Dimulai dari pertanyaan “Mengapa wajan teflon perlu sertifikasi halal?”. Pertanyaan yang harus ditanggapi pertanyaan dulu, “Memangnya wajan teflon berisiko tidak halal?”

Saya salinkan di sini, verbatim, dari rangkuman tweet yang dibuat akun @HalalCorner.

  1. Kenapa ya #WajanTeflon perlu ada sertifikasi Halal-nya? Ini nih HC’ers jawabannya
  2. Pelapisan wajan besi atau seasoning dilakukan utk mencegah peralatan yg terbuat dari besi, lengket & berkarat
  3. Bahan utama pelapisan/seasoning adalah minyak atau lemak padat
  4. Proses pelapisan ini adl proses perubahan minyak/lemak menjadi bentuk polimer akibat suhu tinggi & membenyuk lapisan tipis
  5. Pelapisan ini dilakukan berulang kali smp akhirnya permukaan wajan hitam, licin & mengkilat
  6. Sehingga wajan akan tdk lengket dan membuat telur mata sapi yg sempurna
  7. Minyak atau lemak yg digunakan bisa dari Nabati atau Hewani
  8. Lemak padat dari hewani bisa berasal dari Lemak BABI
  9. Sedang Minyak Nabati biasanya dr minyak : kelapa, kelapa sawit, kacang, jagung, kanola, zaitu dan flaxseed oil
  10. Nah HC’ers peralatan Teflonnya pakai lapisan dari lemak babi atau minyak nabati nih? BIG QUESTION

Material Teflon

Teflon adalah nama dagang terdaftar oleh anak perusahaan DuPont untuk senyawa polimer politetrafloroetilen (PTFE compound summary). Polimer ini dibangun oleh monomer tetrafloroetilen (1,1,2,2-tetrafloroetena), pertama dibuat secara tidak sengaja oleh Roy Plunkett yang sebetulnya sedang mencari refrigeran (bisa disimak di madehow).

Polimer ini memiliki titik leleh di atas 300°C, jauh di atas titik didih air dalam tekanan atmosferik. Sifatnya yang kuat, fleksibel, self-lubricating (sifat anti lengket yang dicari) dan inert (lembam, cenderung tidak bereaksi) membuatnya cocok digunakan sebagai pelapis alat masak. Tidak lengket dan tidak bereaksi ini sifat yang penting karena kita tidak ingin bahan kimia beracun terlucuti dari wadah dan masuk ke makanan.

Sampai sini penjelasan saya tentang pelapis anti lengket. Kembali ke persoalan.

Kehalalan

Pelapisan wajan besi atau seasoning dilakukan utk mencegah peralatan yg terbuat dari besi, lengket & berkarat

Seasoning itu seingat saya hubungannya dengan bumbu, bukan pelapisan. Kalau tidak yakin silakan diperiksa ke kamus yang dipakai. Atau ini bukan bahasa Inggris?

Tambahan (dari mas Yeni dan mbak Memeth): seasoning yang dimaksud tweet tersebut mungkin adalah pelapisan alat masak non anti-lengket menggunakan minyak/lemak. 

Proses pelapisan ini adl proses perubahan minyak/lemak menjadi bentuk polimer akibat suhu tinggi & membenyuk lapisan tipis

Perubahan monomer menjadi polimer bisa di temperatur tinggi atau rendah. Tapi jika hubungan antara minyak dengan polimer ini timbul karena mengira teflon dibuat dari minyak/lemak, teflon tidak dibuat dari minyak ataupun lemak. Dengan demikian poin-poin selanjutnya bisa diabaikan.

Jadi hubungannya dengan halal apa?

Tidak ada. Yang dijelaskan perlu halal oleh akun tersebut adalah minyak atau lemak yang digunakan. Jika yang dimaksud adalah minyak atau lemak masak, saya setuju, muslim harus mengupayakan kehalalan. Tapi yang dibahas kan pelapis anti lengket, toh? Tidak ada hubungannya dengan lemak.

Tapi minyak/lemak kan mencegah lengket?

Iya. Salah satu alasan kita memakai minyak/lemak selain sebagai pengantar panas (medium memasak), mengikat rasa, memang supaya bahan makanan tidak lengket di alat masak. Minyak/lemak yang dituang ke alat masak. Kuncinya ada pada DITUANG/DIMASUKKAN. Kita yang memasukkan.

Ya tapi kan pelapisnya harus halal?

Nah ini. Keraguan halal atau tidak (di luar bahasan kita mendapatkan alat masak ini dengan nyolong atau pakai rezeki halal) itu muncul karena asal bahan pembuatnya diragukan. Di atas sudah dijelaskan bahwa bahan pembuatnya adalah tetrafloroetilen. Ini bukan lemak atau minyak. Bukan bahan yang berasal dari mahluk hidup. Ini senyawa kimia sintetik. Cara pembuatan bisa dilihat di sini.

Kalau mau makanannya halal, pakai bahan makanan halal, belinya dari rezeki yang halal, pemakaian alat masaknya tidak dicampur dengan yang digunakan untuk memasak makanan yang tidak halal. Bukan nanya lapisan teflon halal atau tidak.

Peluk agamamu dengan baik. Asah logika supaya tetap dapat digunakan. Dan sekali lagi: jangan berlebihan.

Jaka sembung bawa ikan. Yang ngga nyambung, tenggelamkan!

Wajan Teflon dan Kehalalan
Tagged on:                         

13 thoughts on “Wajan Teflon dan Kehalalan

  • January 16, 2017 at 5:50 pm
    Permalink

    Betul, twit yang disampaikan di atas tidak nyambung.

    Seasoning yang biasa dilakukan pada perlengkapan masak adalah pada wajan berbahan besi, misalnya wok yang digunakan di masakan Cina atau tukang nasi goreng keliling.

    Untuk perlengkapan masak berlapis teflon tentu saja tidak perlu seasoning karena sudah dari pabrik nggak bakal lengket 😀

    Reply
    • January 16, 2017 at 5:57 pm
      Permalink

      Terima kasih!
      Saya tidak kenal istilah itu 😀
      *ketahuan ngga suka masak*

      Reply
  • January 16, 2017 at 6:06 pm
    Permalink

    wah baru mau nulis ulang di sini. iya seasoning yang dimaksud adalah khusus untuk iron cast skillet, wajan datar terbuat dari besi yang tebal dan berat. ini rentan berkarat, jadi untuk membuatkan licin dan tidak gampang berkarat, harus di-season alias dilapisi dengan minyak dan dipanaskan, lalu tiap kali selesai memasak tidak boleh dicuci dengan sabun, tinggal dibilas pakai air hangat. tapiii, tweet si halal corner tiba2 belok ke wajan teflon, yang beda jauh ketimbang iron cast skillet: lebih murah dan jauh lebih ringan.

    Reply
    • January 16, 2017 at 6:09 pm
      Permalink

      *manggut-manggut* Oh cuma yang datar aja?

      Reply
  • January 18, 2017 at 11:59 am
    Permalink

    Apa kabar di Jepang yak? Nyari yang halal ada sik, tapi kadang kalau ke resto gitu kita gak tau minyak yang dipake apaan. :’)

    Reply
    • January 18, 2017 at 6:49 pm
      Permalink

      Nyari wajan halal? 😝
      Iya, harus tanya

      Reply
  • February 3, 2017 at 2:53 am
    Permalink

    Yang paling utama memang belinya kudu pake rejeki halal sik…

    Reply
  • April 9, 2017 at 12:35 am
    Permalink

    nah, pertanyaan saya mbk:
    apakah berarti admin HC itu tidak ahli dalam hal ini?
    kok jadi ingat kasus kaos kaki halal dan kerudung halal ya

    dan jadi inget juga kasus saya pribadi, mantan pegawai BPOM (gk tau sih dulunya beliau di bagian mana) bergabung dengan perusahaan skincare “organik” (ya yang itulah mbk, saya gak ngerti penyebutannya yang tepat gimana. btw saya juga menggunakan produknya), dan membuat pernyataan: tidak semua yang mengandung senyawa kimia itu disebut bahan kimia. saat saya bertanya kejelasan pernyataan beliau (seperti jurnal yang perlu saya baca, karena bagi saya pernyataan beliau merupakan informasi baru), saya “diserang” oleh anggota lain yang berkata bahwa beliau pasti lebih tau karena beliau ahlinya bla bla bla. Tapi kemudian beliau tidak pernah menjawab pertanyaan saya secara proper. Meskipun baru hari ini akhirnya saya temukan jawabannya pada tulisan mbak 10 tahun yang lalu. dan tiba2 kesimpulan saya: beliau tidak tahu, atau mungkin denial karena perlu membela perusahaan skincare nya?

    eh, kok saya jadi OOT dan curhat ya
    ya begitulah mbak

    Reply
    • April 13, 2017 at 3:15 pm
      Permalink

      Menurut saya tidak perlu keahlian tentang wacana wajan halal.
      Ngga ada bagian dari wajan yang bisa bikin ngga halal.
      Kecuali wajannya sudah/sedang dipakai, menggunakan bahan yang diragukan.
      Tapi itu kan bahan makanannya, bukan wajannya.
      Hanya memilah mana yang dibahas. Ini murni nggak nyambung aja.

      “Tidak semua yang mengandung senyawa kimia itu disebut bahan kimia” ada benarnya.
      Karena tidak ada satupun zat non unsur yang mewujud di dunia ini yang bukan senyawa kimia 😀
      Air sekalipun adalah senyawa kimia dan kita memang tidak bilang air adalah bahan kimia.
      Namun berkata ‘tidak mengandung (bahan) kimia’ hanya slogan kosong. Tidak diberi aditif, mungkin lebih tepat.
      Label ‘organik’ memerlukan rujukan khusus yang seringkali berlaku lokal (Indonesia berbeda dari Amerika Serikat, misalnya).

      Konfirmasi langsung ke pembicaranya memang tepat. Namun jika tidak dijawab ya… bagaimana, dong? Hehe…
      Mungkin sibuk. Atau tidak ingin menjawab.

      Reply
      • April 13, 2017 at 4:26 pm
        Permalink

        Wah jadi menarik nih mbk. Jadi yang bisa disebut bahan kimia itu yg seperti apa mbk?
        Maksud saya ahli itu, paham bagian mana yang harus dibahas halal haramnya dan bagian mana yg gak perlu.
        Mungkin setelah wajan, kerudung, kaos kaki, akan ada udara halal juga? #eh

        Reply
        • April 13, 2017 at 5:25 pm
          Permalink

          Begini.
          Dinar, dirham. Dibuat dari logam. Apakah kita perlu bahas halal-haram? Apa yang mungkin tidak halal dari logam? Ngga ada yang bahas logam mungkin haram, ya karena logam tidak dibuat dari turunan mahluk hidup.

          Wajan teflon. Dibuat dari logam dan lapisan teflon, yang asalnya adalah polimer buatan turunan minyak bumi. Tidak halalnya mau dari mana? Saya berhenti bahas di sini karena teflon tidak dibuat dari mahluk hidup. Sudah. Sekian. Tidak nyambung dengan halal-haram.

          Iya sih, minyak bumi itu asalnya dari fosil, mahluk hidup purbakala. Mungkin ada babi purba juga yang jadi fosil dus masuk ke minyak bumi. Kalau itu asal muasal tidak halal, saya nyerah bahas, deh hehehe…
          Lho alternatifnya wajan halal itu dibikin dari apa? Teflon juga, tapi teflon halal? =)) Bedanya apa teflon halal dan tidak? Sama-sama tidak ada kandungan mahluk hidupnya, kok.

          Jadi ya… ini riweuh di bagian yang dibikin riweuh sendiri.

          Mengenai bahan kimia, saya berpegang pada definisi awal. Bahan atau zat kimia adalah yang memiliki rumus kimia tertentu, baik itu hadir secara alami (ada di alam) maupun sintetis (dibuat manusia).
          Jadi bagi saya, dengan latar belakang ilmu kimia, semua zat/materi yang dibentuk oleh unsur atau gabungan unsur ya bahan kimia.

          p.s. Saya berlepas dari bahasan ruh, ya.

          Reply
          • April 13, 2017 at 5:33 pm
            Permalink

            Terima kasih mbk informasi tambahan yg sangat detail
            Kadang halal (atau organik?) dijadikan sekedar strategi marketing sih

          • April 13, 2017 at 5:40 pm
            Permalink

            Betul sekali. Yang bikin repot memang ketika itu sekadar strategi pemasaran ketimbang kepedulian.
            Saya mengerti permasalahan sepatu kulit babi, tapi saya tidak mengerti perlunya wajan teflon halal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *