Sementara murid-muridku sudah punya SIM A sejak masih bersekolah di SMA, di umur kepala tiga begini aku baru punya, bahkan baru belajar mengendarai mobil. Awalnya sangat enggan, tapi lalu harus mau hadapi kenyataan, tak mungkin selalu bergantung pada orang lain. Suatu saat harus bisa berkendara sendiri. Saat itu adalah bulan lalu.

Aku belajar mengemudi tidak melalui kursus. ‘Pengajar’ utamanya adalah adikku (yang paling lama dan lihai mengemudi), sepupuku, dan Yahya. Pelajaran pertama dilakukan dengan mobil transmisi manual, di kompleks perumahan yang relatif sepi sehingga aman bagi yang belajar dan pengguna jalan lain. Pelajaran kedua dengan mobil transmisi otomatis (yang kupakai seterusnya), mulai keluar dari kompleks perumahan. Pelajaran ketiga? Langsung menggelandang sampai ke Kota Kasablanka, tentunya didampingi, oleh adik yang tangannya siaga di hand brake. Motto? “Kalau ngga nekat, ngga akan bisa.”

Pelajaran baik yang ditawarkan oleh kursus mengemudi adalah ‘defensive driving’. Penjelasan tentang defensive driving ini diurai baik oleh RDC di website-nya di sini. Intinya, menjadi pengemudi yang mengutamakan keselamatan dan murah hati dalam mendahulukan pengguna jalan lain sesuai haknya. Kenapa kubilang murah hati? Karena pengendara agresif cenderung egois, mengutamakan jalan untuk dirinya sendiri, yang lain harus mau mengalah.

Aku pernah bertanya-tanya, berapa jam yang dibutuhkan untuk bernyali cukup menelusuri jalanan Jakarta? Aku bahkan tak ingat itu lagi (pertanyaan maupun jawabannya). Karena motto ‘kalau ngga nekat, ngga akan bisa’ itu tadi. Kalau sudah bisa dengan teknis kendaraan, rambu, dan lain-lain yang perlu, ambil ujian SIM lalu lakukan saja. Kapan sebaiknya mulai tidak ditemani? Kalau sudah bertekad untuk jalan sendiri. Ya ternyata jawabannya hanya bisa begitu. Buatku, 2 minggu ditemani, setelah itu sendiri.

Beberapa hari lalu ada teman yang berkata bahwa ia butuh waktu 2 tahun untuk berani mengemudi sendiri. Ya tidak apa-apa. Di Jakarta memang seram, kok :p Makin ke sini juga makin banyak hal absurd yang ditemui di jalan. Dari motor yang menyalakan lampu sign kanan tapi kemudian menyilang ke kiri, sampai mobil yang menerobos jalur hijau (iya, naik pembatas jalan dan melindas rumput) untuk putar balik paksa (karena kendaraan lain mengantre untuk putar balik di U-turn ‘betulan’). Atau mobil yang parkir menutupi jalan keluar, atau mobil berpelat hijau yang ‘membelah’ jalan di tengah kemacetan, dari lajur paling kiri langsung ke lajur paling kanan dan masuk busway.

Dari baret (kecil, pendek, sampai panjang), menyenggol trotoar di parkiran, menyundul motor yang tiba-tiba nyelonong ke kanan, hingga kemudi terkunci… semoga kebodohan-kebodohan yang kulakukan dalam sebulan ini sudah cukup dan tidak bertambah lagi. Dari yang sangat takut, hingga sekarang aku cenderung galak (lebih sesuai dengan sifat, sepertinya :p ). Dan yang jadi pembelaanku sekarang adalah “Defensive driving is defending your safe zone” 😆

Timbang dan ambil keputusan dengan cepat. Tegas. Ajeg. Patuhi rambu. Pikirkan keselamatan orang lain. Begitu yang diajarkan padaku. Jadi kalau ada yang tiba-tiba nyelonong masuk safe zone tanpa peringatan, tidak harus selalu rem mendadak. Bisa jadi berhenti mendadak atau banting kemudi akan makan lebih banyak korban (pengguna jalan di belakang /samping kita, misalnya). Untuk yang putar balik terobos jalur hijau tadi, aku kedipkan headlight, bunyikan klakson dan tidak kurangi kecepatan.

Baru sebulan memang, jadi wajar kalau ditanya, “Belum bawa anak-anak, kan?”. Jawabanku: sudah. Perintahnya tegas, kenakan sabuk pengaman. Karena sudah cukup besar, tidak kupasang child seater. Mengemudi sendiri cenderung lebih sembrono daripada ada orang lain dalam kendaraan, apalagi anak kecil. Jadi yang berkendara agresif, kupikir mayoritas tidak membawa penumpang.

Sekian berbagi ceritanya.

error
Defensive Driving

One thought on “Defensive Driving

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.