?.. Nggg…”

Aku termasuk yang ‘percaya’ ama dunia medis, termasuk dokter & obat2an sbg sarana penyembuhan penyakit. Sekarang juga masih percaya sih, tapi berkurang cukup banyak, terutama setelah join milis sehat (pengasuhnya dr. Purnamawati SpA(K) MMPed, subspesialis hepar) & banyak browsing di website2 kesehatan. Bukan apa-apa, tapi rasanya kok selama ini aku udah banyak ‘dibodohi’ (karena emang masih o’on sih) sama dokter emoticon (no offense ya MDs.. pendapat pribadi boleh dong)

Kesadaran akan konsumsi obat secara rasional (rational use of drugs/RUD) ini mulai kudapat waktu kuliah. Ya ngga seintens kuliah di farmasi laaahh… setidaknya dikit2 aku tau tentang analgesik, antipiretik, dekongestan, antibiotik, antihistamin dll yang umum terkandung di obat yg dijual bebas (atau obat kategori keras yang entah kenapa kok bisa juga dibeli tanpa resep dokter emoticon). Mulai cerewet dg kandungan obat, kontra indikasi & efek samping, tentang makanan/minuman yg mengandung pemanis buatan, zat aditif, pengawet, pewarna, dsb, sampe ke label halal (tentu saja!).

 ibrahim 17 bulan Kesadaran ini semakin bertambah waktu aku punya anak. Namanya juga anak kecil, ada aja sakitnya walaupun ringan.. toh sistem imun mereka masih belajar. Dari secuil pengetahuan yg kudapat dari milis & browsing, aku mulai heran, kenapa dokter-anak yg kukunjungi memberi resep yang tak perlu? Pertama, anakku sehat2 aja, dateng untuk imunisasi, pulangnya dikasi resep DHA (tau kan, yg banyak di iklan itu?). Kedua, ternyata DHA yg diresepkan ini menghasilkan respon alergi (kulitnya jadi memerah bentol2) ke Ibrahim kecilku. Ugh, rasanya pengen marah dehhhh… Berhubung aku merasa bodoh (siapa suruh ga nanya dulu yak? main kasih aja, padahal dia anakku sendiri emoticon), aku putuskan untuk ngga ke dsa itu lagi.

Pengalaman kedua, anakku demam. Lumayan lah, 38,5C. Tadinya cuma kukasih penurun panas, tapi panasnya tetap. Ya udah coba konsul ke dokter umum deket rumah. Walhasil, diagnosanya adalah ISPA (infeksi saluran pernafasan atas/akut? cmiiw), trus dikasi resep ama dokternya. Waktu kutanya, anakku tyt dikasi antibiotik. Aku protes, knp harus AB? Infeksi kan ngga selalu krn bakteri? Eh dokternya dg galak bilang "Jadi ibu maunya saya ngasi penurun panas aja? Tanpa mengobati infeksinya? Saya ngga bertanggung jawab… (dll, aku lupa dia ngomong apa)" emoticon. Aku diem aja, ngalah. Bodohnya, aku kok ya mau aja nerima obat racikan berupa puyer 2 macem tanpa megang salinan resep sama sekali (ini kebodohan terbesarku sejak punya anak emoticon). Pas pulang, setelah Ibrahim minum puyer itu (yg bikin aku jadi ‘musuh’nya selama 2 hari), panasnya turun drastis sampe keringetan abissss & harus ganti baju 3 kali dlm 1,5 jam! There… aku langsung mencium sesuatu yg ga beres. Obatnya kustop, dan Ibrahim minum penurun panas aja sampe besoknya dibawa ke mbah-dhenya yg dokter jg. Daannn… apa yg terjadi? Sepulang dari tempat mbah-nya, panasnya turun (tanpa dikasi apa-apa) & sehat kaya ngga ada apa-apa 2 hari sebelumnya. Bahkan mbahnya berpesan supaya obat dari dokter yg sebelumnya jgn diteruskan. GEEEE!!!! Mo marah lageeee….. emoticon

Terakhir, waktu adikku yg sakit minggu lalu. Krn kuping & tenggorokannya sakit, dibawalah dia ke dokter. Kupingnya gpp, cuma tersumbat kotoran yg ga bisa keluar aja (makanya sakit). Radang tenggorokan? Dikasi puyer. Isinya macem2, yg kutebak ada antibiotik, antihistamin, dekongestan, antitusif, vitamin & pemanis. Well, pas kukonfirmasi sama suami (beliau yg nebus resep ke apotik), dugaanku gak salah emoticon. Jadilah sebotol puyer + pemanis itu seharga 60rb yg harus diminum. Ternyata, adikku ‘ngga bisa’ minum puyer ini, selalu muntah. Dg isengnya, aku komentar ke ibunda, "Itu badannya pinter, ngga mau antibiotik & macem2… Paling radang krn virus, AB (antibiotik)-nya ngga guna, ntar juga sembuh sendiri". Besoknya, obat itu tetep dimuntahin, dan hari-hari selanjutnya dilalui tanpa obat. Toh adikku ngga kenapa2.. Sembuh sendiri, tanpa keluhan. "SEE what I mean?!"

Kayanya (mayoritas) dokter kalo ngga ngasi obat ngga afdol, gituh. Minimal vitamin deh, pasti dikasi resep. Apa susahnya sih bilang, "Ngga apa2, ntar juga sembuh sendiri ngga pake obat"?…

I know the answer. Karena mayoritas orang Indonesia ‘ngga terima’ kalo pulang dari dokter dg tangan kosong alias gak dikasi resep. Tiap sakit, yakin bahwa antibiotik itu pasti bisa nyembuhin. Padahal kan ngga gitu aturan mainnya. Ya begitulah, jadi lingkaran setan (sori ya, gue salahin.. abis apalagi dong frase yg bisa dipake? emoticon)

Makanya, aku amat sangat senang & merasa beruntung kalo dapet dokter yg bisa dg tenangnya bilang, "Ngga pa-pa! Ntar juga sembuh.." / "Ngga pa-pa! Jangan dipikirin, ntar malah sakit sekalian!".. Sayang, baru ketemu 2 orang, dua2nya SpOG (bu Setyorini di Klinik Al Kautsar, Bandung & pak Soffin Arfian di RS Muhammadiyah, Solo). Satunya lagi, ‘guru’ku di cyber world, dr. Purnamawati, SpA(K)

Semoga kita semua ngga segan belajar untuk jadi partner yang baik buat dokter. Kita ini konsumen lho, punya hak untuk mengkritik & menolak apa yg dikatakan dokter. Kita ke dokter buat konsultasi, bukan minta obat (obat mah tinggal minta aja ke apotik toh?). Dokter bukan dewa, dan mereka juga ngga lepas dari salah..

Always, be smart & wise! 

4 Comments

  1. Iy@'

    October 15, 2005 at 9:23 am

    As a doctor’s wife whose rarely taken any medicine if I got sick, I 100% support ur opinion about drugs and medicine. don’t depend too much on doc’s recipee. Study a little about the basic medicine and what’s inside them. we can study on the net, ask advice from a doctor, or u can married to a doctor to have an experiental learning! 😛
    Anyway i like your writings alot! I’m sure u’ll have a published book of ur own to spread out Islam (kindness).. and make money of it!

    lita: that 3rd choice.. nice shortcut, eh? thanks for supporting me. mmm… money…

  2. dini

    September 11, 2006 at 2:25 pm

    ceritanya menarik sekali..
    Mbak masih aktif di blog ini?
    btw, kalo boleh tau, Klinik Al-Kautsar tuh, ada di Bandung belahan mana ya?
    trims 🙂

  3. errika

    December 17, 2008 at 10:52 am

    iya mbak…saya baru ajah kmrn dari dokter soffin arfian. saya cek kesana karena kadar Igg Toxo, rubella dan CMV saya positif. duhhh ngeri sekali pokoknya. Pas dateng ke dokter soffin…heheheh….jadii tenaaang. soalnya ngasih motivasi dari dalem supaya kita ga usah cemas.
    doakan semoga saya segera pulih yaa mbak…
    salammm…

  4. ummu Mesia

    December 25, 2008 at 1:21 am

    klo Ahmad Thomson bilang -dalam bukunya Sistem Dajjal-, “sistem rumah sakit kafir cenderung dijalankan bak mata rantai produksi. Ketka otomatisasi semakin menjadi-jadi, maka rumah sakit menjadi semakin tidak manusiawi. Karena banyaknya jumlah pasien yang harus ditangani, para dokter terpaksa tidak lagi dapat berhubungan erat dengan pasien. Memperlakukan pasien seperti benda mati lebih mudah dibanding memperlakukannya sebagai manusia. Karena hampir semua pengurus rumah sakit adalah buah pengkondisian universitas, tak urung sebagian besar dari mereka tidak memiliki ilmu medis sejati. Yang konon disebut pengobatan-pengobatan mereka hanyalah penyembuhan sebatas kulit saja. Sebagaimana para profesor senang bermain-man dengan gagsan-gagasan dan tebakan-tebakan teori, para dokter pun beruji-coba dengan obat-obatan. Akhrnya pasien menjadi kelinci percobaan, sebagai alat uji terakhir, setelah tak ada lagi yang dapat dipelajari dari berbagai uji-coba pada binatang. Padahal salah satu obat paling mujarab dari sistem rumah sakit adalah perawatan yang dilakukan dengan kasih sayang oleh para perawatnya.”

Leave a Reply to ummu Mesia Cancel

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.