Lakukan Sesuai Porsimu

Aku pertama kali ikut acara Bincang Edukasi adalah saat diadakan di Sekolah Kembang (Kemang, Jakarta), juga untuk pertama kalinya. Awal tahun 2013, ketika aku merasakan semangat mengajarku pupus dan hati rasanya berantakan tak keruan. Lalu ditegur keras oleh pak Dedi Dwitagama, “Jadi guru itu nggak boleh galau! Makanya jangan bergerak sendirian. Cari teman! Bosan itu harus dilawan dan bisa diatasi.”

Tamparan yang sangat keras. Susah kok dicari sendiri lho, ya. Manja. Dari situ semangat bangkit kembali. Walau tidak lagi di sekolah, pasti ada yang bisa dilakukan. Dan nyatanya memang masih mengajar, kok. Jadi tidak ada alasan untuk berhenti bergerak.

Kemudian aku memutuskan untuk kembali bergabung dengan sekolah. Kali ini pilih sekolah swasta, yang lebih toleran persyaratan administrasinya. Bukan dalam hal kualifikasi, ya. Tapi dengan latar belakang engineering, bukan keguruan, dan tanpa akta 4 atau setara sertifikasi guru, ya ‘tidak mungkin’ masuk ke sekolah negeri. Dengan tidak dilanjutkannya program Kelas Internasional di sekolah negeri, kurikulum nasional tidak tampak menarik bagiku, selain memang jalan masuk ke sekolah negeri jadi tertutup.

Setelah diterima -dengan masa percobaan- di BMIS, aku kembali menghadiri Bincang Edukasi yang -kebetulan- diadakan di Sekolah Kembang lagi. Kali ini dalam rangka memperingati Hari Kartini, pembicaranya adalah pejuang perempuan. Dan lagi-lagi aku merasa ditampar.

Betapa beraninya ibu Retno dalam melakukan perlawanan dan memperjuangkan yang dianggapnya benar. Betapa gemasnya bu Itje terhadap kualitas sekolah dan pengajar di seantero Indonesia (dan beliau melakukan hal yang nyata untuk turut mengatasi masalah!). Betapa gigihnya bu Septi dalam memperjuangkan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya di rumah tanpa lembaga resmi sekolah. Dan betapa cerdasnya analisis bu Elin dalam mengupas berbagai tes yang dilakukan terhadap anak Indonesia, dan apa artinya bagi pendidikan di negara ini.

Sontak aku merasa malu. Mau menangis rasanya melihat foto-foto yang diperlihatkan bu Itje: sekolah di Indonesia tengah & timur. Jangankan kemewahan sarana dan pelayanan. Kemudahan pun tak ada. Masih beruntung jika tidak hujan dan guru bisa datang mengajar, karena perjalanan menuju sekolah sangat jauh dengan medan yang… tak terbayang bisa kutempuh. Dan bayangan sekolah baruku berkelebat, dengan fasilitas lengkap dan penyelenggara sekolah yang mendukung penuh… Aku merasa bersalah.

“Jangan merasa bersalah, nak! Semua sudah diatur Allah. Ada waktu dan kapasitasnya untuk masing-masing orang. Dan sekarang, inilah yang terbaik untuk kamu. Jangan bandingkan dirimu dengan yang menjelajah pelosok sana seperti itu. Lihatlah pengalaman & keahlian beliau yang membuatnya bisa sampai ke sana. Juga usia dan dukungan lingkungan. Belum waktunya untuk kamu. Kamu masih harus banyak belajar. Anakmu tak mungkin kau bawa, kan?” demikian tegur ‘bapak’ku di sekolah.

“Semua yang kamu alami ada hikmahnya. Juga menuntunmu ke keadaan yang sekarang. Semua ada waktunya. Dan inilah yang ditentukan Allah bagimu sekarang. Bapak ikut bahagia kamu sudah mendapat tempat baru, yang lebih bisa mendukungmu untuk maju. Bapak percaya kamu akan memimpin. Jangan lupa, tidak semua orang akan menyukai kita. Jadi hati-hati bawa diri. Lakukan yang benar, bukan yang mudah. Bapak percaya kamu bisa.” lanjutnya.

Kemudian aku berjuang menahan air mata yang nyaris tumpah karena melihat beliau juga sudah berkaca-kaca. Terima kasih, bapak…

5 Comments

  1. Erma

    May 4, 2013 at 6:18 pm

    Duh, mbacanya juga bikin hati bergetar mbak. Teruskan perjuangan mbak Lita!

  2. Lita

    May 5, 2013 at 9:29 am

    Terima kasih, mbak Erma :’)
    Iya, berusaha supaya semangat belajar terus, nih 🙂

  3. Kapkap

    May 20, 2013 at 11:00 am

    Ngebacanya 30 menit sebelum masuk kelas.

    Jadi inget, ada yang pernah bilang, “jadi dosen lebih enak. Ga kaya guru sekolah. Ga usah mikirin murid.”

    Jujur, aku ngerasa itu salah. Hal yang namanya “ngurusin murid” itu kembali ke si pengajar lagi. Siapa bilang dosen ga usah ngurusin murid? Apalagi di kampusku, 80% mahasiswa rata-rata mengalami masalah di keluarga/rumah. Sering denger mahasiswa curhat sebelum mulai kelas. Ada yang nanya, gimana cara bikin bangga orangtua karena kayanya ibunya atau ayahnya ga pernah muji dia walopun GPA dia 3.9 tiga semester berturut-turut. Ada yang komentar, lebih baik tiket perjalanan bisnis ayahnya untuk minggu depan dia robek atau dia umpetin, biar ayahnya bisa joging pagi keliling komplek sama dia. Ada yang bilang, dia harus sukses karena dia anak tunggal — dan, “kalo saya gagal, miss, ga ada yang bisa gantiin saya lagi di keluarga.” Ada yang masa bodoh. Ke kampus hanya karena disuruh. Karena orangtuanya punya uang. Merasa, “papa mama hanya mau “ngebuang” aku.”

    Padahal itu terjadi di satu universitas yang dari segi material dan dukungan udah sangat sangat sangat tercukupi.

    Jadi gimana, Nin?

    Insya Allah, saat ini kita maju dengan amunisi dan strategi yang lebih kuat, karena ada dukungan dan fasilitas. Ayo, jangan mau kalah 🙂 Kita juga bisa. Anak-anak itu mempunyai pandangan dan hati yang sama. Mereka ingin lebih baik.

  4. Lita

    May 20, 2013 at 11:11 am

    Makasiiiiih, Nin 🙂

    Dulu waktu pernah minta teman-teman untuk coba daftar jadi guru, mayoritas jawabannya sama, “Ngga tahan menghadapi anak SMA (gue disuruh ngadepin diri gue dalam bentuk anak SMA aja ogah). Beban moralnya lebih tinggi, ngga kaya dosen.”
    Di satu sisi, ini justifikasi. Kalau ngga mau atau ngga sanggup ya ogah aja hehe…
    Di sisi lain, kok ya ada benarnya. Rasanya sih banyak yang begitu, sebagai mahasiswa dituntut mandiri dalam hal berpikir maupun berbuat.
    Di sisi pengajar, eh ya pengajar mah punya kompas sendiri, ya. Bagaimanapun mahasiswa atau orang lain memandang, akan ada bagian kendali dalam diri sendiri yang menentukan dia akan jadi pengajar (dosen maupun guru) yang seperti apa.

    BTW, sekarang mahasiswa bisa curhat gitu ya ke dosen?
    Zamanku ngga begitu, kecuali ke pembimbing penelitian, mungkin.
    Atau karena kita sama-sama masih muda? *merasa boleh lah, yaaa hahaha…* Jadi keengganan lebih sedikit.

  5. dwitagama

    July 18, 2013 at 12:22 pm

    Allow bu lita …. Maaciw namaku di tulis … Mari terus mendidik, happy deh

Leave a Reply to dwitagama Cancel

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.