Nenek Cerewet

Soal obat, aku emang seperti nenek cerewet. Ngga abis-abis dan panjaaang ngomongnya. Just to point out how important it is, and how ignorant we all can be to our own health. We should be more educated about health and drugs. Ngga punya latar belakang kedokteran sama sekali bukan alasan. Tak ada kata terlambat untuk memulai langkah mendidik diri sendiri. Dan aku bangga untuk bilang bahwa aku adalah pasien yang cerewet. Aku mengharuskan diri untuk bertanya pada setiap kunjungan ke dokter, sesepele apapun itu kedengarannya. Bahkan seringkali pertanyaannya sudah disiapkan dan didiskusikan dengan suami sejak masih di rumah.

Dokter adalah partner kita dalam usaha menjadi sehat (atau mempertahankan kesehatan). Karena partner, maka kedudukan dokter setara dengan kita sebagai mitra. Dokter bukanlah raja yang titahnya menjadi undang-undang. Kita juga bukan budak yang tak punya hak apapun. Dokter juga bukan tukang obat, jadi kita sebaiknya tidak mempertahankan pola pikir bahwa kita datang ke dokter untuk minta obat. Dokter memang bisa memberi resep, namun kita (sebagaimana sang dokter) juga harus menimang apakah obat yang diresepkan tersebut adalah solusi yang tepat bagi masalah kesehatan yang sedang kita hadapi.

Berperan aktif dan bersikap peduli akan kesehatan kita serta tidak menyerahkan kendali sepenuhnya kepada dokter adalah sikap bijak yang dapat membantu kita untuk mendapatkan pelayanan terbaik. Be sure it’s the best, because we can always say no. Adalah tidak mudah untuk bersedia memikul tanggung jawab, tapi tubuh kita adalah amanah Allah yang sifatnya pribadi.

Bagaimana bisa saya katakan seseorang tidak bertanggung jawab? Begini gambarannya. Misalnya, saya pilek. Untuk mencari tahu apa penyakit saya dan apa yang dapat saya lakukan, saya datang ke dokter. Beliau memeriksa tekanan darah saya, memakai stetoskopnya untuk ditempelkan ke beberapa lokasi tubuh, memeriksa mata dan mulut saya, setelah itu menulis resep. Dialog yang terjadi adalah, "Jadi saya sakit apa, Dok?". "Ibu radang tenggorokan, ini saya beri obat. Harus dihabiskan ya", kata sang dokter. Selesai. Dokter tak bertanya, demikian pula saya. Beberapa hari kemudian, obat habis namun sakit tak berkurang. Datanglah kembali saya ke dokter yang sama. Dengan dugaan bahwa obat yang terdahulu kurang manjur, diberilah saya resep yang baru. Harus dihabiskan. Kali ini gejala sakit berkurang. Dan saya puas. Begitu berlaku setiap kali saya sakit.

Waktu berlalu. Suatu waktu saya kembali sakit, dan kembali pergi ke dokter. Kali ini dokter yang lain. Saya didiagnosa menderita penyakit infeksi bakterial. Dokter ini memberi rujukan untuk melakukan tes laboratorium (adakah anda yang merasa bahwa tes ke lab itu merepotkan? hmm, andai anda tahu yang sebenarnya!). Dari hasil lab, diketahui bahwa benar saya positif terinfeksi bakteri tertentu. Di lembar tersebut tertulis nama serta populasi bakteri yang bersarang di tubuh saya. Tertera pula di sana hasil tes resistensi (kepekaan suatu bakteri terhadap jenis-jenis antibiotik). Menurut dokter tersebut, hasil tes resistensi itu mengherankan, karena begitu banyak antibiotik yang tak mempan terhadap bakteri yang bersangkutan. Dan ini diakibatkan oleh konsumsi antibiotik yang ‘massal’ selama waktu terdahulu. Akhirnya, terapi harus dilakukan dengan antibiotik kuat.

Apa dampak pemakaian antibiotik kuat ini? Saya dalam keadaan sangat lemah. Ibarat kemoterapi yang menyerang sel kanker DAN sel sehat/normal, antibiotik kuat (broad spectrum/spektrum luas) juga mematikan biota menguntungkan dalam tubuh. Flora di vagina, bakteri pembantu pencernaan dan pembentuk vitamin K di usus, serta renik di mulut. All gone. Yang berarti pada proses penyembuhan ini saya dalam keadaan sangat rapuh. Jadi, siapa yang salah kalau sudah begini?

Saya katakan: dokter dan saya sendiri! Saya seharusnya lebih banyak bertanya. Dan dokter seharusnya bersikap ketat dalam memberikan terapi antibiotik. Apa saya harus menebus resep dan meminum obat? Itu adalah hak prerogatif saya. Saya berhak menolak atas pertimbangan pribadi, yang harus didasarkan pada kebijakan dan pengetahuan saya. Jika pengetahuan saya terbatas, saya dapat memilih untuk percaya, atau untuk bertanya pada dokter lain (second opinion). Tentu saja kepercayaan seharusnya tidak buta, tapi itu hak anda untuk menyerahkan kendali kepada dokter atau memilih untuk memegang kendali bersama dokter dengan berusaha mencari tahu masalah dan solusinya.

Saya tidak anti terhadap antibiotik. Tapi sedikit pengetahuan saya di bidang biokimia serta berbongkah-bongkah nasihat dari dr. Wati tercinta memberi pencerahan kepada saya tentang pentingnya cerewet terhadap konsumsi antibiotik. Sebagai langkah ekstrim, saya batal datang ke dokter anak yang direkomendasikan ibu saya ‘hanya’ karena dokter tersebut memberi antibiotik kuat untuk adik saya yang sedang radang tenggorokan karena virus (sok tahu ya? "Darimana tahu itu virus?" Karena kalau karena bakteri, selain demam dan kerongkongannya sakit, dia akan punya lendir di tonsilnya, benjolan di leher, muntah, serta mungkin diare! Sedangkan adik saya ini masih sanggup main!).

Artikel lengkap tentang bagaimana berkomunikasi dengan dokter bisa dilihat di Tips for Talking to Your Doctor

1 Comment

  1. hericz

    December 20, 2005 at 2:13 am

    duh, jadi inget gigiku gripis lagi nih. harus segera ke dokter gigi

    lita: daptarnya bukan ke sini pak… sono ke suster di seberang! :p

Leave a Reply to hericz Cancel

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.