Seseorang yang kukenal itu sangat menikmati kesendirian dan sepi. Bukan karena kesepian dan tak punya teman, dia hanya menghargai sudutnya yang sepi untuk merengkuh bahagia dari raut wajah orang-orang yang dicintainya yang tersenyum. Orang-orang tercintanya yang hidup dalam sinar, bercahaya, dan tertawa, larut dalam iringan semangat hidup mereka. Dan ia bahagia atas kebahagiaan mereka. Dia merasa bukan siapa-siapa, hanya debu setitik dalam kehidupan siapa.

Suatu hari mata coklat miliknya menyuarakan jelita alam yang dicintainya, tentang pemandangan matahari terbit di kota kelahirannya yang ia kunjungi beberapa hari sebelumnya. Dan ia berkata tentang sesuatu yang hilang, yang baru disadarinya saat itu, sebuah perubahan besar dalam hidupnya. "I wish you were there… Would you be my wife?", tanyanya.

Hingga kini aku telah dua kali jatuh cinta pada pemilik mata coklat yang teduh itu… 

error
“Would you be my wife?”

3 thoughts on ““Would you be my wife?”

  • October 21, 2005 at 11:21 pm
    Permalink

    ups.
    boleh komentar gag nih? bukan ruang pribadi kan? hehehe.. πŸ˜€

    ayo, terima saja! *maksa*

    lita: lha emang diterima kok, ini anaknya udah mo dua πŸ˜€

    Reply
  • November 20, 2005 at 4:17 am
    Permalink

    mas mata coklat, anda sakti sekali!!! πŸ˜€

    NB: yang ini lho:
    Dan ia berkata tentang sesuatu yang hilang, yang baru disadarinya saat itu, sebuah perubahan besar dalam hidupnya. “I wish you were thereÒ€¦ Would you be my wife?”, tanyanya.

    Reply
  • November 20, 2005 at 4:20 am
    Permalink

    maap nambah,
    mbak ini istrinya mas yahya ya
    saya junior mas yahya di ARC, dulu pernah nginep bareng di sekre πŸ˜€
    salam untuk mas yahya ya mba…

    lita: iya betul, dengan istri pak yahya di sini. sudah disampaikan salamnya πŸ™‚

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.