Tanggapan Unilever tentang Formaldehid dalam Produknya

Berikut adalah pernyataan bagi pers yang disampaikan oleh pihak Unilever dalam menanggapi 'penemuan mengejutkan' tentang adanya formalin dalam produk Unilever. Penemuan yang sebetulnya tidak mengejutkan, karena keberadaan senyawa tersebut dinyatakan dalam komposisi yang tercantum di label.

Produk Pasta Gigi, Sabun dan Shampo Unilever Aman Digunakan

Jakarta, 9 Agustus 2007 : Sehubungan dengan siaran pers yang dilansir oleh Lembaga Konsumen Jakarta pada tanggal 9 Agustus 2007 mengenai pasta gigi, sabun cair dan shampo yang mengandung formalin, PT Unilever Indonesia Tbk. sebagai produsen Pepsodent, Sunsilk, Lifebuoy dan Clear shampoo memberikan penjelasan yang disampaikan oleh Josef Bataona, Corporate Relations & Human Resources Director PT Unilever Indonesia Tbk., sebagai berikut:

* Sebagai perusahaan yang menempatkan kesehatan dan keselamatan konsumen sebagai prioritas utama, Unilever selalu memastikan bahwa semua produknya aman digunakan, dengan berpegang pada standar yangditentukan oleh BPOM dan Departemen Kesehatan serta badan berwewenanglainnya.

Sebelum diluncurkan ke masyarakat, semua produk Unilever juga telah melalui prosedur pengetesan keamanan yang sangat ketat yang dilakukan oleh Unilever Safety & Environmental Assurance Centre (SEAC) di Inggris. Semua prosedur dan proses pengetesan tersebut mengikuti standar internasional.

* Formaldehyde umum dipergunakan dalam jumlah yang sangat kecil di banyak produk kosmetik /perawatan tubuh di seluruh dunia, termasuk sabun, shampo, pasta gigi, dll. Penggunaan formaldehyde dalam produk kosmetik diperbolehkan oleh pemerintah di berbagai negara termasuk Amerika Serikat, Eropa, Kanada, Afrika Selatan dan juga Indonesia.

Apabila dipergunakan dalam batas yang diperbolehkan, formaldehyde aman bagi kesehatan manusia. Fungsinya adalah sebagai bahan pengawet untukmencegah pertumbuhan kuman di produk-produk tersebut. Kuman dapat merusak produk, terutama di negara beriklim panas, sehingga menjadi tidak aman untuk dipergunakan. Pengawet diperlukan untuk menjaga kondisi produk agar tetap aman dipakai setelah kemasan dibuka.

* Peraturan pemerintah di negara-negara Uni Eropa (EU Cosmetic Directive) dan ASEAN (ASEAN Cosmetic Directive) memperbolehkan penggunaan formaldehyde di dalam pasta gigi sebesar 0.1 % dan untuk produk shampo dan sabun masing-masing sebesar 0.2 %. Peraturan ini sejalan dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Indonesia (Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat & Makanan RI No HK.00.05.4.1745 (tahun 2003 -penulis), Lampiran III "Daftar zat pengawet yang diizinkan digunakan dalam Kosmetik dengan persyaratan…" no 38 :Formaldehid dan paraformaldehid).

* Pepsodent mengandung formaldehyde sebesar 0,04 % (0,016 % aktif) , atau jauh di bawah batas yang diperbolehkan. Menurut ketentuan BPOM, apabila kandungan formaldehyde di dalam pasta gigi tidak melebihi 0,05 %, tidak perlu mencantumkan tanda peringatan "mengandung formaldehid" pada penandaan. Sedangkan produk shampo Unilever mengandung formaldehyde sebesar 0,04% (0,04 % aktif) dan produk sabun cair Unilever mengandung formaldehyde 0,1% (0,04% aktif), keduanya berada jauh di bawah batas yang diperbolehkan. (Untuk detail kandungan formaldehyde dalam produk Unilever, lihat lampiran).

* Semua bahan yang dipergunakan di dalam produk Unilever telah diketahui dan disetujui oleh BPOM. Demikian juga halnya dengan dengan kandungan formaldehyde di dalam produk kebersihan Unilever, yang berada jauh di bawah batas yang ditetapkan oleh BPOM sehingga produk-produk ini aman dipergunakan serta efektif.

Untuk informasi lebih lanjut hubungi :

Leila Djafaar
General Communications Manager
PT Unilever Indonesia Tbk.
Tel : 021 – 5262112 ext 759
Fax : 021 – 5262046

Lampiran: KANDUNGAN FORMALDEHYDE DALAM PRODUK UNILEVER

Keterangan urutan:

  • JenisProduk
  • Merek
  • Jenis
  • Kandungan Formaldehyde
  • Batas yang diperbolehkan (BPOM, EU & ASEAN Cosmetic Directive)

I. Pasta Gigi

1. Pepsodent

1). Herbal
0,04 % (0,016 % aktif)
0,1 %

2). Whitening dengan Perlite
0,04 % (0,016 % aktif)
0,1 %

3). Pencegah Gigi Berlubang
0,04 % (0,016 % aktif)
0,1 %

II. Sabun

1. Lifebuoy

1). Sabun Cair, Deep Clean Bodywash ActiFresh
0,1 % (0,04 % aktif)
0,2 %

III. Shampoo

1. Lifebuoy

1). Anti Dandruff
0,04 % (0,04 % aktif)
0,2 %

2). Daily Care
0,04 % (0,04 % aktif)
0,2 %

2. Clear

1). Active Care, Anti Ketombe
0,04 % (0,04 % aktif)
0,2 %

2). Scalp Oil Control
0,04 % (0,04 % aktif)
0,2 %

3). Hair Fall Defense
0,04 % (0,04 % aktif)
0,2 %

3. Sunsilk

1). Strong & Smooth
0,04 % (0,04 % aktif)
0,2 %

2). Silky Straight
0,04 % (0,04 % aktif)
0,2 %

3). Clean & Fresh
0,04 % (0,04 % aktif)
0,2 %

4). Lasting Black Shine
0,04 % (0,04 % aktif)
0,2 %

Di wawancara televisi kemarin malam (10 Agustus 2007) Lembaga Konsumen Jakarta (LKJ) berkata bahwa di seluruh Eropa pemakaian formalin dilarang. Tepatnya dilarang untuk apa, pak? Tak menunggu wawancara selesai, saya memakai Google dan menemukan ini:

  • Low level formaldehyde in gelling agents is no problem, says European Food Standards Authority (ESFA). Berita tertanggal 25 Januari 2007.
  • Dokumen (format pdf) ESFA tentang penggunaan formaldehid sebagai pengawet makanan ternak.
  • Dokumen WHO (World Health Organization) Regional Office for Europe tentang formalin di sini (format pdf)

Anda asal kutip (siapa yang dikutip?) atau asal tebak saja bahwa Eropa melarang penggunaan formalin untuk apapun?

Ngomong-ngomong 'penemuan mengejutkan', tidakkah anda teringat sesuatu? Maaf , saya harus berkomentar bahwa anda basbang. Tak belajarkah anda dari pengalaman yang baru berlalu tentang lagu kebangsaan negeri ini?

Baiknya bicara dulu dengan ahlinya, selidiki baik-baik sampai tuntas, lengkapi semua referensi, sebelum membuat berita 'heboh' seperti ini. Membuat panik orang awam dan memicu munculnya tudingan gegabah seperti 'pembohongan publik' dari konsumen yang merasa dikecewakan. Padahal mungkin itu 'sekadar' akibat tidak mengerti (tentang formaldehid yang dicantumkan di label) atau simply ignorant alias tidak terlalu peduli untuk membaca label dengan teliti.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengatakan bahwa BPOM tidak merinci negara mana yang dijadikan acuan masih diperbolehkannya formalin dan menyalahkan BPOM atas timbulnya polemik ini. Mengapa YLKI tidak minta LKJ ikut bertanggungjawab? Apakah LKJ punya bukti yang mendukung klaimnya sendiri bahwa formalin dilara
ng digunakan untuk semua produk? Masing-masing seharusnya memberikan dasar bagi klaim yang diberikan. Lagipula LKJ yang membuat 'penemuan mengejutkan' ini.

Kenapa baru sekarang ribut, saudara-saudara? Atau akan ada tudingan balik menanggapi reaksi terhadap anda sekalian, berjudul pahlawan kesiangan, "Kenapa gak bilang dari dulu?". Yaelaaaaaaahhhh…

Catatan: Saya tidak punya hubungan mutual atau kecenderungan pribadi (personal interest) apapun dengan Unilever. Isi press release adalah apa adanya dan di luar tanggung jawab saya.

Terimakasih mbak Fitri Yuniati, anggota milis Sehat, atas kiriman email klarifikasi dari Unilever.

32 Comments

  1. cakmoki

    August 11, 2007 at 11:31 am

    ijin mem-pdf dulu ya Bu, ntar komennya belakangan … hehehehe *ssst, ada panggilan berkat soale*

  2. Luthfi

    August 11, 2007 at 12:00 pm

    hihihiihihi

    agen unilever detected

  3. zulu

    August 11, 2007 at 1:31 pm

    Hi there.

    After reading several blogs and listening to radio talk shows on Saturday, I found:

    The real question is if others can produce formalin-free products, why can’t Unilever?

    Meanwhile, the circulating concerns are many, if not most, Indonesians have been using pepsodent, lifebuoy, clear and sunsilk their whole life, how can one be sure there is no formaldehyde accumulation in one’s body, up to a non-tolerable level? Considering we use these products at least two times every day.

    BPOM and Unilever have failed to answer those questions so far, except reiterating, repeating over and over that the amount is stil within safe limit. Some mothers worrying about their kids would not take your posted Unilever statement as a relieving answer.

    The dean of FKG-UI have just said in el-Shinta radio that she, if not the whole dentist community, is against the use of formaldehyde in toothpaste, (and she reminded certain toothpaste contain too much detergent in them).

    Probably these are just alarmist questions, but their concerns, I say, are valid.

    Regardless how reckless LKJ is, it has incited a “healthy” discussion among Indonesians for the need to find out what’s inside the products we have been using everyday.

    I usually find foreigners take the time to read the ingredients of products sold on the market shelves, probably it would not be too long now until Indonesian consumers adopt that healthy habit and smartly questions what the producers are selling.

    One more thing, it’s human nature that people easily forgets, so I must say thank you to LKJ for reminding us.

    Please bear yourself to see more of these news in the media for a couple of days, as the media are short of “good news”, they are devouring on anything newsworthy, and this one involves a gigantic multinational company, a sexy topic indeed. (They also need Unilever to spend more ads on their media to shut them up.)

    cheers,

    zulu

    1. Lita

      August 11, 2007 at 11:26 pm

      As from chemical engineering point of view, I can say “If it is economically and efficacy adequate, safe, and legal, why not?”.
      That doesn’t sound rhetorical, does it?
      Not to mention that the ingredients used for every consumer good items are not perfectly same. Thus the interaction between the chemical substances.
      I’m sure there’s more reason to the choice.
      Not too much different than why we choose agar, or gelatin, or collagen, or carrageenan, or seaweed for something looks about the same.
      To our perception, that is.

      Well, probably you’re right in noting that this incident can remind people to read labels.
      That may slip my mind, since I always read labels and don’t consider the habit as something special, rather than automatically (reflex, intuitive).

      Thanks for the warning, reminding me of how much people don’t consider chemistry as an important subject in highschool.
      Most people hate chemistry lesson, to a level that it’s allergic, scary, and useless for them.
      At least now we have a reason to tell our children why they must conquer chemistry: you can simply understand what’s written on those labels, my lad.

    2. kenji

      August 12, 2007 at 5:31 pm

      You usually find this situation if you see foreigners shopping in local retailers
      believe me, I have found out that foreigners are no better than Indonesian, Majority of them just take the product that were known or loved, like other Indonesians too.

      oh by the way, majority of the people who read information about the product at the store do not reading the ingredients… they are just looking the package, searching the expire date, finding out who is the manufacturer and distributor, and so on… they just seek the required information only, for example if the person is on a diet program, he/she only read how much fat in the product. I’ve forgot where I found this article about it, it was a long time ago.

    3. mariskova

      August 12, 2007 at 7:49 pm

      The real question is if others can produce formalin-free products, why can’t Unilever?

      Well, this is exactly my question.
      I’m not paranoid about the whole formalin issues, but curiosity is curiosity.

  4. imcw

    August 12, 2007 at 5:05 am

    maksudnya dah baik tetapi caranya yang masih salah…ya nggak mbak?

  5. Julia van Tiel

    August 12, 2007 at 6:12 am

    Apa bisa Free-Formaldehyde ?

    Rasanya agak lucu juga membaca di milis-milis ada yang sedang histeris fobi terhadap formalin yang tersebar di masyarakat sebagai bahan pengawet mayat lalu menjadi pengawet makanan. Jadilah isyu formalin yang sudah lumayan lama mencuat lagi, saat ada berita barang untuk kehidupan sehari-hari seperti sampo, sabun mandi, bahkan pasta gigi pun menggunakan formaldehyde. Dikeluarkan oleh pabrik multinasional pula. Uaaahhh….. sampai ada yang menuding sebagai perusahaan yang melakukan pembohongan terhadap publik (sekalipun jelas-jelas sudah tercantum dalam ingridientnya).

    Formalin itu apa sih?
    Formalin sudah dipakai lebih dari seratus tahun lalu sebagai bahan pengawet jelasnya fiksasi protein, jadi digunakan selain untuk fiksasi spesimen lab biologi, juga digunakan untuk mengawetkan mayat. Tetapi formalin mempunyai efek antiseptik juga, jadi juga digunakan untuk membunuh jazad renik (germicida). Lalu ia masuk ke dalam kelompok biocida.

    Eit…. jangan dipikir bahwa formalin cuma ada untuk bahan-bahan itu saja. Engga. Sebab pada dasarnya formalin ada dimana-mana, secara alami pula.
    Formalin sendiri adalah nama pasaran buat formaldehyde 37-40 persen yang larut dalam air plus metanol 10 persen. Formaldehyde sebetulnya bentuknya gas, maka jika ingin digunakan dilarutkan dulu dimasukkan dalam air plus methanol, baru bisa dipakai. Ia mempunyai sifat fisik larut dalam air atau metanol itu.
    Mengapa ada di alam? Ya ada, karena pada dasarnya dimana-mana ada gas methane yang jika teroksidasi akan menjadi formaldehyde.
    Contohnya ada dimana? Ada di daun-daun busuk, sampah, gas buangan septik tank, kayu basah, emisi kendaran bermotor, di dapur, asap rokok, bahkan di kentut orang. Artinya di alam juga ada formaldehyde, baik di dalam rumah, di luar rumah, maupun di danau dan sungai.

    Formaldehyde sendiri bukan produk akhir, ia produk intermediate karena masih bisa pecah lagi menjadi bahan lain. Jadi kalau masuk ke tubuh ya gak bisa mengalami kumulasi kayak logam berat tea. Di dalam tubuh dalam metabolisme akan terhidrolisa menjadi asam formiat, air, dan carbon. Lalu keluar liwat urin.

    Tapi kenapa sekarang ribut?
    Karena media sudah mendramatisir, katanya formalin atau formaldehyde dapat menyebabkan kematian, kanker (sebagai bahan carsinogenik), dan alergi. Lho kok mau-maunya mendramatisir? Lalu orang pun, di Indonesia tersundut untuk ikut ramai-ramai anti produk ber formalin atau berformaldehyde, menuntut sebagai konsumen hidup sehat. Menginginkan hidup bebas formaldehyde. Apa mungkin ? Yang engga engga aja sih.
    Lho kok yang engga-engga tuntutannya, padahal menurut LKJ (Lembaga Konsumen Jakarta)
    Disini: http://www.surya.co.id/web/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=17583
    Formalin adalah bahan berbahaya dan menuntut BPOM menarik peredaran semua barang berformalin. Lha yang bilang saja LKJ.

    Kalau boleh dibilang LKJ ini gerakannya kayak lembaga2 kacau balau saja, malah membuat masyarakat kacau balau. Lho iya lho, wong yang namanya berbahaya itu kalau diluar ambang batas. Orang bisa mengalami kanker yang diakibatkan oleh formalin, kalau misalnya kerja di pabrik formalin atau pabrik yang menggunakan formalin banyak2, lalu ia menghisap gas formaldehyde yang sifatnya memang iritatif. Yang gak tahan ya bisa alergi juga. Kalau ngisap terus terusan bahan iritatif ya jelas saja lama-lama ya kanker. Makanya sering disebut jenis kankernya kanker nasopharings. Karena itu ada peraturan pembatasan ambang toleranansinya.

    Kenapa kok sekarang ributnya, gak dari dulu saja.
    Itu mulainya dari Jerman, yang mau memproteksi air sungai sebagai sumber air minumnya. Karena sungainya datang dari negara-negara lain, maka Jerman mengajukan usul ke Eropa Unie agar diadakan kampanye free formaldehyde. Tapi free nya ini bukan lalu free seratus persen sampai segala macam bahan gak ada formaldehydenya, atau eropa bebas formaldehydenya. Lha ya mana bisa, wong ngentut aja ngeluarkan methane yang teroksidasi jadi formaldehyde kok. Memangnya ngentut harus diberantas? Apalagi sekarang lagi ramai-ramainya penggunakan pupuk bio dari tahi ternak.
    Maksudnya free formaldehyde adalah hasil produk tidak boleh melebihi ambang batas, dan harus ada waste water treatment – treatment limbah pabrik sebelum nyemplung ke sungai. Ini mah memang sudah tahu dari dulu. Tapi … sekarang ini industri semakin hebat, semuanya menggunakan formaldehyde sebagai bahan polimer (pelarut), misalnya industri cat, plastik, tekstil, fiber, composite resin, vinyl, linoleum, melamin, dlsb. Apalagi sekarang barang-barang cenderung terbuat dari bahan plastik2an gitu, yang justru menggunakan formaldehyde. Jadi penggunakan formaldehyde ini di eropa sudah dianggap gila oleh Jerman. Karena itu harus ada undang-undang baru, dan kampanye lagi.

    Jadi kalau mau ribut, tahu dulu duduk perkaranya lah….Baru boleh ribut, ketimbang jadi pahlawan kesiangan…. ya gak?

  6. dokterearekcilik

    August 12, 2007 at 7:53 am

    kalo menurut saya sebaiknya BPOM pake pendekatan Evidence Based Medicine (EBM) yang kadang di terjemahkan Kedokteran Berbasis Bukti ( cuman gak enak.. belum pas )Sebenarnya banyak referensi yang membahas masalah pemakaian formalin (cuman saya lagi males search..menikmati liburan 🙂 ) Dengan pendekatan ala EBM maka BPOM bisa update dan mengambil kesimpulan terhadap perkembangan terbaru. Untuk info.. text book selalu terlambat 3-4 tahun ilmunya, karena proses pembuatan sampai di luncurkan makan waktu segitu.. artikel/ journal terlambat antara 6 bulan sampe setahun. Jadi saran saya kalo mau tahu sesuatu berguna atau tidak, bahaya atau tidak yaaa.. pake pendekatan EBM. Hari gini, masih baca text book doang ?! sungguh terrrrlalu

  7. firman firdaus

    August 12, 2007 at 11:51 am

    saya sebenarnya sudah agak capek juga nih denger berita dan kontroversi model begini. kelihatan bahwa masyarakat (dan pers) kita masih not well-informed.

  8. kenji

    August 12, 2007 at 5:18 pm

    sepertinya tinggal menunggu waktu saja, sampai produk2 lain menggelar Black Campaign jelek2in produk yang ada formaldehidnya… padahal produknya sendiri ga lebih bagus ataupun juga ga lebih aman :p …

    ato… jangan2 hal itu sudah terjadi tapi saya ketinggalan berita kali ya 😐

    1. karel

      August 15, 2007 at 12:52 pm

      aku koq kayaknya curiga unilever yg sengaja lakukan, kadang negative advertising bisa ngangkat penjualan,,,,atau bisa aja agen-agen iklan/media yg sengaja buat utk tujuan “adu argumen”. tapi satu hal, sudah saatnya indonesia melek katalog, terlalu konsumtif bisa jd bumerang ke pemakai dan produsen soalnya. tanggung jawab produsen atau pemilik merek utk buat iklan yg informatif. dah ahh, males komentar, gitu aja koq repot

  9. rd Limosin

    August 12, 2007 at 7:23 pm

    emang formalin bahaya??

    //ngeyel lalu kabur…

  10. Julia van Tiel

    August 12, 2007 at 11:42 pm

    Para pakar yang ditanya oleh pers justru pakar yang kiblatnya alternative medicine. Coba baca penjelasan ini (Hmh…ck ck ck…kok ada formaldehyde bisa pilih pilih enzym mana yang diserang…. au au au…. Lalu dinetralisir dengan yogurt…au au au…. kacau kacau…. malahan formaldehyde bisa menyebabkan gigi keropos..lho… ck ck ck. Kalau malah bikin kacau pemahaman rakyat ya jangan ngomong lah yau!):

    Sebabkan Komplikasi
    Menurut pakar teknologi pangan, Prof Dr Ir Simon Bambang Widjanarko MApp Sc, kandungan formalin dalam produk kecantikan seperti, sabun dan kosmetik, akan menimbulkan alergi karena kontak dengan kulit. Efek ini akan terlihat langsung untuk kulit yang sensitif. “Yang paling berbahaya, jika senyawa formaldehyde ini masuk ke dalam tubuh, ini akan menyebabkan berbagai komplikasi. Karena formalin merupakan senyawa keras yang membahayakan sistem imun tubuh,” papar guru besar Unibraw itu.

    Pada produk pasta gigi, formalin justru akan menimbulkan efek berbeda. Gigi akan mengalami proses korosif dan lama-kelamaan membuat gigi keropos. “Bukan hanya formalin saja yang dicurigai, sekarang beberapa produsen pasta gigi juga mulai menggunakan hidroquinon. Fungsinya, hanya untuk menjaga pasta gigi tetap lumer dan dampak untuk kesehatan baru diketahui setelah 5-10 tahun pemakaian,” jelas Simon.

    Pendapat itu diamini pakar biokimia Unibraw, Ir Chanif Mahdi MS, di mana bahaya yang paling besar adalah jika senyawa berbahaya itu masuk dalam tubuh dan berinteraksi dengan sistem enzim. Interaksi ini akan menyebabkan orang akan mudah terserang kanker kulit, kanker darah, bahkan kanker usus. “Tergantung enzim yang diserangnya,” tandas penemu kit tester formalin itu.

    Agar konsumen terhindar dari bahaya formalin dan senyawa lain yang membahayakan tubuh, maka pemerintah harus melakukan pengawasan lebih ketat untuk seluruh produk kosmetik dan makanan.

    Tetapi, masyarakat juga harus sadar dengan bahaya formalin, sehingga sebelum menggunakan produk apapun usahakan melakukan pengujian sederhana untuk melihat kandungan formalin dalam produk yang dibeli. “Saya punya kit tester untuk mendeteksi adanya formalin dan beberapa senyawa berbahaya seperti, borax dan rodhamin,” akunya.

    Ditambahkan, mengonsumsi susu dan yogurt minimal 1,5 liter dalam sepekan juga mampu menentralisir 70-80 persen kadar formalin dalam tubuh. Minuman yogurt memiliki kemampuan menetralisir formalin lebih tinggi dibanding susu. Sebab, yogurt mengandung vitamin antidoksidan dan protein senyawa antidioksidan yang mampu memberikan efek ajufan (mengaktifkan sel imun tubuh). “Yogurt juga mampu mengaktifkan sel-sel tubuh yang rusak,” tandasnya. jbp/amb/yul/st11

    http://www.surya.co.id/web/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=17583

  11. Vina Revi

    August 13, 2007 at 12:42 pm

    kenapa baru sekarang sadarnya? … sigh …

  12. Vina Revi

    August 13, 2007 at 12:44 pm

    dan btw, selalu ada ‘politik pasar’ ternyata? … xixixi …

  13. Ketty

    August 13, 2007 at 6:04 pm

    Olalalaaa… ternyata ceritanya jualan TESTER KIT sama YOGURT thoooo… pantes.. 🙂 kabuuur

  14. Nav Online

    August 13, 2007 at 6:19 pm

    informasi yang menarik, Trims.

  15. cakmoki

    August 16, 2007 at 8:28 am

    seru !!!
    ijin nikmati liburan dulu Bu *lirik doktere arek cilik*, … mo lomba balap sarung nih 🙄

  16. vino

    August 16, 2007 at 11:16 am

    jadi kesimpulannya ?…
    *pegang ballpoint, siap nyatet*

  17. buchin

    August 19, 2007 at 2:00 pm

    ada berita baru mengenai formaldehyde ini.. katanya cina kembali megekspor permennya lagi… yang free formaldehyde tentunya…:

  18. rere heppy can

    August 26, 2007 at 5:06 pm

    la jangan cuma lempar lempar argumen..yang pentingkan solusinya..mmm..kayaknya bakal memberikan BPOM kerjaan yang banyak..tantangan sebagai abdi negara dan masyarakat..klo perlu gpp deh terbitin daftar barang2 yang aman..tapi jangan ada “uang di balik saku loh”…ya niy indonesian kadang kalo nerima informasi ato kalo bikin dan menyebarkan informasi cuma setengah2..malah bikin panik.

  19. parbutaran

    March 10, 2008 at 12:35 pm

    maaf, tulisan anda di web saya tidak saya lampirkan daftar urlnya. Tetapi nanti akan saya rubah. Thanks atas perhatiannya

    1. Lita

      March 10, 2008 at 2:05 pm

      Mari, pak. Sama-sama 🙂

  20. Manika

    May 25, 2008 at 4:42 pm

    Mbak Lita, gmn dgn kabar bahwa pasta gigi berfluor tdk bagus bg kesehatan? Kpn2 dibhs ya? Makasih.

    1. Lita

      May 25, 2008 at 6:58 pm

      Tidak baik kalau tertelan, mbak. Kalau tidak tertelan malah baik untuk kesehatan gigi, kok 🙂

  21. wan

    December 19, 2008 at 6:38 pm

    perbaikan kearah kesehatan adalah harapan masyarakat, jangan dirusak kepercayaan trhadap merek

  22. gigih

    May 13, 2009 at 9:56 pm

    wah,,
    padahal saya berencana ngerancang pabrok formaldehid,tapi ko kayaknya produknya bakal bermasalah ya.
    padahal industri karet,resin,plywood,dll,masih butuh formaldehid

    wah,,tnyata respon dunia begitu,,
    hmm,perlu ditinjau ulang

  23. marzuki

    January 11, 2011 at 3:38 pm

    mungkin kalau formalin bisa ditoleransi, tapi Fluoride merupakan kandungan pasta gigi yang sangat berbahaya seperti yang diungkapkan peneliti baru-baru ini..Dr. Charles Gordon Heyd, Mantan Presiden Asosiasi Kesehatan Amerika :> ‘Fluoride adalah RACUN YANG BISA MENGGEROGOTI; akan menyebabkan DAMPAK yang SERIUS DLM JANGKA PANJANG. buka http://kimia-asyik.blogspot.com/2010/01/bahaya-fluoride-dalam-pasta-gigi.html

    1. Lita

      January 24, 2011 at 1:12 pm

      Silakan baca artikel-artikel dari sudut pandang yang lain juga dari hasil pencarian di Quackwatch di sini.

  24. johan

    May 14, 2012 at 5:14 am

    apa komposisi lifebuoynya, pls kasih tau soalnya di botol pake bhs inggris

Leave a Reply to parbutaran Cancel

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.