Ini bukan isu paling baru tapi juga tidak basi. Saya yakin masih akan menjadi topik pembicaraan cukup lama karena bahan kimia bernama baking soda ini banyak kegunaannya.

Keramaian seputar baking soda ini menarik bagi saya karena biasanya yang menarik perhatian (viral, diperbincangkan dan segera dilaksanakan/dipakai) adalah jika ada embel-embel ‘organik’ atau ‘tanpa bahan kimia’. Apa-apa yang mempunyai nama kimia menjadi seram ketika dibicarakan, apalagi dimakan. Harus dihindari. Jadi menarik sekali ketika dalam tren ini orang-orang justru tertarik pada bahan kimia! Dan itu untuk dikonsumsi.

Mengenal baking soda

Sodium bicarbonate, picture from Wikipedia
Sodium bicarbonate, picture from Wikipedia

Sebagai perkenalan, baking soda ini mempunyai nama natrium bikarbonat (sodium bicarbonate, dengan rumus kimia NaHCO3). Kenampakan fisiknya berupa kristal putih tak berbau dan pH-nya sekitar 10 dalam bentuk larutan. Senyawa ini adalah sejenis garam, yang dibentuk oleh ion Na+ dan HCO3¯. Jika ingin tahu mengapa ada imbuhan bi- di namanya, lebih baik kunjungi laman wikipedianya saja, ya.

Natrium bikarbonat ini adalah senyawa penting produk proses Solvay yang menjadi salah satu topik utama kuliah Proses Industri Kimia dahulu, yang mempelajari kegunaan, rute-rute sintesis senyawa dan alternatif bahan baku.

Jika diceritakan bahwa baking soda adalah bahan ‘ajaib’ karena kegunaannya melimpah, sebagian besarnya adalah karena sifatnya yang amfoter, yaitu dapat bereaksi dengan asam maupun basa. Mengapa sifat ini penting? Singkatnya begini, jika kita ingin menyingkirkan sesuatu, maka tambahkan zat lain yang akan bereaksi dengan zat tersebut namun tidak bereaksi dengan yang lain.

Misalnya kita ingin menghapus kerak, namun kita tidak ingin logam di sekitar kerak itu berada terkikis. Tindakan fisik tentunya berupa abrasi/pengampelasan. Tapi tentunya logam di sekitarnya akan ikut tergerus. Secara keindahan, goresan jelas mengganggu. Maka dicarilah cara untuk mengurangi kerak ini, setidaknya melunakkan, sehingga kita tidak perlu menggunakan ampelas. Maka solusinya adalah gunakan bahan kimia yang akan bereaksi dengan kerak namun tidak bereaksi dengan logam. Tentunya pembersih berbahan dasar asam kuat seperti HCl (asam klorida) tidak dipilih dalam kasus ini.

Sekadar selingan, jika saya ditanya oleh murid mengapa kita ‘harus’ belajar kimia, dulu saya dapat menjawab “Karena kimia itu [masukkan alasan keren di sini]”. Kini, jawaban saya tak lagi terdengar keren. Cukup “Supaya kamu gak gampang dibegoin orang”, atau “Supaya kamu tahu produk apa yang sebaiknya kamu beli sesuai kebutuhan”. Nah kalau membeli dengan hanya berdasarkan iklan produk-produk pembersih, tanpa memperhatikan zat aktifnya, bisa repot urusan rumah tangga. Maunya bersih tapi tegel copot, atau malah timbul karat. Bukannya menyelesaikan masalah malah nambah!

Pentingnya pengaturan keasaman

Begini, (Allah ciptakan) tubuh kita peka terhadap keasaman (konsentrasi ion H+ dan dinyatakan dengan pH) darah namun memiliki sistem kendali berupa paru-paru, ginjal dan buffer darah (whole body buffer system, blood, sweat and buffer). Sistem buffer ini terdiri dari pasangan asam lemah dan garamnya untuk menekan perubahan konsentrasi H+ yang drastis. Jika ada masukan berupa asam, maka asam tersebut akan bereaksi dengan garam yang ada dalam buffer. Jika ada masukan berupa basa, maka basa tersebut akan bereaksi dengan asam yang ada dalam buffer.

Mekanisme pengaturan pH tubuh bersifat otonomi alias bukan kita yang mengatur secara sadar. Terbayang kalau kita yang atur, dan kita orangnya pelupa, buyarlah tubuh kita ini.

Mengapa keasaman ini penting? Zat-zat penting dalam tubuh kita yang peka terhadap pH dan temperatur adalah protein dan enzim. pH dan temperatur yang tidak tepat akan membuat protein terurai dan enzim berhenti bekerja atau rusak. Jika keadaan ini terjadi maka proses metabolisme tubuh akan terganggu dan dapat mengakibatkan kematian.

pH adalah skala logaritmik konsentrasi ion H+ dalam larutan. pH memiliki rentang nilai 0 hingga 14, dengan pH 0 adalah paling asam dan pH 14 adalah paling basa (dalam kondisi tekanan udara atmosferik dan temperatur 25º). Tengah-tengahnya adalah 7, sehingga acapkali pH 7 dikatakan sebagai netral, berimbang, tidak asam dan tidak basa.

Ngomong-ngomong, jangan lah ya bilang kalau jeruk nipis itu baik untuk lambung karena dia basa. Alasan “Rasanya memang asam, tapi jeruk nipis itu basa!” jangan dipakai. Rasa sitrus itu asam karena mengandung asam, jadi sifatnya asam. Kalau masih kurang yakin, coba pakai kertas pH, deh. Saya jangan diajak ngeyel pake “Katanya pH-nya 8.5!” Dicoba saja sendiri. Ya?

Pengatur keasaman tubuh berupa ion HCO3¯, protein dan ion H2PO4¯ yang akan menjaga supaya pH darah berada dalam rentang sekitar 7.36 – 7.42. Jika pH darah turun di bawah rentang tersebut maka kondisi tersebut dinamakan asidosis dan jika pH darah naik di atas maksimal maka kondisi tersebut dinamakan alkalosis.

Tidak ada yang lebih baik di antara asidosis maupun alkalosis, karena keduanya berisiko tubuh berhenti berfungsi dan dapat menyebabkan kematian. Jadi tidak benar jika dikatakan lebih baik tubuh kita basa daripada asam. Yang benar ya pH harus dalam rentang normal.

pH berbeda sesuai fungsinya

pH yang disebutkan sebelumnya adalah pH darah, namun tidak berarti seluruh tubuh memiliki pH yang sama. Misalnya pH di lambung yang berkisar antara 1.5 hingga 3. Lambung  memproduksi asam untuk dapat mencerna makanan yang kita makan. Tak tanggung-tanggung, yang dihasilkan oleh sel-sel epitel di lambung ini adalah asam klorida, salah satu asam kuat yang dapat mengiritasi kulit. (jangan khawatir, lambung juga memiliki pengaman dari asam ini). Asam kuat ini berfungsi penting untuk menonaktifkan mikroorganisme (mencegah infeksi melalui makanan), memecah protein, dan mengaktivasi enzim untuk pencernaan protein.

Kadar keasaman campuran makanan dan asam lambung ini akan menjadi kode bagi terbukanya katup ke arah usus, dinetralkan oleh enzim pankreas dan natrium bikarbonat (diproduksi oleh tubuh) sehingga tidak melukai usus. Yang berarti apapun yang masuk usus akan mencapai pH yang sama di daerah ini. Jadi air alkali (kangen water dan sejenisnya) maupun makanan masam akan berujung sama: diasamkan oleh asam lambung lalu dinetralkan.

Usaha untuk membuat tubuh menjadi basa dengan air alkali atau natrium bikarbonat itu minimal tidak berguna (walaupun efek plasebo bisa terjadi!), jika tidak membahayakan.

Jika asam lambung terlalu sedikit atau kondisinya lebih basa daripada yang seharusnya, maka makanan akan berada dalam lambung untuk waktu yang lebih lama dan proses pemecahan nutrisi tidak lancar sehingga pencernaan terganggu. Juga ada kemungkinan mikroorganisme dapat bertahan bahkan bertumbuh (karena tidak mati oleh asam lambung sedangkan makanan tersedia -sebab tidak dapat dipecah dengan baik) sehingga risiko infeksi menjadi lebih tinggi.

Baking soda & klaim penyembuhan yang belum terbukti

Konon, terapi baking soda berawal dari kepercayaan bahwa asam itu tidak baik bagi tubuh. Jika seseorang tidak sehat, maka itu pasti disebabkan oleh kesetimbangan asam-basa yang terganggu, dengan kata lain kondisi tubuhnya asam. Untuk menanganinya, harus diberi basa untuk mencapai ‘healthy alkaline existence’. Healing power. Remedy.

Layaknya obat, baking soda dipakai untuk menyembuhkan penyakit. Di antara klaim tersebut adalah dapat membantu melawan selesma dan influenza hingga terapi pengobatan kanker. Sebagian orang percaya bahwa mengonsumsi/menelan larutan baking soda dapat membantu memelihara keseimbangan pH di aliran darah kita.

Beberapa orang menulis di laman Facebook-nya bahwa terapi baking soda ini populer. Sebagian mempromosikan, sebagian lagi mengkritisi. Namun bagian promosi ini tidak pernah mampir di linimasa saya, sehingga saya tidak tergerak menanggapi.

Barulah timbul dorongan ketika sahabat saya bertanya tentang baking soda ini karena ia menjadi subjek promosi. Setelah beberapa ujaran, inginlah saya tahu, dasarnya dari mana sih? Katanya dari jurnal. Berhubung perpustakaan universitas saya berlangganan seabrek jurnal, saya carilah dengan kata kunci seadanya. Tidak ada. Saya minta tanyakan, jurnalnya apa? Dikirimlah screenshot ke saya: 3 sampul e-book. Haduh, maksud saya jurnal ilmiah, yang dikurasi oleh perkumpulan profesi. Lalu tidak dijawab. Dan percakapan tidak berbalas dari seberang sana.

Mengapa harus jurnal? Karena begitulah caranya kamu mendapat pengakuan atas karyamu. “Nggak diakui juga nggak apa-apa.” Lho bukan begitu. Dunia ilmu pengetahuan itu selalu berubah. Perubahannya disumbang oleh orang-orang yang berbagi hasil pemikirannya. ‘Dikunyah’ oleh orang-orang sejawat, dikritisi kelayakan metode penelitian dan keabsahan hasilnya. Apalagi ini acuan tindakan kesehatan lho, bukan info belanja camilan di mana. Dampaknya sangat serius. Makin besar klaimnya, makin besar tanggung jawabnya.

“Mereka tidak setuju dengan ide yang groundbreaking!” Saya akui kelembaman semacam itu ada saja di semua bidang. Tapi saya tidak percaya perkumpulan profesi internasional akan menolak ide yang bermanfaat bagi umat manusia jika tidak karena kekurangan atau kesalahan (fatal) dalam paper yang diajukan untuk ditinjau.

Ngomong-ngomong, yang diajukan ke saya itu ternyata bukan dokter yang M.D. alias medicinae doctor a.k.a medical doctor, lho. Tapi doctor of oriental & pastoral medicine. Bukannya mustahil orang di luar dunia kedokteran dapat menghasilkan karya yang mendobrak, tapi kalau bukan dokter lalu kalian mengira dia dokter kemudian apa omongannya diikuti padahal berlawanan dengan ilmu kedokteran, yang mau tanggung jawab kalau sesuatu terjadi pada kalian siapa?

Berikut ini sedikit bacaan yang menjadi sumber:

Klaim Baking Soda untuk Kesehatan
Tagged on:                                             

4 thoughts on “Klaim Baking Soda untuk Kesehatan

  • Pingback: Kangen water – BananaTalk

  • January 6, 2017 at 3:17 am
    Permalink

    Jadi sebenernya jeruk nipis diminum untuk penyakit lambung itu membantu gaaaaaak? *yang abis disindir teman (yg minum jeruk nipis) karena gw masih minum infused water*

    Reply
    • January 6, 2017 at 2:29 pm
      Permalink

      Beri aku waktu untuk ngubek jurnal, ya. Kalo sindiran mah biarin aja, kecuali yang nyindir bisa jelasin dengan nukilan sahih.

      Reply
      • January 6, 2017 at 4:32 pm
        Permalink

        Aku gak bisa, Mz, ngebiarin sindiraaaan…. *masalah banget* hahahaha

        Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *