Tes Widal untuk Diagnosa Tifus: Menipu!

Aku menemukan artikel menarik di website prof. Iwan Darmansjah. Sebenarnya aku sudah tahu tentang tes Widal ini dari dr. Wati, tapi karena belum ada pembahasan mendetil ya aku tak berani bilang-bilang.
Pembahasan mengenai tifus dan gejalanya bukan hal baru, tapi mungkin perkara tes Widal (yang umum digunakan untuk mengkonfirmasi tifus/bukan) ini semakin meresahkan beliau sehingga dibuatlah artikel khusus ini.

Reaksi Widal merupakan tes imunitas tubuh yang ditimbulkan oleh ‘jejak’ masuknya Salmonella typhi / paratyphi, yaitu bakteri yang terdapat di minuman dan makanan yang terkontaminasi oleh tinja orang yang sakit tifus. Jakarta dan Indonesia merupakan bendungan raksasa bakteri Salmonella dan kuman lainnya -akibat sistem sanitasi yang kurang baik. Semua manusia di Indonesia pasti (!! d’oh…) pernah kemasukan Salmonella melalui cara ini.

Kok bisa? Ya bisa saja jika kita kontak dengan air mentah. Misalnya ketika berenang dan menyikat gigi  (kurasa sebagian besar kita tidak menyikat gigi dengan air matang ya? kecuali anak-anak kecil yang belum fasih berkumur, mungkin..). Bila kebetulan jumlah kuman yang tertelan cukup besar, mungkin akan timbul penyakit tifus. Mungkin lho ya! Karena jika sistem imunitas tubuh kita cukup kuat untuk melawan, maka tifus tidak akan menyerang.

Perlu dicatat bahwa tidak semua demam adalah tifus. Tifus perlu dicurigai bila demam berlanjut sedikitnya 6-7 hari. Demam akibat tifus pada hari-hari permulaan infeksi terjadi hanya ringan, naik-turun (tidak konstan), dan hanya setelah 5-7 hari akan tinggi menetap, disertai badan pegal dan sakit kepala, serta kadang-kadang mual dan diare ringan. Diagnosa tifus bisa dicurigai setelah demam sekitar seminggu ditambah gejala-gejala tersebut (jadi kalau tidak ada gejala itu ya belum tentu tifus, gituh!).

Pemeriksaan laboratorium untuk konfirmasi kecurigaan -akan tifus- ialah kultur darah (kalo ngga salah namanya Gal culture, browse sendiri yah :p), yang dilakukan pada saat demam tinggi -yang merupakan pertanda bahwa bakteri sedang menyebar dalam darah (sehingga lebih mudah dikultur). Kultur tidak bisa dilakukan pada hari-hari permulaan demam karena cenderung masih negatif. Kita harus menunggu hingga demam sudah tinggi dan konstan. Sayangnya hasil kultur untuk kepastian diagnosanya baru diperoleh setelah 4-6 hari. Namun pengobatan sudah bisa dilakukan atas dasar penilaian klinis sambil menunggu hasil kultur (tentu saja penilaian klinis ini tergantung pengalaman dan kebijakan sang dokter. Kalau anda kurang yakin, selalu ada pilihan untuk 2nd opinion ke dokter lain).

Test Widal tidak bisa dipercayai karena banyak hasil tes yang palsu positif maupun palsu negatif. Tes Widal hanya akan berguna untuk tindaklanjut, terutama jaman dulu ketika belum ada antibiotik sehingga tifus bisa berlangsung 1 bulan atau lebih. Tes ini berfungsi untuk melihat apakah titer (antibodi)nya naik selama penyakit tersebut. Tes ini tidak berguna lagi karena antibiotik yang ampuh sudah tersedia dan akan menyembuhkan tifus dalam 7-10 hari sehingga tidak perlu tindaklanjut.

Tingginya titer (antibodi) juga sangat individual dan tergantung kemampuan tubuh kita membuat antibodi. Misalnya, seorang pasien lelaki muda selama lebih dari 6 bulan (tanpa demam) diberi antibiotik berganti-ganti oleh dokternya hanya karena titer Widalnya sangat tinggi (sekitar 1/8000) dan tidak mau turun. Tentu hal ini mubazir karena si pasien belum tentu tifus (bahkan belum tentu sakit)! Hari gini masih ada dokter yang beginian pula! duh kasian orang Indonesia yah…

Oh ya, ngomong-ngomong, prof. Iwan berpesan supaya anda (yang merasa sakit dan didiagnosa tifus oleh dokter) mencetak dan menyerahkan artikel tersebut apabila dokter menyuruh anda untuk periksa Widal.

Keep smart and wise, people!

52 Comments

  1. yanti

    January 13, 2006 at 6:01 pm

    Katanya sih, satu yg agak khas pada demam typhoid dan penyakit2 infeksi bakteri lainnya, biasanya kadar leukosit dalam darah naik di atas normal.

    Gal kultur itu yg direaksikan dalam cairan empedu ya? Ini yang tesnya di Indonesia masih makan waktu lama itu ya jeng?

    lita: kurang tau mbak, bisa jadi itu singkatan dari galaktosa :p. leukosit akan meningkat pada infeksi oleh apapun, termasuk virus dan jamur (gak cuma infeksi bakteri), jadi gak bisa dijadikan patokan juga

    1. Dexter

      January 2, 2008 at 11:34 am

      hanya ingin menambahkan…
      kalau di bilang leukosit meningkat karena Tifus / Typhoid Fever…
      itu ada benar nya sih
      ayah saya pada awalnya di diagnosa infeksi lambung..karena nyeri yang teramat sangat pada perutnya, disertai rasa pusing dan demam tinggi.
      setelah datang hasil lab…
      dokter melihat hasilnya Leukosit di atas normal 10.5 (katanya normalnya 5)
      lalu trombosit nya 61 (terkena juga DBD >> yang mana trombosit normal 150-an)
      di hasil lab juga dikatakan positif typhoid fever (di sinilah awal mula penyakit nya berawal >> bakteri DBD mungkin menyerang saat kondisi imunitas tubuh sudah lemah), nyeri pada daerah perut (infeksi lambung atau usus) dan demam ini memang di rasakan oleh ayah saya.
      So berhati – hatilah untuk memilih makanan dan minuman yang masuk ke tubuh kita…

      Oh iya ada ngga yang dapat menjelaskan penyebab dan dampak leukosit meningkat ???

      1. Lita

        January 2, 2008 at 12:29 pm

        Mas, kalau ada infeksi maka leukosit akan meningkat. Penyebabnya virus atau bakteri atau lainnya, jumlah leukosit tetap akan naik.
        Jadi logikanya, kalau tifus, leukosit meningkat. Tapi tidak berlaku ‘kalau leukosit meningkat maka itu tifus’.

        Pertanyaannya sudah dijawab, ya.
        Koreksi, DBD bukan bakteri tapi virus 🙂

      2. fanniel

        August 9, 2008 at 2:33 pm

        oh gosh…menurut dosen gw yang spesialis anak klo yang namanya demam typhoid itu leukopeni(lekosit malah turun)…bukan lekositosis…..so, diagnosis siapa dunks yang bener…

  2. naga

    January 13, 2006 at 8:12 pm

    Sekitar 8 th yg lalu aku kena tifus di jkt. Tapi pas musim demam berdarah juga. Wkt itu aku belum tahu kalo kena tifus cuma demam dan pusing2 aja. Eh keluar bintik2 merah pula…curiganya demam berdarah atau tifus nih?
    Ngga sampe rawat inep, cuma 10 hari di rumah, pake akupuntur juga ketika demam menyerang…
    mengenai tes widal itu, aku belum pernah denger sebelumnya…

    lita: mm, mirip.. aku juga pernah. awalnya diduga DB, tapi ternyata tifus. aku jg baru denger ttg widal ini pas gabung milis sehat, pas diopname (waktu tifus) malah gak ‘denger’ apa2 :p

  3. danu

    January 13, 2006 at 9:57 pm

    trus tes apa yang afdhal menurut bu lita? apakah prof iwan tidak memberikan tes apa yang sebaiknya dilakukan?

    lita: lha ya kultur darah itu… sudah disebut toh? 🙂

  4. hericz

    January 14, 2006 at 2:08 am

    JADI JADI?//

    TIDAAAAAAAK..

  5. Indra

    January 14, 2006 at 2:28 pm

    Oooooooooooooooooooh…. gitu… informasi bermanfaat… *manggut-manggut*

  6. topan

    January 16, 2006 at 8:37 am

    tapi yg perlu kita waspadai adalah diagnosa TIPUS dari dokter, karena ada kemungkinan bukan Tifus tapi DB, anak temen gw didiagnosa dokter tipus, untung dia tdk percaya, dia tes dilab parameter DB ternyata DB, ada temen didiagnosa Tifus, ternyata DB, 1 minggu kemudian Meninggal.Piye Jal ?

    lita: ampun pak, jangan marah sama saya.. saya jgn digebukiiiinnn!! saya gak tau apa-apa kecuali gejalanya emang miriiippp…. kecuali bintik-bintik di kulit (yang memang tak selalu kelihatan)

  7. suti

    April 22, 2006 at 3:07 pm

    jeng lita,diet yang paling baik buat penderita tipoid ya?? trus apakah pasti jika penderita makan diitn yang ditentukan apa pasti akan sembuh??? pengaruhnya brapa persen ya….

  8. acha

    November 8, 2006 at 6:48 am

    yoi thx bu, soalnya semester kemarin saya bolak-balik tes widal dan hasilnya selalu positif tifus. Padahal ngga ada keluhan.

    Lumayan tuh. klo ngga ke dokter mungkin dah bisa beli ipod.

    wakakakka

    mmap jadi curhat.

  9. lorddhika

    January 25, 2007 at 5:46 pm

    yah sedikit aja dari saya. masalah widal itu sampai sekarang kita masih gunakan tapi bukan sebagai patokan. sebagai alat bantu diagnosa saja. diagnosa pasti tetap ditegakkan dari garis-garis deduksi metode diagnosa. kemudian gall culture itu bukan galaktosa kutltur namun agar kultur yg mengandung empedu. dan itu memang alat diagnosa laboratorik pasti memang, namun hasil kultur dirasa tidak efisien di jaman sekarang. jadi memang diagnosa tetap harus ditegakkan oleh dokter dan bukan oleh alat bantu diagnosis.

  10. Lita

    January 26, 2007 at 10:27 pm

    LordDhika
    Terimakasih atas koreksinya, mas Dhika 🙂

    Soal tidak efisien, tentu tidak dapat menjadi pembenaran untuk melakukan tes yang hasilnya dapat ‘misleading’, seperti yang prof. Iwan jelaskan.

  11. oni andriani

    January 29, 2007 at 10:11 am

    Anak saya sudah 2 hr panas, tapi sudah ke dokter n dokter bilang hanya infeksi usus. Tapi bila dalam 3 hr panas tidak turun diminta untuk tes darah. test apa yang sebaiknya saya minta ke dokter agar saya yakin anak saya sakit apa?
    Kalau saya baca di artikel ciri2 tifus, kurang lebih hampir sama apa yang dikeluhkan anak saya. terima kasih, mohon info.

  12. Lita

    January 29, 2007 at 10:42 am

    Oni Andriani
    Seperti mas Dhika bilang, tes itu kan penunjang diagnosa ya, pak/bu. Jadi urun rembug saya, tanyakan kepada dokternya apa yang dicurigai sebagai penyebab infeksi dan tes apa yang harus diambil.
    Bukan bapak/ibu yang memilih jenis tes, tapi tes dipilih dokter berdasarkan dugaan untuk memperkuat diagnosa.

    Nanti hasil tes ini juga akan digunakan sebagai alat bantu untuk memilihkan pengobatan yang sesuai. Misalnya dengan antibiotik atau cukup dengan istirahat dan gizi yang memadai.

    Semoga membantu. Semoga kondisi anaknya cepat membaik, ya.

  13. oni andriani

    January 29, 2007 at 11:13 am

    Terima kasih ya mba untuk jawabannya. Saya seorang ibu dari putra berumur 4,5 tahun. Sedikit parno juga thd dokter, takut si dokter ngambil keputusan tanpa diagnosa yang benar.
    Dan terima kasih untuk doanya.

  14. Lita

    January 29, 2007 at 11:24 am

    Bu Oni
    Hehehe… ternyata masih online, bu.

    Kalau ibu ragu, tanya saja sampai ibu puas. Diagnosanya apa, apa saja penanda yang dipakai untuk penegakan diagnosa itu (misalnya kalau demam berapa hari, keluhan yang dirasakan, dll), tes apa yang diperlukan, apa yang dites (darah? tinja? urin?), hasilnya berapa lama, penanganannya bagaimana (antibiotika apa yang dipilih? apakah membutuhkan tes untuk menentukannya? mungkinkah memilih antibiotika yang paling ringan?), berapa lama pengobatannya, apa saja pantangannya, dll.

    Saya urun rembug lagi nih.
    Ibu catat saja semua pertanyaan yang ingin ibu tahu jawabannya. Nanti saat kontrol ke dokter, tanyakan semuanya.
    Tentu menunggu dokter selesai menjelaskan, supaya beliau menuntaskan dulu pekerjaannya dan tidak merasa di’langkahi’ oleh pasien. Terkadang kalau dokter kadung merasa pasiennya sok tahu, dia jadi lebih galak dan malas menjawab.

    Kalau pasiennya tidak membludak, tidak dalam keadaan capek (misalnya praktik malam), dan suasana hatinya sedang baik, biasanya dokter mau menjawab pertanyaan kita sedetil yang diperlukan kok, bu. Pastinya kalau ditanyakan dengan cara baik-baik, seperti kita juga tidak ingin dimarah-marahi dokter 🙂

    Paranoid kalo dikit aja gak papa kok, asal jangan berlebihan hihihi… Semoga sukses di kunjungan berikutnya ya, bu Oni.

  15. djayus

    October 20, 2007 at 7:48 am

    for all audience…
    mau kasih komen aja secara umum, keluhan yang dirasakan pada penderita DB, Tifoid, Malaria, Leptospira, Chikungunya, radang tenggorokan….semuanya hampir sama pada awalnya, untuk membedakannya secara teori dapat dibaca di artikel atau buku-buku kedokteran. namun pada prakteknya, hal ini membutuhkan pengalaman ..bahkan intuisi yang kuat, karena lebih sering ditemukan tidak sesuai dengan teori akibat adanya variabilitas antar ras, antar populasi, demografi, pola konsumsi, anatomi, genetika dan lain-lain. di buku-buku teori dijelaskan panjang lebar tentang penyakit-penyakit tersebut, namun sample yang dijadikan dasar diagnosis atau pengobatan tidak sama dengan yang ada di daerah belahan dunia lain… so pemecahan masalahnya adalah, cobalah untuk mempercayai dokter anda, karena analisa dokter tersebut membutuhkan tahapan-tahapan dari perkembangan penyakit si pasien.. kalau ada pasien baru 1 kali berobat mengharapkan langsung sembuh dan ternyata tidak sembuh dan langsung pindah dokter…kondisi kayak gini susah kita tentukan dokter mana yang sudah benar memberikan terapi, dokter yang sebelumnya atau dokter yang berikutnya, karena bisa saja saat berobat ke dokter ke-2 atau ke-3 penyakitnya sebenarnya sudah mulai membaik, jadi kesan yang timbul adalah dokter terakhir yang berjasa.. padahal itu adalah outcome dari pengobatan dokter pertama….ini juga sering terjadi pada pasien kanker yang diterapi dengan radioterapi n kemoterapi, kemudian pergi ke dukun dikatakan membaik, padahal saat pergi ke dukun..kondisi pasien tersebut memang sudah membaik akibat terapi sebelumnya, jadi bukan karena si dukun…believe it or not, up to you guys…

  16. Yana

    November 12, 2007 at 2:25 pm

    Bc pny mb’lita jd inget,kmrn ak ngrasa mual muntah..lidah kotor.trs cek widal trnyt positif.tp ga da demam lho.apa lidah kotor slh st cr tipoid?

  17. Ika

    December 27, 2007 at 1:36 am

    Saya jg br 2minggu yg lalu tes lab n dpt widal positif n saya dikasi obt tmen saya yg dokter fenicol n sdh saya minum 4hr bdn sdh enak. Sblmnya panas naik turun n sakit kepala luar biasa. Cm yg heran ga mual n ga ada mslh sm perut. Tp tetep d blg tifus. Minum obt n mkn bubur. Jg minum paracetamol. Jd bingung tifus pa ga sih. Tp kok ga panas n sakit kepala lg. Bdn jg enak ga lemes. Bingung ktnya tifus ada infeksi di usus tp kok perut ga mslh. Eh skrg msh ga blh mkn pedas n asam. Tp bener jg kepedasan dikit perut rasanya aneh, meski ga sakit n mual. Pdhl dulu n pas sakit ga pernah brmslh sm pedes. Bs bantu jelasin ga? Thx

  18. intan

    December 29, 2007 at 5:22 pm

    artikel bagus 🙂

  19. mas_yoyo

    April 7, 2008 at 2:02 pm

    Mungkin tes-tes semacam Widal tidak harus dijadikan pedoman, menurut Saya : Anamnesa dan Fisik Diagnostik itu yang utama.. dan dibantu pemeriksaan penunjang (lab or Rontgen) itu lebih baik.

  20. fera

    September 28, 2008 at 8:44 pm

    2 hari yang lalu saya tes widal dan hasilnya positif tifus. sebelumnya saya sudah merasakan demam tinggi dan pusing ngak karuan hampir 3 hari, namun berhubung panas dan pusing2nya semakin ringan, saya ngak pergi ke dokter untuk periksa diri, melainkan lanjuti kegiatan sehari-hari seperti biasa. setelah lebih 2 minggu, pusing2 yang saya alami ngak sembuh2 dan saya juga susah tidur pulas. biasanya pikiran saya masih bekerja walaupun badan saya tidur.akhirnya saya putusin pergi ke dokter.dokter saranin untuk tes widal karena dari diagnosanya saya kemungkinan tifus.setelah hasilnya positif saya diminta istirahat.pertanyaan saya:saya merasa badan saya ngak terlalu lemah,pusing2 juga hanya sedikit.saya bosan tiduran, karena ngak bisa tidur.badan saya istirahat tapi pikiran saya tetap bekerja.apakah saya tetap melanjutkan aktivitas seperti semula.thanks

  21. rudi bram

    October 31, 2008 at 7:31 am

    infeksi oleh kuman salmonella typhi (s. typhi) dalam tubuh manusia menyebabkan penyakit demam tifoid, dan bila tdk diobati dpt menyebabkan kematian. jumlah kasus tercatat di depkes pd th 2005 sebanyak 25.270 kasus, menunjukkan sulit diselesaikan meskipun kuman penyebab tifoid tlh berhsl diidentifikasi. diagnosa dini demam tifoid sangat bermanfaat agar dpt dihindari terjadi kompilasi. akan ttp diagnosis demam tifoid sukar ditegakkan hanya atas dasar gambaran klinis.
    Ada beberapa parameter/metode deteksi infeksi s. typhi:
    A. Deteksi ANTIGEN (kuman/bakteri)
    1. Kultur spesimen darah, pengambilan spesimen darah dilakukan 2 kali dg beda waktu kurang dari 1 jam. Penting:pengambilan sample darah dilakukan pd minggu I demam. Kultur darah merupakan pemeriksaan baku emas ttp harganya mahal, butuh waktu lama shg memperlambat penanganan.
    2. kultur spesimen tinja, sample tinja diambil pd minggu ke 2-3 demam. gunakan tinja yg segar & tdk tercampur urin ditampung dlm wadah steril & sgra diproses kurang dari 2 jam.
    3. kultur spesimen urin, spesimen urin dilakukan pd minggu ke 2-3 sejak timbul demam. urin yang diperlukan biasanya urin porsi tengah skitar 20ml. kerjakan kurang dari 2 jam, bila tdk simpan pada suhu 4″C & diproses waktu kurang dari 18 jam.
    4. PCR, deteksi DNA dari kuman, sample:darah, tinja, urin. sensitifitas PCR lebih tinggi namun keterbatasannya sangat mahal dan rumit.
    5. Immunokromatografi, prinsip tes: AIM TYPHAR tripleline rapid mendeteksi LPS bakteri typhi dan para typhi, sample : serum dan feses, waktu tes 20 menit, waktu pengambilan sample : serum–> awal penyakit (minggu I) feses–> minggu II, kelebihan : spesifik mendeteksi antigen salmonella, baik untuk deteksi dini tyfoid tanpa adanya pengaruh anti biotik atau endemisitas suatu wilayah, dpt deteksi typhi & paratyphi

    B. Deteksi antibody
    1. Teknik ELISA, teknik ini dpt menentukan antibodi IgM maupun IgG spesifik pd pasien demam tifoid. Antigen yg digunakan purified LPS. sample yg digunakan serum pd minggu 2 demam. sensitivitas & spesifisitas tinggi hanya tdk praktis butuh mesin pembaca.
    2. Uji Widal, prinsip tes Aglutinasi deteksi antibodi IgG dan IgM, sample serum, hasil tes semi-kuantitatif, waktu tes 1 menit, waktu pengambilan sample minggu ke 2 setelah terbentuk antibodi. kelebihan : dpt deteksi fase akut & konvalesen. kelemahan : tidak dapat MEMBEDAKAN fase akut & konvalesen, spesifisitas kurang dan perbedaan variasi hasil tiap lab.
    3. Immunokromatografi, dpt deteksi IgG dan IgM tergantung monoklonal yg dicoating dlm membram. waktu tes 15 menit,tes ini bermakna menunjang diagnosa infeksi akut. jika sample diambil pd fase inkubasi (minggu I sakit) dpt dimungkinkan hsl negatif palsu krn blm terbentuknya antibodi. keterbatasan : tdk dpt mendeteksi infeksi s. paratyphi.
    4. Latex indikator, contoh TUBEX TF, menggunakan prinsip partikel magnetik yg dpt memisahkan partikel latex indikator, sample serum, waktu tes 10 menit, hasil tes semi-kuantitatif, waktu pengambilan sample:minggu ke 2 stlh terbentuk antibodi. kelemahan : tdk dpt mendeteksi infeksi s. typhi

    dari data tsb. dpt dipastikan beberapa faktor hasil yg berbeda-beda penafsirannya, shg kata akhirnya: pastikan mengunjungi dokter yg memiliki intuisi mendalam dari segi teori dan praktek yg bs menentukan diagnosa fase infeksi : inkubasi, invasi, periode status dan evolusi kuman. Gunakan dan minta kpd petugas laboratorium dengan menggunakan tes diagnostik yang teruji baik. Tes antigen/kuman: minggu ke 1 demam dengan tes AIM TYPHAR rapid, dan untuk tes antibodi, demam minggu ke 2 dengan tes uji widal AIM Salmonella / AIM salmonella IgM rapid tes… dijamin hasil AKURAT..selamat mencoba *smoga lekas sembuh
    >

  22. Hati2 panas pd anak

    June 18, 2009 at 3:03 pm

    Hati2 trtama pd anak.lebih dr 3 panas.segera ke dr.cek darah.pengalaman dg anakku.hasil tes tifoid tinggi thrombosit rendah.bs kemgkinan db or tifus or combain keduanya.tes darah next thrombosit normal.mk diagnosa tifus.decision rawat inap 3 hr dikasih infus plus antibiotik injeksi.alhamd ga panas lg.jd jgn main2 dg panas pd anak.segera ke dr karena db n tifus sdg mewabah.di rs bnyk kasus spt itu.trmkh

  23. Afyt

    November 8, 2009 at 9:57 am

    Selain widal dan gall culture,ada cara test lain g?Pa lg dijmn skg ni yg srba computer.

  24. ciacia

    November 24, 2009 at 11:30 pm

    setauku pas kuliah tentang typhoid fever, yang KHAS adalah dia itu malah LEUKOPENI. alias leukosit turun. barangkali ini yang bikin jadi gampang terinfeksi. sama kalau infeksi karena virus, bisa aja tu leukositnya normal…

  25. rina

    December 8, 2009 at 8:55 am

    saya wanita umur 30 tahun sebulan yg lalu saya didiagnosa terkena typus semua type positif dan pada type H 1/320. setelah dikasih antibiotik saya sudah enakan & sdh merasa sehat. nah beberapa hari yg lalu saya coba tes widal lg ternyata hasilnya pada semua type udh negatif hanya pada type H melonjak menjadi 1/640 pdhl saya merasa sehat sekali &jaraknya sdh 1 bln yg lalu. bgmn menurut anda?

  26. Lita

    December 9, 2009 at 5:59 pm

    Mbak Rina,
    Mungkin yang dites adalah keberadaan ‘kini’ penanda bakterinya, ya? Bahwa infeksinya sedang berlangsung. Jadi kalau sudah berlalu, sudah sembuh, ya hasilnya negatif. Walau kalau antibodi tertentu ditinjau, tertanda positif sebagai hasil pernah terkena infeksi.

    Saya kurang mengerti. Bisa jadi keduanya betul, bisa jadi satu salah, atau dua-duanya salah. Kemungkinan ya bisa saja terjadi. Bisa dikonsultasikan ke dokter untuk minta penjelasan yang mendetil kok, mbak 🙂

  27. nahe

    December 20, 2009 at 6:24 pm

    law emank ga ada demam maupun tidak timbulnya tanda dan gejala yang khas mendingan ga usah tes widal,,,,,,, supaya ga di beri obat….macem2
    khan ga lg sakitttttt

  28. vina

    January 30, 2010 at 7:16 pm

    Bagaimana mempercayai suatu reagen widal kalo reagen yang A menyatakan negatif tidak terbentuk aglutinasi, sedangkan reagen B menyatakan positif terbentuk aglutinasi pada pasien yang sama. Reagen mana yang harus kami pakai untuk pemeriksaan widal?

  29. Dewi

    February 25, 2010 at 11:34 am

    Mbak, minta tolong dong.
    Hasil Widal anak saya (2 tahun) :
    S-paratyphi BO = 1:160
    S-paratyphi CO = 1:80
    S-paratyphi H = 1:80
    S-paratyphi AH = 1:160
    Hasil selebihnya menunjukkan negatif.
    Kira2 itu typus bukan ya? trus berbahaya ga ya? Thanks atas infonya

  30. aziz

    April 27, 2010 at 9:09 pm

    katanya sih kalau tifus ciri khasnya malah leykositnya menurun,,,bner gag???

  31. lulu

    June 28, 2010 at 10:33 pm

    anak saya mulai sakit tgl 30 mei lalu, karena panas nya gak naik turun dan kadang terasa pusing masih sekolah sdan ikut kegiatan berbagai extra kurikuler sampai demamnya makin tinggi. akhirnya kami ke dokter dan cek lab. Hasilnys typhi O +1:320, paratpypi OA +1/160, paratpyhi OB +1/320, paratpyphi OC +1/160, typhi H +1/320, parathypi Ha +1/320, parathypi Hb +1/320, paratyphi Hc negatif… serem deh keliatannya… kesimpulan positif typus.. akhirnya bed rest selama 3 hari dan diobati pada hari kedua panasnya sdh turun dan berangsur normal karena pada hari keempat dimulainya ulangan semesteran.. dengan menjaga pola makan dg bubur dan setelah ulangan segera pulang dan kembali istirahat total di tempat tidur, begitu seterusnya sampai masa ulangan selesai. karena sdh berangsur normal tapi masih batuk (obat sdh habis) maka kami bawa kembali ke dokter sambil minta test widal.. ternyata dengan kondisi suhu tubuh 35,8 – 36,2 oCn hasil tes widal masih sama seperti tes widal I. Akhirnya kami minta surat dokter dan anak kami haruskan bed rest selama 1 minggu dan diberi obat baru oleh dokter.. seminggu berlalu suhu anak kami tetap normal dan semakin kuat dan sehat, krn penasaran dokter kami memberi surat pengantar ke lab jika obat yg diminum habis.. Pengen juga melihat hasil dari ‘perawatan’ kami dan ternyata setelah cek lab.. untuk ke-3 kalinya hasinya tidak berubah, benar-benar sama…. Jd bingung neh, mau diapakan lagi anak saya mumpung sekarang liburan. bener gak sih dia sakit typus?? berbahaya gak ya??

  32. benny

    July 18, 2010 at 9:53 pm

    apakah tidak lebih sering terjadi, bahwa leukosit pada penderita dema typoit lebih rendah dari normal????? ayo, baca yang baik….

  33. sunny

    August 1, 2010 at 8:10 am

    saya sekarang tiggal di papua,1 bln yg lalu saya positif malaria tropika sdh di obati selama 1 minggu,cek ulang lab.hsl malaria sdh negatif, sekarang 1 mg terakhir badan saya panas turun naik, cek laboratoium hsl darah widal parathipy B 1/180,bingung gejala sama seperti malaria,tapi hasil lab berbeda ? bagaimana cara membedakannya ya ? diagnosanya ?

  34. david

    August 14, 2010 at 1:51 pm

    Mbak lita,klo ilmu cm pas2an ttg typhoid..jgn sembarangan ngasi informas ke org!!Buku mn yg nyebutin typhoid leukosit naik??jelas2 pd typhoid itu leukositopeni& trombositopeni..alias mnurun!! sapa yg blg widal itu ga bener??!!! widal itu bener,tp ada patokannya!! titer diatas 1/200 br dinyatakan positif typhoid!!Bljr dl yg bner MBAK!! tuk smw . .pmeriksaan yg terkini yg lbh bagus TUBEX TEST,dteksi lbh dini,tp harga lbh mahal!!

  35. Lita

    August 17, 2010 at 8:32 am

    Santai aja, mas David. Apakah anda membaca tulisan saya atau judulnya saja? Tolong dibaca yang benar.

    Betul, Widal bisa. Tapi dgn air yg tercemar, tidakkah semua orang terpapar pada Salmonella typhii? Positif semua dong, termasuk yang tidak sakit demam typhoid?

  36. david

    August 23, 2010 at 11:59 pm

    Kan anda yg ngasi jawaban ke “DEXTER” bhwa typhoid itu leukositosis,alias leukosit meningkat!!Jelas2 leukopeni pd typhoid.. GMN SIH..!! Gmn mw nyantai,lu ngejerumusin org!!
    Smw org yg tdk higienis akan terpapar,tp tdk bs dikatakan dy demam typhoid klo ga titer O nya diatas 1/200. Krn titer O itu ada di badan kuman nya!!
    Makanya baca donk!!Berani berkoar2,tp otak kosong!!

    1. Lita

      August 24, 2010 at 8:08 am

      Ya, saya salah. Maaf.
      Kalau mau mengoreksi, kan bisa dengan cara yang baik. Itu maksud saya dengan ‘santai’.
      Saya memang kurang berkompeten tentang kedokteran, makanya saya tanya dokter atau baca tulisannya, kemudian ditulis ulang di sini.

      Dan mohon diperhatikan, saya ‘berkoar-koar’ di blog saya sendiri. Ada disclaimer yang bisa dibaca. Anda yang datang bertamu ke rumah saya. Tolong jaga kata-kata anda.

  37. papaario

    August 25, 2010 at 3:23 pm

    Ya, ini pas bulan ramadhan, dua2nya introspeksi, bloggernya lebih cermat, hati2, dan menyadari bhw tulisannya dibaca, dan sangat mungkin dipanut oleh pembaca, sementara yg komentar jg jaga emosi, apa pun situasinya bisa diungkapkan (lewat tulisan di sini) dengan baik dan efektif, dan … ungkapan kedua Anda (blogger dan komentator) dibaca lagi sama orang-orang lain … nah …
    somehow, selamat buat Anda berdua, tetap memberi hikmah buat pembaca lain dalam konteks …. apa itu … itulah yg didebatkan barusan … 🙂 wassalam

  38. Tiopenta

    August 31, 2010 at 11:05 am

    Berobat ke dokter modalnya adalah saling percaya, pasien menyerahkan pengobatannya kepada dokter dan dokter memberikan pengobatan.
    Pasien berobat boleh percaya atau tidak percaya kepada dokter dengan second opinion
    tetapi saya cukup prihatin jika berobat tidak puas ke dokter, ganti dokter..ganti lagi..ganti lagi..
    akhirnya waktu terus berjalan dan sakit terus jalan.
    Alangkah indahnya jika semua kita berobat dengan cara yang bijak, berobat dengan dokter keluarga atau dokter yang udah dipercaya.
    Dan mulailah untuk mempercayai dokter, karena awalnya bermodalkan saling percaya
    Kalau dokter berlakulah jadi dokter yang profesional
    Kalau pasien berlakulah jadi pasien yang bijak
    Kalau jadi pengamat berlakulah jadi pengamat yang baik

  39. Hanny

    January 23, 2011 at 4:28 pm

    Anak saya umur 34 hari, mungkin sama seperti gejala typus. waktu diperiksa, suhu badannya Panas (38,8) dan Minum asi selalu muntah (Gumoh), Dari Pemeriksaan HB rendah (9,4) dan Leukosit Tinggi (19.000) “kata Dokter”, Terus besoknya di kultur darah yang hasilnya mungkin 1 minggu kedepan, Saya mo nanya apa HB rendah harus Transfusi darah. sebab Dokter bilang lok panasnya reda maka akan di transfusi darah,

  40. fe

    January 23, 2011 at 4:29 pm

    semua itu tergantung dari pada keluhan yang di derita pasien..
    kalo saja pasien datang hari pertama demam langsung tes lab untuk ketahui diagnosa pasti itu sangat tidak benar..
    cek lab dengan keluhan demam didertai gejala lain efektif pada hari ke 4 mengingat kembali perbandingan DB n tifus hampir sama.. kalo toh 1 minggu sudah kontrol ke dr. n sepelekan pemeriksaan lab akibatnya pasien jangan2 positif DB masa kritis penurunan trombosit tinggi sampai akibatkan syoooooook nahhhhh ji’un donk…
    jadi itu semua tergantung dari keluhan penyerta pada pasien, kuncinya prmosikan cara membedakan gejala tifus n DB…
    moga bermanfaat..

  41. karen

    January 30, 2011 at 12:03 pm

    Setau saya kalo infeksi bakteri, leukosit akan meningkat… Tp kalo tifus itu bs leukopenia bs jg leukositosis relatif.. Leukopenia itu adalah ciri Ï‘a̲̅я̲̅¡ infeksi virus.. Trombositopenia bs terjadi pada beberapa penyakit contohnya demam berdarah dengue.bkn pada tifus…betul sekarang ϊηϊ pemeriksaan tubex sdh banyak dilakukan namun harganya mahal.. Yg murah ya widal tp widal ke akuratan nya jg ga gt bgs, ada beberapa faktor yang mempengaruhi.. Baca text book emang bs jadi pedoman tp ga semua yg ϑî text book itu ada pada penderita, tergantung Ï‘a̲̅я̲̅¡ kondisi masing2 pasien. So, jgn lupakan pengalaman. Itu penting jg…karena selama saya koass.. Yg ada ϑî teori blm tentu ada ϑî prakteknya… Bahkan berbeda jauh.. So tetap kritis, tanyakan yg anda tidak mengerti pada dokter.. Tapi jg percaya pada dokter anda krn susah lo mαϋ sembuh kalo ga percaya sm dr.. Dokter ada sih yg semaunya, tp banyak yg baik jg.. Tp hrs inget dokter jg manusia, pasti bs salah..

  42. Nandang Ruhiat

    August 17, 2011 at 12:13 am

    Px Lab kan sebagai penunjang fungsinya u menegakan diagnosis; dan hal itu yg menyebabkan dalam memakai hasil lab tidak serta merta atas dasar 1 macam test. Banyak tahapan yg bisa dipilih. Disayangkan, jangankan orang awam, dokter pun masih banyak yg belum bisa menginterpretasikan hasil lab. Ga usah ribut soal Widal test; Metode dan tujuan sudah benar; tapi waktu periksa & interpretasinya banyak yg tidak benar.
    Apabila hasil anamnesa & diagnosa lab tidak sesuai….. inilah yg harus dicari oleh klinisi, tidak menyalahkan pihak.. jangan2 anmnesanya yg salah.. diskusikan/konsulkan aja ke bagian lab (dr patklin). yg lebih faham tentang PATOLOGI…

  43. yuki

    November 2, 2011 at 2:39 pm

    saya kutip dari tulisan di atas “antibiotik yang ampuh sudah tersedia dan akan menyembuhkan tifus dalam 7-10 hari sehingga tidak perlu tindaklanjut. ”

    cara mendapatkan antibiotik y gmn prosesnya??? tq.

  44. indah

    January 20, 2012 at 2:11 pm

    aku lagi sakit typus nih kurang lebih udah 2 mingguan hasil test widalnya. 1/320 nah setelah berobat seminggu efeknya tetep kerasa misal tiba2 lemes…..kenapa ya….. apa berobatnya kurang tuntas….? tp nnanti tiba2 seger buger kaya ngga sakit ,,,confuse juga…masa mau minum obat terus…..????

  45. Al-Ghafuur

    January 28, 2012 at 10:38 am

    kemungkinan alat iru rusak

  46. jui

    March 6, 2012 at 12:43 pm

    @: Lita_ apa gak kliru kalau infeksi akibat virus kecenderungan lekosit akan cenderung turun sebaluknya jk infeksi bakteri akan meningkat, ex : pada kasus DBD lekosit akan cenderung turun. okz gt

    1. Lita

      March 6, 2012 at 7:00 pm

      Hal yang sama sudah ditanggapi di komentar sebelumnya. Silakan disimak kembali.
      Terima kasih untuk tegurannya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.