Gosip tentang Pospak

Belakangan ini di Jakarta (terutama di daerah tempat tinggalku) sering hujan. Kalau punya bayi gini, hujan identik dengan cucian seabrek akibat seringnya Daud pipis. Belum sampai mandi sore, persediaan perlak (apa ya bahasa resminya?) sudah tinggal 2 lembar. Kalau sudah begini, solusinya ya pakai pospak alias popok sekali pakai.

Banyak orang (terutama orangtua jaman nenekku), tak setuju dengan penggunaan pospak untuk bayi. Alasan paling populer biasanya adalah "Nanti jalannya mengangkang". Tapi benarkah begitu? Ibrahim, yang sudah fasih lari menghambur ke jalanan mendahului mbahnya -yang panik emoticon-, tidak mengalami masalah jalan mengangkang ini. Dulu Ibrahim kalau malam juga dipakaikan pospak. Alasannya sederhana: supaya ibunya bisa tidur.

Bukan berarti aku ‘jadi ibu tapi ngga mau susah’. Coba, kalau si ibu kurang tidur karena ketika malam terbangun minimal 1 jam sekali, sehingga keesokan harinya lesu. Kalau sudah begini, kondisi badan biasanya tidak prima dan berpengaruh terhadap pasokan ASI. Dan kalau ASI tak melimpah padahal si anak ‘demand‘nya tinggi, dia bisa ngamuk-ngamuk seharian. Buntutnya, semua repot. Daripada kejadian begini berulang-ulang dan membuatku sering berada dalam ‘tegangan tinggi’, lebih baik keluar uang ekstra untuk 1 popok setiap malam (pendapatku, lho!).

Tentang perjuangan ibu-ibu jaman dulu yang menjalani ‘gerilya’ tiap malam, tanpa mengurangi rasa hormat, ya mbok diikhlaskan saja tho. Jaman kan boleh berubah dan teknologi boleh maju sehingga kemudahan lebih banyak. Tak perlu dengki pada generasi sekarang sehingga merasa kami-kami yang ibu muda juga ‘harus’ ikut ‘berjuang’ emoticon. Sebenarnya kami punya masalah yang lebih besar dibandingkan ibu-ibu dulu; hadirnya televisi dan internet. Hola! Here comes the magic box! Sekedar anda tahu saja, adik saya yang sekarang sudah TK sering ‘berantem’ di pagi dan sore hari dengan ibunya hanya karena SpongeBob (dan kartun lain) yang hadir sebelum waktunya mandi.

Eh, ngelantur dikit. Balik lagi. Memang ada beberapa gosip (ya rumor deh) yang beredar mengenai pospak ini. Misalnya; menyebabkan impoten, kebiasaan ngompol berlanjut, mengganggu pertumbuhan tulang pinggul, mengganggu pertumbuhan kaki, dan menyebabkan ruam (rash atawa lecet/iritasi). Penjelasan mengenai beberapa hal ini diberikan oleh dr. Soenanto Roewijoko, Sp.A.(k), dari Fakultas Kedokteran UI dalam artikel berjudul PLUS MINUS PENGGUNAAN POPOK SEKALI PAKAI di tabloid Nakita.

Intinya;

  1. Penggunaan pospak yang terlalu lama memang bisa menyebabkan suhu panas di sekitar alat kelamin. Demikian juga pemakaian celana yang ketat. Akibatnya, produksi sperma tidak optimal dan sel sperma pun tidak bisa hidup dalam suasana seperti itu. Namun, hal tersebut hanya terjadi jika usianya sudah melewati masa pubertas, bukan sebelumnya, apalagi bayi. Dan inipun tidak ada hubungannya dengan impoten (gangguan fungsi ereksi) karena impoten tidak sama dengan gangguan reproduksi sperma.
  2. Tidak ada hubungan antara pospak dan kebiasaan anak mengompol. Anggapan ini ada karena anak yang memakai pospak umumnya merasa aman jika buang air. Kemampuan setiap anak tidak sama dan pola pengajaran orangtua juga berbeda [oh yes trust me, toilet training Ibrahim tak terganggu kok].
  3. Pemakaian pospak tidak mengganggu pertumbuhan tulang pinggul. Dengan pospak, bayi bisa lebih leluasa bergerak. Apalagi desainnya bisa dipilih yang elastis. Dengan demikian kegiatan berjalan dan pertumbuhan tulang pinggul tidak terganggu.
  4. Ruam popok merupakan iritasi yang disebabkan dekomposisi air seni. Pemakaian pospak di atas 12 jam dapat (tapi tidak selalu) menyebabkan ruam popok. Selain urin, tinja pun bisa menyebabkan iritasi. Namun pospak masa kini umumnya tetap kering walau telah penuh (udah kucoba pegang kok emoticon ). Tentu saja kalau bayi pup pospaknya harus langsung diganti. Selain itu ruam mungkin juga disebabkan oleh bahan pospak, dan kalau ini terjadi solusinya adalah ganti merk alias beli yang lain 🙂
  5. Sekedar tambahan, krim tertentu yang -kata produsennya- dimaksudkan untuk mencegah ruam popok justru bisa menyebabkan ruam dan iritasi untuk beberapa bayi yang kulitnya sensitif atau alergi terhadap bahan aktif krim tersebut. Jadi, menurut saya, cara pencegahan lebih aman agar lipatan kulit tidak lecet karena lembab adalah mengolesinya dengan baby oil [pengalaman pribadi lagi nih].
  6. Anggapan ‘jalan mengangkang’ mungkin timbul akibat melihat tepi pospak yang sangat kaku, apalagi jika dipakai secara terus-menerus. Hanya saja hal ini belum pernah dibuktikan secara ilmiah. Selain itu, kalaupun terdapat kasus yang demikian, tak perlu khawatir karena biasanya akan segera pulih dalam waktu yang cukup cepat. Selain itu, cara jalan bayi dengan orang dewasa memang berbeda. Bayi masih dalam tahap pertumbuhan tulang sehingga tak jarang cara berjalannya masih kurang sempurna. Baru saat menginjak umur 2 tahun (yang sudah dapat di’lepas’ dari pospak), ia bisa berjalan dengan sempurna.

So, parents, don’t worry. Pakaikan popok untuk bayi anda jika memang merasa perlu. Dan jika lebih suka menggunakan popok kain pun tak apa-apa. Mana saja yang nyaman untuk si kecil.

4 Comments

  1. yanti

    January 11, 2006 at 10:44 am

    Hehehe.. setuju nih sama Lita. banyak ibu2 jaman nenek kita (untuknya nyokapku ga pernah ribut soal ini :D) yg ga setuju bayi dipakein pospak. Mbok ya o, ikhlasin aja klo ibu2 jaman sekarang memang bisa menikmati kemudahan dalam hal ini. Tapi bukan berarti jaman kita skrg semuanya serba mudah. Tantangan jaman juga makin banyak kok ;).

    Soal ruam, pengalamanku sih, biasanya muncul pas anak masih umur beberapa hari. kemudian hilang.. Terus muncul lagi pas si anak udah makin gede dan kandungan amoniak (?) dalam pipisnya makin banyak (pokoknya pas pipisna makin pesing ajah :D).

  2. Aswad

    January 11, 2006 at 2:36 pm

    Wah…repot ya jadi ibu? Keep fight….

  3. wong_nyante

    January 12, 2006 at 11:22 pm

    Aku nggak pengen jadi ibu !!!
    Apalagi aku terlahir sebagai Lelaki !!!

  4. DarxBlacxManiax » Blog Archive » Oh children….I’m so dizzy

    January 14, 2006 at 12:35 pm

    […] Bahkan dari mulai lahir, anak sudah menyusahkan ibunya. Penderitaan saat melahirkan itu luar biasa loh. Itu kata ibu saya. Bahkan wanita yang meninggal saat melahirkan itu mati syahid loh. Dari situ belum berakhir. Masih harus selalu stand by mengayomi, ganti popok, memandikan, menyuapi, mendiamkan saat nangis, membantu buang air, wah ga ada deh cutinya. Buat para ibu, salut deh..Eh, trus ayah ngapain aja? Ayah juga ngga diem aja. Harus bisa bantu si Ibu. Ganti popok, menyuapi, menghibur si bayi, minimal pake nang-ning-ning-nang-nung. […]

Leave a Reply to yanti Cancel

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.