Bunda, Mengeluhlah

Terkesiap saya melihat sekilas permulaan sebuah ‘notes’ di Facebook. Berujar tentang betapa kecewanya sang penulis saat melihat/mendengar keluh seorang ibu, bahwa ia mencurahkan seluruh waktu dan energinya untuk anak dan keluarga dan kini merasa agak letih. Dan bosan.

Mengapa kecewa? Apakah ibu tidak boleh menjadi manusia biasa? Selama ia tidak menyemburkan kekecewaan dan letihnya pada bayi atau balita yang sedang diasuh, dan memilih untuk berkeluh pada sahabatnya, tidakkah itu pilihan yang sehat? Bahwa ia masih merasakan tanggung jawab penuh atas apa yang mungkin dapat menyakiti anaknya (walau belum dapat sepenuhnya mengerti apa yang dirasakan ibu)?

Ibu memang pahlawan. Ibu memang manusia super. Yang mendasari itu semua, ibu adalah manusia. Perempuan yang penuh perasaan. Adalah sepenuhnya wajar jika ia berujar letih saat merasakan letih, yang berkeluh bosan saat dirasanya bosan.

Apa yang salah? Yang salah adalah yang berharap terlalu tinggi pada ibu. Yang menganggap bahwa ibu tak boleh bosan dan letih. Yang berpikir bahwa ibu itu sejenis dewi, segala sempurna hingga setitik egopun tak boleh dimunculkan dari dirinya.

Lucu, padahal dalam kisah/legenda dewa-dewi, mereka justru adalah yang egois, bermain dengan menggunakan kehidupan manusia. Mungkin perumpamaan saya saja yang salah. Tidak seharusnya saya menggunakan dewi sebagai umpama. Entahlah. Tapi tidak seharusnya pula mansia biasa dianggap harus segala sempurna, bukan?

Saya memang hanya melihat ujung awal artikelnya. Secuil pula. Tak sepantasnya saya menghakimi sesuatu yang tidak saya lihat secara utuh. Begitu pula sepertinya ketika kita hendak menilai seseorang. Dan ibu tidaklah terkecuali.

5 Comments

  1. mama Nadindra

    January 3, 2010 at 10:55 pm

    Yah begitulah seorang ibu..
    Kadang suami saya saja menilai “salah” kalau saya mengeluh.
    Alasannya karena dia jg sama capek & bosannya kerja, cari nafkah.
    Padahal benar, jauh lebih sehat meluapkannya lewat bercerita pada orang lain.
    Daripada anak yg jadi korban emosi kita?
    Sudah banyak buktinya kan, anak dianiaya ibu kandung, atau bahkan dibunuh dgn alasan yg tidak masuk akal.
    Begitulah ibu, harus sempurna.
    Bahkan tidak boleh sakit sekalipun!
    Mungkin takdir, atau memang laki-laki Indonesia benar tidak ada yg dewasa??
    Pendapat itu dari adik ipar saya, perempuan..
    Yah, mudah-mudahan pahala ibu jauh lebih besar dibanding ayah 🙂

  2. Lita

    January 3, 2010 at 11:16 pm

    Mama Nadindra, semoga sabar selalu, ya.
    Ah, kalau para bapak mengeluh capek karena bekerja, bukankah para ibu juga bekerja di rumah? Nyaris 24 jam, lho. Istirahatnya para ibu kan setelah anak tertidur dan sebelum kegiatan selanjutnya dimulai.

    Suaminya diajak mampir ke mari, bunda. Supaya dapat sudut pandang lain. Sekadar lewat menjenguk pun tak apa 😉

    Semoga para ibu dikuatkan, dengan sahabat yang saling mendukung dan suami yang penyayang. Agar keluarganya kukuh dalam cinta dan kasih Tuhan, menjadi landasan bagi pijakan para buah hatinya, sebelum mengepakkan sayap cita-cita bagi kebaikan bangsa dan agamanya.

  3. josephwhite

    January 4, 2010 at 4:18 pm

    Like this, miss 🙂

  4. ita

    January 10, 2010 at 11:29 am

    Mbak, saya kadang juga merasa kurang punya waktu istirahat, apalagi anak saya yg kecil autis, tapi untung suami mau mendengarkan curhat saya dengan syarat gak pake emosi dan dia juga boleh curhat juga. Tapi saya manusia biasa kadang emosi juga.

  5. manusiasuper

    January 13, 2010 at 12:24 pm

    All moms in the world are superheroes… If they aren’t, how come they could do those amazing things?

    And all superheroes have right to bleed…

Leave a Reply to mama Nadindra Cancel

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.