Imunisasi kedua

Habis imunisasi BCG + Hepatitis B II hari Kamis lalu, Daud jadi lebih banyak bobo’nya. Biasanya setelah Dhuha sulit sekali tidur lagi, malah kadang sampai jam 4 sore dia baru bobo’ sebentar. Agak mengherankan juga, walaupun… alhamdulillaaaaahhhh… Hehehe. Memang badannya sedikit hangat (pernyataan yang tak boleh ditiru! seharusnya jelas panas-nya itu berapa derajat. perbedaan temperaturnya tidak kentara ya termometer tak digunakan :p) tapi Daud tidak gelisah luar biasa sehingga perlu ditenangkan pakai analgesik-antipiretik. Pas imunisasinya sih dia nangis, kenceng banget! Dan dalam perjalanan pulang jilbabku dia genggam kuat-kuat, mungkin takut diturunin dari gendongan trus ditaro di meja periksa dokter dan disuntik lagi emoticon Lumayan juga kan disuntik 2 kali! Di tangan dan di kaki sekaligus.

Kok 2 kali? Hmm, iya ini memang permintaan kami sebagai orangtuanya supaya Daud diimunisasi secara simultan (maksudnya mengambil rentang waktu minimum antar injeksi sehingga bisa dapat 2 macam vaksin sekaligus -definisi aslinya bukan begini, ini hanya supaya lebih mudah kumengerti aja emoticon). Supaya tak harus sering bolak-balik ke RS (bisa 2 minggu sekali), jadi biaya yang dikeluarkan bisa dihemat dan minimasi penularan penyakit dari anak-anak lain yang juga sedang mengantri dokter. Namanya juga Rumah Sakit, banyak penyakit tersedia di sana toh? Hemat? Lha iya, hanya periksa saja sudah 95 ribu *glek*, belum vaksinnya.

Mengapa tidak ke dokter umum atau bidan saja? Hmm, ini lebih ke kenyamanan pribadi saja sih. Tugas imunisasi memang bukan semata kewajiban (dan hak emoticon) dokter anak. Hanya saja, kalau ke dokter anak yang sudah menangani Daud sejak lahir kan catatan kesehatan (medical record)-nya lengkap jadi kalau-kalau ada sesuatu yang tidak beres di Daud (dan kami tidak menyadarinya) antisipasinya lebih cepat dan tepat. Lagipula, rasanya sudah sreg dengan dokter anak yang ini. Selama Daud sehat ini, sang dokter tidak berusaha mengalihkan usaha ASI eksklusif kami ke konsumsi susu kaleng (percaya atau tidak, tidak sedikit dokter yang seperti ini!) atau berusaha memberi multivitamin untuk ibunya dengan alasan apapun (sekali lagi, ada saja dokter yang ‘ingin’ meresepkan sesuatu entah itu pil DHA atau lacto-B atau apapun). *Makasih ya, Dok!*

Mungkin karena pertumbuhan Daud yang pesat (naik 2 kg dan 5 cm dalam 1 bulan) sehingga dokternya tidak ‘terinspirasi’ memberi resep. Mungkin pula tipe dokternya memang seperti yang kami mau. Ya tidak sempurna sih, buktinya beliau pernah memberi 2 lembar resep untuk adikku yang hanya pilek-batuk (bayangin dong berapa baris obat yang bisa ditulis dalam 2 lembar resep, sodara-sodara! emoticon). Tapi mudah-mudahan kami bisa tetap rasional dan mendahulukan home treatment sebelum tergopoh-gopoh datang ke dokter. Dan mudah-mudahan pula kami cukup pengetahuan untuk bisa berdiskusi dengan dokter tentang kesehatan anak dan penanganan penyakit. Selain mendahulukan kenyamanan anak dan kenyamanan kantong juga akan mencegah penggunaan obat yang tidak rasional oleh dokter akibat orang tua yang kurang sabar (alias ingin anaknya sembuh dengan segera setelah pulang dari dokter dan minum obat). Semogaaaa… bisa jadi orangtua yang sabar, bijak dan cerdas, yang mau untuk belajar dari mana dan siapa saja. Amiin.

2 Comments

  1. kangmasanom

    January 2, 2006 at 4:40 am

    tahun 2006 masih imunisasi dak

    lita: ya masih laaaahhhhh….

  2. dokterearekcilik

    August 9, 2007 at 2:47 pm

    Bidan praktek swasta punya lisensi untuk melahirkan tapi lisesi untuk ngobati dan imunisasi gak ada, kecuali di puskesmas atau daerah terpencil. lita bisa liat jadwal resmi imunisasi (ada di blog astri, di blog ku malah belum …:D ) supaya bisa diskusi dengan dokter anak tentang jadwal imunisasi, jadwal imunisasi bukan hal yang kaku, bisa fleksibel kok… Btw untuk Dhuha…selamat imunisasi….

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.