Pagi ini diminta Kirana (moderator Mommiesdaily) untuk menanggapi tulisan yang beredar (sudah sejak lama) tentang ‘kebenaran’ sebuah hadits Nabi. Sebagian besar anda harusnya sudah pernah lihat ini kalau cukup sering membaca linimasa Facebook atau forum.

Mengapa Nabi melarang meniup makanan dan minuman?

Seringkali kita melihat, seorang Ibu ketika menyuapi anaknya makanan yang masih panas, dia meniup makanannya lalu disuapkan ke anaknya. Bukan cuma itu, bahkan orang dewasa pun ketika minum teh atau kopi panas, sering kita lihat, dia meniup minuman panas itu lalu meminumnya. Benarkan cara demikian?

Cara demikian tidaklah dibenarkan dalam Islam, kita dilarang meniup makanan atau minuman.

Sebagaimana dalam Hadits Ibnu Abbas menuturkan, “Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam melarang bernafas pada bejana minuman atau meniupnya.” (HR. At Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Awalnya saya tidak mengetahui hikmahnya, bagi saya pribadi, ketika datang hadits pada saya mengenai suatu hal, maka semampunya coba saya lakukan, walaupun saya belum tahu hikmahnya, dan sebenarnya memang tidak harus tahu.

Begitu juga ketika saya pertama kali mendengar hadits ini, saya hanya berusaha mengamalkan saja, bahwa kita dilarang meniup makanan atau minuman, itu juga yang saya lakukan kepada anak saya.

Alhamdulillah ketika tadi coba browse ke internet, ternyata dari salah satu milis kimia di Indonesia, ada yang menjelaskan secara teori bahwa: apabila kita hembus napas pada minuman, kita akan mengeluarkan CO2, yaitu carbon dioxide, yang apabila bercampur dengan air H20, akan menjadi H2CO3, yaitu sama dengan cuka, menyebabkan minuman itu menjadi acidic.

Dan saya ingat juga bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita ketika minum seteguk demi seteguk, jangan langsung satu gelas sambil bernapas di dalam gelas, hal ini juga dilarang, ternyata saya baru tahu sekarang hikmahnya, bahwa ketika kita minum langsung banyak, maka ada kemungkinan kita akan bernapas di dalam gelas, yang akan menyebabkan reaksi kimia seperti di atas.

Ulasan yang saya sampaikan, mungkin bukan hikmah keseluruhan, karena Ilmu Allah tentu lebih luas dari ilmu manusia, bisa jadi itu adalah salah satu hikmah dari puluhan hikmah lainnya yang belum terungkap oleh manusia.

Tanggapan tersingkat saya adalah bahwa ini salah satu bentuk ‘cocologi’: mencari kecocokan antara sains dan agama. Perilaku yang salah karena bentuk interaksi dalam mempelajari keduanya berbeda. Sains berangkat dari pertanyaan dan meragukan. Agama berangkat dari keimanan, kepercayaan tanpa ragu. Saya tidak bermaksud berkata bahwa agama membodohi. Yang bodoh adalah jika memaksakan cocologi untuk mengakomodasi kelemahan iman.

Kedua, saya akan harus mengalihkan pembahasan periwayatan hadits kepada yang lebih ahli. Saya tidak menguasai ini dan saya tidak ingin menyesatkan. Saya akan berkonsentrasi pada yang saya lebih mampu jelaskan saja: kimiawi, yaitu bagian tulisan yang ini:

[…] ternyata dari salah satu milis kimia di Indonesia, ada yang menjelaskan secara teori bahwa: apabila kita hembus napas pada minuman, kita akan mengeluarkan CO2, yaitu carbon dioxide, yang apabila bercampur dengan air H20, akan menjadi H2CO3, yaitu sama dengan cuka, menyebabkan minuman itu menjadi acidic. […]

Mailing-list mana tidak disebutkan. “Don’t shoot the messenger!” Ya, tapi kredibilitas pengantar informasi sangat dipertanyakan kalau H2CO3 disebut sebagai asam cuka. Masakan anggotanya ada yang menyatakan demikian, tidak diluruskan oleh yang lain? Jika tidak, entah milisnya tidak aktif atau itu sebetulnya bukan milis kimia. Kimia SMA sudah belajar menamai senyawa, sehingga penulis seharusnya tidak gegabah seperti itu.

“Salah dikit, ribut amat.” Kepentingan menamai senyawa memang beda dengan tingkat urgensi riwayat hadits. Tapi ketika dicomot dan disebarkan berantai seperti ini, kebodohan yang disebarkan lebih besar. Perawi hadits malah jarang dipermasalahkan karena jarang diperhatikan. Begitu dikatakan bahwa itu hadits, langsung manut.

Struktur molekul asam asetat
Struktur molekul asam asetat, dari Wikimedia commons.

Secara rumus molekul, keduanya berbeda cukup jauh. Asam cuka atau juga dikenal dengan asam asetat memiliki nama sistematis asam etanoat, dengan rumus molekul C2H4O2 – atau lebih dikenal dengan CH3COOH – dan rumus struktur seperti nampak di sebelah kanan. Asam ini adalah asam organik yang dapat dibentuk dari hasil oksidasi alkohol maupun fermentasi (menggunakan mikroorganisme).

Cuka dapur botolan memiliki bau kecut yang menyengat. Hindari mengendus larutan asam langsung dari botolnya, karena dapat mengiritasi saluran pernafasan. Walaupun tergolong asam lemah, namun asam cuka pekat juga dapat bersifat korosif/melukai kulit dalam konsentrasi tinggi.

 

Struktur molekul asam karbonat, sumber dari Wikimedia commons.
Struktur molekul asam karbonat, sumber dari Wikimedia commons.

Asam karbonat, dengan rumus molekul H2CO3, adalah asam yang terbentuk jika gas karbondioksida dilarutkan dalam air, menurut persamaan reaksi berikut:

CO2 + H2is in equilibrium with H2CO3

Tanda panah bolak-balik menandakan reaksi berjalan ke dua arah. Dalam hal ini, asam karbonat yang terbentuk sangat kecil (penjelasan mengenai ini lebih detil yang dikaitkan dengan konstanta kesetimbangan dapat dilihat di halaman wikipedia di tautan asam karbonat) dan karbondioksida yang masuk ke badan air tetap berbentuk molekul CO2, tidak berubah menjadi H2CO3.

Kelarutan gas dalam air makin kecil jika temperatur naik, sehingga karbondioksida (dan gas lain) akan makin sulit larut dalam air, dan kesempatannya untuk bereaksi membentuk asam karbonat juga semakin kecil. Kita dapat melihat dan menyaksikan sendiri betapa mudahnya karbondioksida lepas dari badan cairan dengan membuka wadah minuman bersoda. Buih yang terbentuk sesegera wadah dibuka atau minuman dituang adalah gas karbondioksida. Dengan demikian penjelasan keburukan kebiasaan meniup makanan panas karena khawatir terbentuk asam dari karbondioksida dalam napas menjadi kurang relevan.

Jika H2CO3 diasumsikan terbentuk karena ‘permukaan panas di makanan/minuman mendingin’, asam karbonat yang terbentuk tetap tidak akan sanggup membuat makanan atau minuman menjadi bersifat asam. Pertama, karena jumlah yang terbentuk sangat kecil (karena tidak stabil dan segera terurai lagi), kedua karena kadar asam di lambung kita (yang terutama berupa asam klorida, HCl) jauh lebih tinggi sehingga masuknya asam karbonat (kalaupun ada) tidak memberi pengaruh signifikan dan tidak perlu dikhawatirkan.

Dalam tulisan lain, dikatakan tentang risiko asidosis. Menurut saya ini terlalu jauh. Asidosis adalah keadaan pH darah di bawah normal (pH normal darah adalah sekitar 7.35-7.45). Memang risiko kejadian asidosis dapat fatal, tapi risiko asidosis dari meniup makanan/minuman nyaris tak ada. Asam karbonatnya saja sudah sulit terbentuk, apalagi mempengaruhi pH dalam lambung dan mengganggu metabolisme.

Jadi bagaimana? Karena risikonya sangat minim lalu hadits-nya salah? Ya tidak begitu. Nabi mendapat petunjuk langsung dari Allah SWT. Yang kita imani adalah Allah dan Rasul-Nya. Jika penjelasan ilmiah tentang Kitabullah dan Hadits belum ada, tidak lantas itu salah, karena iman tidak harus dibuktikan oleh sains. Dan sangat mungkin pengetahuan kitalah yang belum tuntas perkembangannya. Oleh sebab itu, hindari ‘cocologi’.

Selamat menari dengan sains 🙂

:: Bacaan lain:

Alasan di Balik Larangan Meniup Makanan yang Masih Panas. (Tulisan yang bagus!)

26 Februari 2013, Agung Sagita di Facebook menanggapi:

Kok ada makanannya? Bukannya hadits cuma tentang minuman, klo aku sih ngebayangin bejana itu kyk gentong gede nampung air, di arab kan air susah, jadi tempat airnya gede, dipakai rame-rame. Dan klo misal airnya abis tinggal dikit, dan orang butuh air, harus masukin kepala nyiduk pake gelas kecil, hehehe, nah saat ngambil itu yg ga boleh napas, jijik…

Terima kasih untuk fokusnya, mas Agung. Begitulah salah satu sisi maksa-nya. Bahkan tidak menyebut tentang panas. Mari kembali ke tafsir hadits 😀

Meniup Makanan Panas dan Pembentukan Asam
Tagged on:                     

12 thoughts on “Meniup Makanan Panas dan Pembentukan Asam

  • February 25, 2013 at 1:49 pm
    Permalink

    Wah, ini dia!

    #KimiaGarisKeras

    Reply
    • February 25, 2013 at 2:00 pm
      Permalink

      Kamu jadi ketua tim kempen BananaTalk aja piye?
      Atau editor judul. Sangar, rek. Traffic-ku naik 😀

      Reply
  • February 25, 2013 at 4:02 pm
    Permalink

    halooooooooooooooooooooo apa kabar….dah lama ga baca tulisan2nya lita..hehhe

    Reply
    • February 25, 2013 at 9:55 pm
      Permalink

      Ahahaha… halo, mbakyu Eka.
      Iya sini mari silakan baca lagi boleh 😀

      Reply
  • February 26, 2013 at 10:45 am
    Permalink

    Cocologinya gagal. Mgkn akan ada cocologi lain yg disiapin orang untuk mengajak mereka ngikutin sunnah. Langkah yg sering ditempuh orang kayak mereka untuk mengajak orang2 yg mementingkan akal.

    Tapi, masih nggak terjawab ya alasan kenapa Rasulullah menganjurkan seperti apa yg disebutkan di Hadist? Hadistnya nggak dho’if kan ya?

    Reply
  • February 27, 2013 at 12:16 pm
    Permalink

    Larangan ‘bernapas pada bejana minuman dan meniupnya’ ada juga di sini atau sini (dengan bahasan yang persis sama) dalam bagian etika makan & minum. Tidak disertakan tafsir, mungkin karena sudah jelas.
    Bahasan ‘ilmiah’ lainnya hampir selalu mengaitkan hadits ini dengan pembentukan asam cuka, seperti tulisan yang kukutip ini.
    Di sini bagian ‘disahihkan oleh Albani’ dihapuskan karena berkaitan dengan Wahabi.
    Jadi… hmm… Ada yang lebih berkompeten?

    Reply
  • April 16, 2013 at 1:33 pm
    Permalink

    sangat menginspirasi… ijin share 🙂

    Reply
  • May 3, 2013 at 11:51 am
    Permalink

    nice info…bermanfaat bgt. ijin share ya..

    Reply
  • Pingback: Meniup Makanan dan Pembentukan Asam Karbonat – BananaTalk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *