Sabun, Deterjen, dan Kelembutan Busa

Dulu dosen pengajar Dasar-dasar Rekayasa pernah berkomentar di sela kuliah.

Kalo pengen kulitnya bersih banget, mandi aja pake deterjen. Dijamin bersih, soale lemak-lemak kulit keangkat semua.

Saya hanya tertawa waktu itu. Lama setelah kuliah itu berlalu, saya sadar bahwa sayalah yang terlalu lugu (bodoh mungkin lebih tepat).

Sang dosen samasekali tidak bergurau. Pada kenyataannya, selama belasan tahun saya mandi dengan deterjen! Dan sekarang saya menertawakan diri yang saat itu tertawa. "Kenapa dulu gue ketawa ya?"

Pernah menyaksikan iklan sabun B*ore (penyamaran merek seadanya saja sekadar tidak dirambah mesin pencari :mrgreen:)? Pada saat audio pengantar iklan menyebutkan 'formulanya ramah di kulit' maka tayangannya berupa busa yang disentuh dengan tangan beserta tulisan 'skin friendly formula'.

Jujur, saya bingung. Apa hubungannya antara busa dan formula ya? Seolah berlaku premis: Jika (produk menghasilkan banyak) busa maka (formula produk) lembut.

Bahan yang digunakan untuk menghasilkan busa JUSTRU (biasanya) tidak ramah di kulit!

Saya pernah membandingkan busa yang dihasilkan oleh sabun batangan biasa (tanpa klaim yang berkaitan dengan kelembutan apapun) dan sabun dengan merek tersebut. Menggunakan shower puff, ternyata secara kenampakan busa yang dihasilkan sama saja.

Intinya, jika anda ingin mencari produk pembersih dengan formula yang ramah di kulit, tinjau komposisi dan bahan aktifnya, bukan dari busanya. Hindari produk yang mengandung bahan pembuat busa karena biasanya bahan ini juga bertindak sebagai surfaktan yang tidak ramah pada kulit. 

Tulisan saya secara singkat dan padat berhenti di sini. Selanjutnya saya akan mendongeng sesuai judul, dengan penjelasan yang mungkin bikin pusing dengan banyak istilah kimia. Pilihan ada di tangan anda. Tinggal klik saja :mrgreen:

Dari manakah produk pembersih kulit dinilai lembut? Dari pH yang mendekati pH kulit? Dari jenis pembersih yang digunakan? Dari formula yang digunakan? Dari pelembap yang ditambahkan? Dari 'rasa' di kulit setelah penggunaan? Atau dari lembutnya busa?

Dari mana anda tahu itu bukan sabun? (jika anda membeli suatu produk karena tagline 'D*ve bukan sabun') Dari mana anda tahu pH produk dan pH kulit? Dari mana anda tahu tentang formula anu lembut? Dari mana anda tahu produk yang anda beli memberi apa yang anda inginkan? Dari mana hubungan antara busa dan formula?

Bingung? Berarti anda kini mulai memikirkannya. Bagus. Singkirkan dulu doktrin dari iklan-iklan itu. Hapus dulu bingungnya, saya mau melanjutkan dongeng.

Sabun.

Saya sudah pernah menulis tentang sabun. Tapi berhubung jauh dari lengkap (atau malah ngawur di sana-sini ya?), baiklah kita lengkapi sekarang. Sabun itu apa sih?

Sabun adalah surfaktan yang digunakan untuk mencuci dan membersihkan, bekerja dengan bantuan air. Sedangkan surfaktan merupakan singkatan dari surface active agents, bahan yang menurunkan tegangan permukaan suatu cairan dan di antarmuka fasa (baik cair-gas maupun cair-cair) sehingga mempermudah penyebaran dan pemerataan.

Sabun dihasilkan oleh proses saponifikasi, yaitu hidrolisis lemak menjadi asam lemak dan gliserol dalam kondisi basa. Pembuat kondisi basa yang biasanya digunakan adalah NaOH (natrium/sodium hidroksida) dan KOH (kalium/potasium hidroksida). Asam lemak yang berikatan dengan natrium atau kalium inilah yang kemudian dinamakan sabun.

Bahan baku pembuatan sabun berupa minyak atau lemak, baik hewani maupun nabati. Jika basa yang digunakan adalah NaOH, maka produk reaksi berupa sabun 'keras'. Sedangkan jika yang digunakan adalah KOH, maka produk reaksi berupa sabun 'lunak'.

Jangan bingung dengan istilah keras dan lunak. Ini istilah kimiawi, seperti air sadah dan air lunak. Bukan mengacu pada kerasnya sabun jika digunakan untuk memukul sesuatu. 

Masalah mulai ruwet ketika kata 'sabun' telah digunakan sebagai 'nama' bagi pembersih (padat/batangan, krim maupun cair). Bahkan cairan pembersih yang tidak memiliki bahan aktif sabun pun kita kenal sebagai sabun.

Berlaku pula sebaliknya. Coba anda perhatikan pembersih yang anda gunakan. Apakah benar-benar tidak mengandung sabun (jika itu yang dikatakan produsen)?

Deterjen.

Akibat pergeseran arti tadi, kita tak sadar bahwa hampir semua macam 'sabun' yang kita gunakan sehari-hari sebenarnya adalah deterjen.

Apa itu deterjen? Deterjen adalah sebuah (atau gabungan beberapa) senyawa, yang memudahkan proses pembersihan (cleaning). Istilah deterjen kini dipakai untuk membedakan antara sabun dengan surfaktan jenis lainnya.

Deterjen dalam pengertian kimia bukanlah R*nso, A*tack, dan kawan-kawannya. Produk-produk itulah yang mengandung deterjen, dan kemudian malah menggantikan deterjen sebagai makna generik (misalnya: Aspirin ketimbang asam asetilsalisilat). Ya begitu. Salah kaprah. Setengah-setengah.

Kenapa jadi deterjen? Awalnya kan sabun? Karena harga deterjen lebih murah, lebih efektif (karena tetap bekerja dengan baik pada air sadah), dan lebih mudah dibuat.

Busa.

Ada bahan yang efektif menghasilkan busa dan harganya murah. Namanya sodium laureth sulfate (SLS) atau sodium lauryl ether sulfate (SLES), sama saja. Senyawa ini adalah juga surfaktan. Alternatif penggantinya adalah sodium dodecyl sulfate atau ammonium lauryl sulfate (yang lebih sering saya lihat di label produk).

Penghasil busa ini dapat membantu pemerataan produk dengan lebih baik saat digunakan, misalnya saat mencuci rambut atau menggosok gigi. Sebagai kompensasinya, ketika dibilas, produk ini tidak hanya membersihkan area yang terpapar tapi juga mengangkat kelembapan dari lapisan atas kulit (epidermis, sang pelayan kedap air).

*Monggo, yang pakai B*ore bisa konfirmasi; apakah produk tersebut mengandung penghasil busa yang saya sebutkan? :)*

Lalu, apa hubungannya antara busa dan kelembutan? Tidak tahu. Tolong anda tanyakan pada produsennya (jika memang ingin bertanya) dan nanti beritahu saya.

Oh ya, kilas balik sebentar ke produk D*ve tadi. Produk ini mengandung surfaktan, tapi meninggalkan rasa lembap di kulit. Kok bisa? Bisa, karena ditambahkan gliserin, komponen penyusun minyak dan lemak. Makanya ada rasa licin walau sudah dibilas berulang-ulang.

Seperti yang dijelaskan di cerita bodoh-bodohan sampo (cerita jadul tapi berlaku sampai sekarang, thanks Enda), dan dalam cerita ini berlaku juga untuk pembersih tubuh (dan pembersih wajah). Diambil lalu diganti, diberi klaim 'dengan pelembap'. Hoho… kok seperti cerita minyak goreng juga ya?

Halah, jadi ngelantur ke mana-mana. Dari sepanjang ini saya ngomong, intinya hanya pada satu kalimat. Jangan percaya begitu saja hanya karena orang (produsen) mengatakan demikian. Termasuk jangan percaya begitu saja pada saya? Hehehe… 

52 thoughts on “Sabun, Deterjen, dan Kelembutan Busa

  1. Deterjen :)
    Bahaya atau tidak, ya tergantung senyawanya. Kalau dimaksudkan untuk intens berkontak dengan kulit (seperti untuk cuci tangan dan cuci piring), seharusnya aman asalkan tidak punya alergi/bakat iritasi berlebih.

  2. Saya memutuskan untuk menutup form komentar ini dengan beberapa pertimbangan:

    1. Saya tidak berkompeten untuk menjadi konsultan, dalam artian memilih produk.
    2. Saya tidak dapat membantu menyediakan data untuk menunjang keperluan penelitian atau semacamnya.
    3. Saya ingin pembaca yang ingin tahu lebih banyak tentang deterjen PEDULI untuk meng-klik link yang ada ketimbang langsung bertanya di sini, misalnya cara kerja. Ada kok.
    4. Saya bukan penyedia referensi. Ini blog, sila Googling (atau gunakan search engine lain) untuk mendapatkan referensi yang dapat diakui oleh lembaga pendidikan (misalnya untuk bahan tugas atau semacamnya).

    Selamat berinternet dan menggunakan informasi dengan bijak dan cerdas.
    Salam,
    Lita

Comments are closed.