Read Before You Donate

I got this forwarded message from sehatgroup. Please kindly pay attention for all of you who will donate for the earthquake natural disaster in Yogyakarta.

Attention to everyone in anywhere, please learn from the earthquake happened in Aceh and Nias :

1. DO NOT DONATE POWDERED OR FORMULA MILK.

Your kind help can be delivered in bottled water which is much more advantageous. In emergency condition (such as Yogyakarta earthquake's aftermath), clean ready-to-drink water is hard to get. In addition, the behavior to heat water until it's completely boiled is hard to do due to the absence of adequate stoves and fuel.

Using powdered/formula milk in a handicapped manner and unclean bottle (used to feed) will increase the risk of diarrhea among the victims.

2. DO NOT DONATE BOTTLE INTENDED FOR FEEDING BABIES

The same reason as the above mentioned. Instead, you can donate hand sanitizer and/or soaps because they will afford better protection from diarrhea. Remember, washing hands can decrease 50% risk from illness.

Please understand, in this emergency condition, supporting mothers nutritionally and morally so they are able to breastfeed their children is the best proper choice. Breastmilk is the safest, cheapest, practical, and most suitable for 0-6 months old babies.

Saya mendapat pesan ini dari milis sehat (disertai sedikit suntingan oleh saya). Mohon diperhatikan dengan baik oleh para relawan dan donatur yang baik hati yang ingin membantu korban gempa di Yogyakarta.

Harap kepada masyarakat Nasional dan International belajar dari pengalaman gempa di Aceh dan Nias untuk:

1. TIDAK MENYUMBANGKAN BANTUAN BERUPA SUSU BUBUK APALAGI SUSU FORMULA.

Maksud baik saudara-saudara bisa disalurkan dengan bantuan (berupa) AIR dalam kemasan (yang) jauh lebih bermanfaat.

Tanya kenapa? Karena dalam keadaan darurat (seperti pasca gempa bumi di Yogyakarta), air bersih siap minum akan susah didapat dan perilaku untuk memasak air sampai betul-betul mendidih sulit dilaksanakan karena ketidakterserdiaannya ketiadaan/kekurangan kompor dan bahan bakar memasak.

Penggunaan susu bubuk dan susu formula dengan metode yang kurang benar dan tempat minum yang tidak bersih malah akan menimbulkan wabah diare di kalangan korban bencana.

2. TIDAK MENYUMBANGKAN BOTOL/DOT.

Alasannya sama dengan sebab di atas. (Ketimbang menyumbang botol susu,) sumbanglah hand sanitizer (cairan/gel antiseptik praktis pengganti sabun dan air) dan sabun, karena akan melindungi anak dan kita dari diare.

Ingat, 50% perlindungan dari penyakit cukup didapat dari cuci tangan dengan sabun.

Memang, susu bubuk/formula itu enak dan disukai orang dewasa dan anak/bayi. Namun mohon dipahami, dalam keadaan tanggap darurat seperti ini mendorong ibu-ibu dan mendukung gizi mereka (secara) optimal dengan makanan (dan bukan susu bubuk juga) agar terus dapat menyusui anak-anak mereka merupakan tindakan yang paling tepat. Air susu ibu merupakan sumber gizi teraman, termurah, praktis, dan terlengkap bagi anak 0-6 bulan.

Dr Budhi Setiawan
UNICEF Indonesia
Banda Aceh

Jadi, teman-teman semua, kebaikan dan kemurahan hati kita sebaiknya juga dilengkapi dengan ilmu yang cukup. Agar niat menolong tidak malah mendatangkan musibah yang lain.

My dear friends, we better equipped our kindness with some amount of knowledge. So the charity would not be a cause for further trouble to the people we help.

7 Comments

  1. frag

    June 2, 2006 at 11:33 am

    ho oh…
    kalo susu bubuk masaknya susah.. 🙁
    mendingan kasi aqua botolan aja..

    suegerrr… 🙂

  2. BANGPEI

    June 2, 2006 at 10:46 pm

    Kog Gitu !!! kejam banget, kebanyang enggak seorng bayi yang baru berumur beberapa bulan, ibunya meninggal karena bencana, terus semua orang mengikuti ajakan tersebut, sang bayi harus minum apa???. Kalau ajakan tersebut diikuti dengan ajakan mengirim relawan yang masih menyusui mungkin masih bisa dimaafkan tapi ya apa mungkin ???. mengirim relawan yang masih menyusui.

  3. benisuryadi

    June 3, 2006 at 7:35 am

    mmm, kalo susu kotak ada yang boleh buat bayi ga?

  4. Lita

    June 3, 2006 at 8:42 am

    aRdho
    *gak bisa bales pake bahasa Belanda*

    Frag
    Bentar, ini buat emaknya atau anaknya?

    Benisuryadi
    Susu kotak itu maksudnya susu formula? Ada, di Indonesia banyak dan dijual bebas.
    Bedanya dengan susu yang bukan untuk bayi? Lihat saja kemasannya, usia konsumen yang dituju dicantumkan kok.

  5. Lita

    June 3, 2006 at 1:07 pm

    BangPei
    1. Anjuran ini bersifat umum, selalu ada perkecualian untuk hampir semua kondisi.
    2. Banyak jalan menuju Yogya 🙂

    Saya coba berandai-andai ala orang naif yang belum pernah jadi koordinator aksi tanggap bencana.

    Melihat waktu kejadian, kemungkinan besar bayi sedang berada BERSAMA (attached to) ibunya. Sehingga KEMUNGKINAN besar jika si ibu tidak selamat, maka bayinya juga.

    Bantuan dari daerah lain biasanya akan dikoordinasikan untuk disalurkan ke kantong pengungsian. Korban yang selamat, baik dewasa maupun bayi, akan diungsikan oleh regu penyelamat ke tempat yang -dianggap- lebih aman. Di sana akan berkumpul banyak orang dengan banyak kondisi. Dari ibu yang masih menyusui dan bayinya selamat, ibu yang masih menyusui namun bayinya tidak selamat, dan bayi yang selamat tanpa ibu yang menyusui.

    Dengan demikian -menurut asumsi saya- bayi itu punya kemungkinan dipertemukan dengan pengungsi lain yang menyusui sehingga bisa ‘ditebengi’ ASI.

    Jika kondisi di atas berlaku, tentu jauh lebih baik jika si bayi mendapat ASI ketimbang susu formula yang sangat rawan diare (seperti dijelaskan dalam artikel). Dan daripada menyediakan susu formula lebih baik mendukung gizi dan mental si ibu menyusui agar ASInya mencukupi dalam keadaan bagaimanapun.

    Manusia mempunyai watak memilih. Apabila diberi pilihan, sadar maupun tidak, dia akan memilih. Apabila ada pilihan susu formula, maka ada kemungkinan bayi tidak sepenuhnya disusui. Entah karena anggapan bahwa susu formula akan lebih memadai daripada ASInya yang dikhawatirkan kurang gizinya, atau si ibu menyusui minta bayinya disokong susu formula karena khawatir ASI saja tak cukup.

    Untuk mencegah hal tersebut, maka lebih baik pilihan ditiadakan dengan tidak menyuplai susu formula bagi mereka.

    Pembuat anjuran ini tentu tidak main-main dengan menyuruh kita belajar dari pengalaman bencana besar di Aceh yang lalu. Dan tim penyelamat yang terlatih tentu lebih tahu kapan menerapkan kebijakan umum dan kapan pengecualian bisa dibuat.

    Dengan berdasarkan asumsi tersebut, saya MENYANGKA bahwa jika ada seorang bayi yang tidak lagi memiliki ibu dan tidak dapat disokong oleh ibu menyusui lain, maka penyelamat dapat meminta bantuan dalam bentuk susu formula secara terbatas. Bisa langsung kepada donatur yang dikenal, atau melalui badan tertentu yang dapat dipercaya disertai alasan mengapa permintaan dibatasi.

    “Lho, bukankah itu yang kita maksud dengan sumbangan susu dan botol?”.
    Belum tentu penyalur bantuan akan bertindak seperti yang diinginkan tim penolong. Bisa jadi tim penolong tidak merekomendasikan, namun bantuan tetap harus disalurkan. Jika tidak, pasti anda yang menyumbang akan bertanya dikemanakan amanah anda. Dan jika disalurkan, tersedialah pilihan (seperti telah dijelaskan). Serba salah.

    Saya pikir lebih baik kita membantu/menyumbang sesuai dengan yang disarankan tim penyelamat dan tim medis yang menguasai medan bencana.
    Bukan kejam, hanya menghindari kemungkinan yang lebih buruk. Memberi bantuan namun berbuntut diare, sangat rawan menuju dehidrasi, dan meningkatkan risiko kematian, tentu bukan pilihan utama ketimbang mengusahakan ASI bagi bayi melalui berbagai cara.

    Sekian, semoga maksud saya dimengerti 🙂

  6. mbu

    June 8, 2006 at 6:47 pm

    make sense banget.. ga kepikiran sebelumnya.. thx for the info..

Leave a Reply to Lita Cancel

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.