Refleksi Diri dengan Self Assessment

Mengapa Berbeda?

Pernahkah anda mencoba menerapkan satu resep masakan bersama orang lain, dan hasilnya sedikit berbeda dalam rasa (dan penampilan)? Pernahkah anda mencoba mengajari sesuatu pada anak dan tampaknya ia samasekali tidak mengerti namun ketika orang lain yang melakukannya hanya dibutuhkan sedikit usaha untuk ‘membuatnya’ mengerti?

Pertanyaan “Kenapa dia bisa dan aku tidak? Kenapa sebagian anak bisa dapat A sementara sebagian besar lainnya E? Kenapa pelajaran ini sangat sulit sedangkan pelajaran lain (rasanya) tidak?” tidak dapat dijawab dengan mudah dalam satu kalimat. Jadi saya tidak akan berusaha tampil menjadi dewi yang punya semua jawaban sempurna. Saya hanya akan bercerita.

Pengujian Diri (Self-Assessment)

Beberapa hari lalu saya mengadakan self-assessment untuk satu kelas dan satu subjek yang saya ajarkan (Environmental Management). Saya meminta masing-masing anak untuk menuliskan gaya belajarnya, topik apa yang menarik, yang kurang menarik, apa saja yang berhasil dipelajari (tidak selalu sesuai dengan yang direncanakan dalam lesson plan), pada hal apa saja mereka masih mengalami kesulitan, bagaimana sikap mereka terhadap pekerjaan rumah, pertanyaan ujian, dan apa yang mereka pikirkan/lakukan seusai kelas. Sebagai masukan perbaikan, saya minta mereka menuliskan apa yang mereka butuh gurunya untuk lakukan dan apa yang mereka sendiri harus lakukan.

Mengapa self-assessment? Karena saya percaya setiap kita sebetulnya mampu mengevaluasi diri. Membiarkan orang lain menilai kita tidak membuat kita sepenuhnya sadar atau mengakui kemampuan kita. Kita bisa saja dimarahi atas hasil yang jelek. Dan kita masih bisa memilih untuk tidak mendengarkan. Namun dengan mengevaluasi diri, kita memiliki kendali lebih atas diri sendiri. Mengakui kelebihan dan kekurangan. Mengarahkan sesuai yang kita mau. Dan pasti akan kita dengarkan, karena di dunia ini prioritas tertinggi bagi kita ya kita sendiri. Ego. Anak-anak SD bisa lakukan self-assessment, tentu remaja yang beranjak dewasa juga bisa.

Hasilnya seperti yang saya perkirakan secara umum, walaupun detilnya di luar dugaan saya. 20 siswa dan semuanya memberi respon unik terhadap topik yang dipelajari. Ada yang sangat menyukai topik hidrosfer (misalnya) dan yang lain sangat sebal. Ada yang meminta penjelasan lebih dalam, ada yang hanya butuh soal latihan, ada pula yang bilang “Just stay how you are, you are enough, the one needs improvement is me.”

Yang mengejutkan adalah adanya anak(-anak) yang jauh lebih menyukai subjek wajib ini ketimbang subjek lain yang dia pilih (keduanya saya yang mengajar). Saya tahu dia bukan satu-satunya anak yang memilih subjek kimia dan kemudian menyesal karena tingkat kesulitannya lebih tinggi daripada yang sebelumnya ia perkirakan. Yang menarik, anak-anak yang mengambil kedua kelas saya, yang mengeluh bahwa kimia sulit, rata-rata nilai kimianya lebih tinggi daripada rata-rata nilai manajemen lingkungan. Dipilih dan susah, tapi nilainya lebih tinggi. Begitu kira-kira rangkumannya.

Mengulik Hasil Self-Assessment

Saya tertarik pada perbedaan perilaku dan respon anak-anak terhadap kedua kelas ini. Namun karena belum mengadakan penelitian tentang ini, saya berkesimpulan umum: ketertarikan anak berkaitan sangat erat dengan usaha yang bersedia diberikannya untuk menguasai pelajaran tertentu.

Apakah ketertarikan anak berkaitan langsung dengan penguasaan gurunya? Ternyata tidak. Ada topik-topik yang saya kupas lebih dalam (karena saya memiliki ketertarikan dan pengetahuan lebih di sana, dibandingkan topik lain) yang dianggap menarik bagi sebagian anak; dan di saat yang sama dianggap sulit karena tidak menarik bagi sebagian lainnya.

Apakah dengan diberi kekuasaan memilih subjek maka anak akan ‘terjamin’ lebih tertarik? Tidak juga. Anak yang memilih kimia belum tentu karena suka dan bisa kimia, tapi sangat mungkin karena dia tidak suka subjek padanannya (misalnya studi bisnis).

Apakah dengan jumlah waktu dan tenaga yang dikeluarkan maka anak akan dapat nilai lebih tinggi? Belum tentu. Tapi bisa dipastikan jika anak beroleh nilai kurang dengan jumlah waktu dan tenaga yang banyak, nilainya pasti akan lebih rendah jika dia berhenti berminat dan berhenti berusaha. Mengapa ini penting? Karena tidak jarang terdengar “Untuk apa berusaha lebih? Toh dapetnya ya segitu-gitu aja.” Dengan usaha lebih banyak saja dapatnya kurang (menurut yang ditarget), apalagi dengan tanpa usaha. Semestinya begitu yang dipahami.

Yang konsisten saya temukan pada anak-anak dengan kinerja akademik yang baik adalah: suka atau tidak suka terhadap topik dan subjeknya, PR dan tugas dikerjakan, usaha yang diberikan relatif tetap tinggi (skala minimal 7 dari 10). Jika suka, bisa lebih tinggi. Kebalikannya dengan yang kinerjanya kurang: suka atau tidak suka, usaha yang diberikan relatif tetap rendah (skala maksimal 5 dari 10). Saya harus ingatkan kembali, ini adalah pengujian diri. Bukan saya yang menilai seberapa besar usaha yang mereka berikan. Tapi mereka sendiri.

Jadi Masalahnya Apa?

Apakah suasana kelas yang menyenangkan akan membuat anak dapat nilai lebih tinggi? Belum tentu. Suasana kelas penting untuk membuat anak nyaman mengembangkan diri. Bertanya, berdiskusi, beropini, bereksplorasi. Tapi suasana ini hanya berfungsi sebagai katalis, yang akan mempercepat reaksi. Kalau sedari awal bahan-bahannya tidak ada, ya tidak ada reaksi juga. Kalau tidak punya minat (dan tidak ada niat untuk berusaha berminat), ya tidak akan ke mana-mana walaupun katalisnya bagus.

Lalu bagaimana, dong? Ya begitu. Jadi solusinya apa? Ya persoalannya apa? Ini adalah pertanyaan yang lebih penting. Tidak setiap anak punya masalah yang sama. Jadi masing-masing harus kenali dulu apa yang dia butuhkan. Ini, menurut saya, adalah kendala utama. Anak-anak tidak mampu mengenali apa yang dia butuhkan. Mereka tahu apa yang mereka tidak suka, tapi mereka tidak tahu apa yang mereka suka.

Semacam mengajak kencan lalu dijawab “Terserah kamu!” tapi diajak ke sini situ, makan ini anu, tidak mau. Terserah-nya dengan syarat: yang aku suka. Tapi kesukaannya tidak jelas dinyatakan. Maunya pasangannya yang tebak-tebak. Sebagai guru, di situ kadang saya merasa seperti pasangan yang bingung: saya harus menebak-nebak dan kalau tebakan saya salah, murid dan orangtua marah. *garuk-garuk*

Mengenali Diri dan Identifikasi Masalah

Apakah semua siswa saya seperti ini? Tidak. Beberapa yang mengenal dirinya dengan baik mampu mengidentifikasi masalah. “Saya sulit mengerti kalau hanya penjelasan lisan. Bisakah dibantu dengan visualisasi? Animasi atau praktik, misalnya.” Carikan ilustrasi atau channel YouTube yang tepat. Atau “Saya mengerti namun masih ragu, bisakah saya diberi lebih banyak soal latihan atau case study?”. Buat lembar kerja. Atau “Saya kesulitan konsentrasi. Bolehkah penjelasannya tidak terlalu panjang?”, maka saya bagi-bagi ke dalam kunyahan yang lebih kecil dengan lebih banyak jeda.

Tapi saya tidak bisa berbuat banyak terhadap “Uhm… I don’t know…” selain berusaha menggali dan menggali. Saya punya waktu yang terbatas, baik itu untuk perlakuan pribadi atau untuk bertahan di satu topik. Maka yang terjadi adalah tarik ulur. Rasa. Rasanya begini akan lebih baik, mari kita coba cara ini. Rasanya cukup, mari kita lanjutkan perjalanan. Maka saya akan membuat kesalahan-kesalahan sepanjang perjalanan saya menemani murid-murid saya.

Guru Adalah Fasilitator. Katanya.

Transisi dari ‘diberi tahu’ menjadi ‘ditemani untuk mencari tahu’ ini tidak mudah. Saya tahu. Bahwa kegiatan belajar memerlukan kerjasama guru-murid-orangtua-sekolah, mungkin semua orang tahu. Tapi tidak semua orang sadar untuk menerima beban kesalahan ketika hasil yang didapat tidak sesuai dengan yang diharapkan. Paling mudah, salahkan gurunya (yang kurang becus mengajar) atau muridnya (yang emang gak punya bakat). Orangtua (seperti saya)? Apakah di rumah sudah maksimal bantu iklim belajar (bukan mendikte dan menyuapi, menemani ketimbang memandori)? Sekolah? Apakah memberi ruang toleransi cukup bagi ketiga pihak untuk berinteraksi, bermasalah, membuat kesalahan, berkompromi dan mencapai kesepakatan baru untuk akhirnya mengulang siklusnya lagi?

Untuk mencapai tahap ketika guru adalah fasilitator pembelajaran, bukan lagi pihak yang menyuruh buka buku wajib, ajarkan begini cara jawab soal, beri PR lalu menilai kertas tugas, semua pihak harus mau ambil tanggungjawabnya. Tidak bisa guru saja yang berusaha keras upgrade diri mampu jadi fasilitator namun murid maunya disuapi dan enggan beranjak dari kursi bayi yang nyaman (kalau masih bayi kan boleh menolak makanan, boleh nggak bisa jalan, boleh nggak mampu ambil makanan sendiri, boleh nggak bisa bersihkan kotoran sendiri), orangtua maunya anak masuk sekolah lalu di akhir tahun pelajaran jadi pintar tanpa mau tahu anaknya seberapa jauh berkembang dalam hal kemampuan belajar dan sekolah maunya semua anak lulus dengan nilai gemilang. Semua harus mau berubah dan lakukan sesuatu, ketimbang menuntut sesuatu.

Refleksi

Ketika tersampaikan ke saya bahwa “Kamu terlalu pintar, ndak pantas jadi guru. Mending jadi dosen saja.”… apakah itu dakwaan bahwa saya gagal menjalankan tugas saya? Ataukah itu hanya jeritan kesakitan dari sudut penyangkalan? Yang jelas, saya pilih menampar saya sendiri saja untuk merevisi banyak hal. Tak banyak guna cari siapa untuk disalahkan. Lebih baik kembali ke cermin.

Apa yang bisa saya lakukan? Pertanyaan yang paling penting. Bagi semua pihak.

Jadi kenapa saya kalau bikin sayur asem saja beda-beda rasanya tiap kali? Karena saya nggak pake takaran dan lebih sering pake mood, nampaknya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.