Generasi Penuntut

Prosecutor generation, tampak keren kalau memang yang berhubungan dengan hukum yang dimaksud. Sayangnya bukan. Ini ‘penyakit’ remaja saat ini. Penuh tuntutan.

Mau tahu tuntutannya? Negara ini seharusnya bisa memberi fasilitas untuk kita berkembang. Orangtua harusnya mengerti maunya kita. Sekolah harusnya bisa membuat kita begini begitu. Begitu banyak kalimat ‘seharusnya’ yang diakhiri dengan ‘kita’. Pandangannya adalah ‘apa untungnya buat gue?’. Bukan ‘apa yang bisa gue lakukan’. Basis pemikirannya adalah self-centered.

Generasi yang kritis, tapi kurang mandiri. Bahkan untuk urusan belajar dan hubungan dengan orangtua. Lemah. Begitu inginnya dibiarkan untuk mengambil keputusan sendiri, tapi begitu takut kehilangan kenikmatan hidup. Orangtua dikatakan mengekang, tapi begitu khawatir jika supir keluarga terlambat menjemput pulang sekolah. Ingin bebas dari orangtua, tapi tak dapat ‘uang THR’ ribut tentang hak. Manja.

Generasi manja yang tak tahu siapa/apa yang mereka bela. Tak fasih tentang konsekuensi. Tak tahu beda kritis dari mengeluh. Diberi beban untuk latihan lalu mengeluh ia tentang ‘life sucks’. Diberi batasan disiplin lalu memaki ia tentang ‘school sucks’. Bermasalah dengan pacar lalu berujar ‘every man is a jerk’ atau ‘life is a bitch’. Orang di ‘luar’ dibela, tapi dirinya tidak. Tidak membela kebebasan diri dengan kemampuan yang akan membekalinya untuk berdiri di kaki sendiri.

Ingin sekali saya bilang, suck it up! Itu hidupmu. Kenapa harus orang lain yang menunjukkan betapa bergunanya sesuatu supaya ia ambil? Kenapa tidak ia yang maju bertanya & mencari apa maknanya bagi dirinya, ditentukannya sendiri tentang apa yang penting. Remaja yang berorientasi ‘yang penting ngga remed’. Remaja yang menuding guru & sistem pendidikan mengajarkannya materialis dan berorientasi nilai. Dangkal. Katanya nilai tak penting, tapi menyonteklah ia. Generasi plin-plan. Bukan galau. Mereka bahkan tak tahu dirinya siapa dan apa perannya di dunia.

Itulah remaja. Yang dulu juga pernah dialami oleh setiap yang kini berkomentar “Dulu kita ngga begitu”. Iya, saya juga rasanya dulu tidak begitu. Saya tidak ingat dulu berlaku sama. Ya toh setiap generasi punya masalahnya sendiri. Punya sekelompok keluhannya sendiri. Tak akan sama diri saya yang dulu dengan diri remaja sekarang. Beda lingkungan, beda orangtua, beda ‘warna’ pendidikan, beda beban nilai (value) yang dipanggul, beda tantangan, beda zaman.

Setiap remaja akan merasa dirinya tahu segala tentang dunia. Saya ingat yang ini. Dan semakin bertambah usia, saya semakin sadar bahwa saya tak tahu apa-apa. Betapa menara gading pendidikan itu sempit dalam keluasannya. Saya mulai melihat dengan mata orangtua saya dan mulai memahami apa yang dipikirkan, dikhawatirkan, dilihat dan dinilai. Saya merasa semakin kecil.

Dan dengan kerendahan -serta malu- saya berusaha menceritakan ini pada murid-murid saya. Nak, ayolah kita berhenti menuntut. Saya berhenti membingkai apa yang saya ajarkan dengan bunga-bunga ‘kegunaan ilmu ini bagi kehidupan’. Saya mulai berani menjawab pertanyaan “Ini gunanya apa di kehidupan kita, bu?” dengan ‘tidak tahu’ dan ‘tidak ada gunanya, kok…. sekarang’. Tak usahlah generasi ini diiming-imingi bunga. Mereka tak bodoh. Segera ditukasnya dengan ‘gue ngga akan kerja di bidang itu, kok’ dan patah lah semuanya.

Apakah mereka jadi patah semangat? Tidak. Alih-alih senyum sinis, lebih banyak yang mengangkat alis dan… mulai mendengarkan saya. Mengakui kekurangan ternyata lebih jitu daripada membungkusnya dengan kata-kata manis untuk mengelak. Now, do I get your attention, kids? Let’s start studying this useless thing. Maka kamipun tertawa bersama.

Yuk kita cari maknanya bersama. Kita susuri jalan kehidupan masing-masing. Mungkin nanti akan kita temukan jawaban-jawaban atas pertanyaan kita. Mungkin kita akhirnya akan bisa menjawab sendiri, apa gunanya hal-hal yang kita pelajari dulu kala SMA -SMP dan SD. Mungkin tidak. Tak apa. Tak semua pertanyaan harus dapat dijawab. Yang penting kita tahu, kita lah yang harus mencari tahu jawaban pertanyaan itu sendiri. Bukan orang lain.

Berhenti menuntut dari dunia. Tuntut dari sosok dalam cermin saja. Bukankah diri sendiri yang harus diubah lebih dulu?

2 Comments

  1. dy

    August 24, 2012 at 10:30 am

    seorang kawan, guru juga, pernah mnginspirasi saya dgn kalimat “yg penting utk dipelajari anak2 bukan kontennya (math, fis, kim, bio, etc) tp bgmana mereka “bersikap” terhadap persoalan, tugas, dan tanggung jawab yg mereka terima. itu yg akan mereka bawa sampai nanti »»sekedar sharing ide 😉

  2. Lita

    August 24, 2012 at 10:49 am

    Iya, mbak. Tidak hanya mengajarkan konten.
    Tapi konten juga harus diajarkan, karena itu termasuk dalam tugas guru.
    Jangan sampai ada yang dilalaikan, karena keduanya penting.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.