Kadang, melegakan jika ada orang lain yang berbicara atas nama kita. Misalnya untuk pertanyaan ‘sulit’ yang jawabannya tidak selalu bisa diterima dengan baik tanpa tersinggung. Ada sebagian orang yang bagaimanapun mereka berbicara, orang akan selalu memaafkan. Dengan kompensasi tentunya, seperti “Oh, ini orangnya memang begitu. Jangan didengarkan atau diambil hati.”

Pertanyaan sulit semacam “Lagian kenapa kamu mesti keluar, sih? Udah dibilang jangan dengerin orang-orang yang pada comel.” Aku akan terdiam untuk memikirkan kalimat tersingkat yang akan mewakili kerusuhan mendadak yang timbul di kepala. Sementara jawaban ringan seperti “Wani piro?” langsung melunakkan suasana dan menyudahi pembicaraan tanpa ada yang terluka. Jawaban yang jika aku yang mengatakan, tanggapannya akan lain dengan jika dikatakan oleh orang yang santai.

“Gitu doang udah bingung jawab?” Lha, bagiku itu pertanyaan serius. Jangankan yang begitu, ditanya “Mau ke mana, mbak?” oleh tetangga saja aku terdiam dulu (cuma mau jalan aja buang energi gitu). Padahal, seperti yang ibu bilang, jawab aja “Mau ke depan!”. Mereka juga tidak akan ribet tanya-tanya lagi. Toh hanya basa-basi, tidak benar-benar ingin tahu aku akan ke mana. Sekadar bicara saja, supaya tidak kelihatan cuek dan tidak peduli.

Aku nggak nyantai banget, ya. Mau jawab pertanyaan orang, sesederhana apapun, mesti dipikir dulu nantinya akan bagaimana dampaknya, apakah harus bergaya diplomasi atau nyeplos aja, frontal jujur atau basa-basi. Normal gak sih ini? 😆 *lah kok jadi insecure* Gimana dong caranya supaya bisa jadi lebih santai?

Jawaban Spontan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.