Pernyataan Sikap terhadap Susu Formula (Bayi)

Ketika iseng-iseng melongok blog saya di Friendster (yang memang tidak terurus), yang salah satu tulisan salin-tempel (dari bananaTALK ini)nya adalah tentang promosi susu formula, saya dapati komentar dari seorang ibu (halo, mbak Alfita).

Komentar tersebut senada dengan tanggapan mbak Gita (halo mbak Gita, terimakasih atas obrolan langsungnya, ya) terhadap tulisan saya yang menentang promosi susu formula. Mbak Alfita dengan jelas meminta saya 'do it nicely' dalam 'syiar (ASI eksklusif)'.

Walaupun 'baru' dua orang yang menangkap pesan secara berbeda dari yang saya maksud, saya pikir ada perlunya saya memberi pernyataan terbuka (lagi). Sebagai penegasan. Daripada bolak-balik menjelaskan dan saya kadung dikenal sebagai pelopor 'katakan tidak terhadap susu formula'. Berabe nanti.

Sebagian di antara ibu sekalian merasa tersinggung atas tulisan-tulisan saya tentang susu formula, atau 'kampanye' saya seputar Air Susu Ibu (ASI) dan pemberian ASI eksklusif, atau mungkin mengira saya punya 'sesuatu' yang berkaitan dengan 'kampanye hitam' melawan susu formula merek tertentu. Rekan ibu tersayang di manapun anda, izinkan saya curhat kali ini.

Disclaimer: susu formula yang saya maksud dalam artikel ini adalah infant formula, (dengan pengertian infant: bayi berusia 0-12 bulan), yang berarti mengecualikan SEMUA susu 'yang diformulasi khusus' bagi anak umur 1 tahun ke atas -the so called growing-up milk or whatever.

Saya bukan ahli dan tidak sempurna sebagai ibu menyusui

Saya tidak merasa ahli dalam menyusui. Bahkan saya merasa sebagai ibu yang bodoh, karena saat melahirkan anak pertama saya bahkan tidak pernah mendengar istilah latch-on, ASI eksklusif, apalagi bagaimana seharusnya pihak rumah sakit mendukung ibu dan bayi dengan 'mempromosikan' ASI eksklusif alih-alih bertindak 'kalau tidak bilang ya berarti tidak keberatan jika bayinya diberi susu formula'.

Sungguh pengalaman yang berharga. Dan saya harap ibu-ibu lain tak perlu mengalami apa yang saya alami, 'hanya' untuk mendapat 'pelajaran' yang sama: persiapkan segala sesuatu sejak kehamilan (bahkan idealnya sebelum menikah dan hamil). Mulai dari diri sendiri, pasangan, anggota keluarga yang lain, bidan atau dokter yang akan menangani, sampai memilih rumah sakit yang mendukung pilihan menyusui.

Saya sepenuhnya mengerti, bahwa masalah dalam penyusuan tidaklah sesepele yang dipikirkan orang. Bahwa menyusui adalah sesuatu yang alami, tidak butuh teori, apalagi bimbingan orang lain. Sungguh -mati- saya menyesal pernah punya pikiran seperti ini. Dan saya turut sedih dan simpati atas para ibu yang sangat ingin menyusui bayinya namun apa daya ternyata tak mampu, dengan berbagai sebab.

Lalu, mengapa saya terkesan 'antipati' terhadap susu formula? Mari kita pisahkan dua hal. Susu formula adalah satu hal. Dan promosinya adalah hal lain. Kemudian kita konsentrasi pada yang kedua. Saya TIDAK PERNAH mengatakan atau mengajak untuk mengatakan "Say no to infant formula". Yang saya katakan adalah "Katakan tidak pada PROMOSI susu formula". 

Jangan ambil hati atau menganggapnya jadi masalah pribadi ketika saya mengecam praktik promosi yang dilakukan oleh produsen susu formula pilihan (favorit?) anda untuk buah hati tersayang. Saya tidak 'menyerang' anda. Seharusnya bukan anda yang marah, tapi produsen susu formula!

Saya tidak antipati terhadap susu formula, apalagi tidak berusaha memahami perasaan ibu yang memberi susu formula pada bayinya

Sungguh saya tidak bermaksud menyinggung satupun ibu yang memberi susu formula kepada bayinya. Dengan alasan apapun. Satu, karena keputusan tersebut adalah murni hak ibu. Dua, karena yang menjalani keputusan tersebut adalah ibu (dan anaknya). Tiga, yang paling ingin saya katakan saat ini, adalah karena saya termasuk salah satu dari anda!

Saya tidak punya dendam pribadi terhadap susu formula. Susu formula tidak melakukan kejahatan apapun terhadap anak saya. Ia hanya 'benda mati' yang menolong saya ketika dilanda frustasi saat menyusui, saat ASI berkurang dan dukungan untuk menyusui -saya rasakan- berkurang, dan justru meningkat untuk beralih ke pemberian susu formula.

Ya, saya JUGA memberikan susu formula pada anak pertama saya. Jadi para ibu yang memutuskan memberi susu formula kepada anaknya tak perlu merasa sakit hati karena tulisan saya yang seolah 'kurang mengerti perasaan ibu yang memberi susu formula pada bayinya'. I was in your shoes, too! Saya tidak mengambil oposisi darimu. Bagaimana bisa?

Saya merasakan (sebagian) yang dialami dua pihak 'target' promosi susu formula

Sebagai yang pernah merasakan dua keadaan: memberi susu formula pada anak pertama sejak lahir, dan samasekali tidak memberikan susu formula pada anak kedua (sampai sekarang), saya mengerti perjuangan masing-masing 'pihak'. Bahwa menyusui bukan tanpa halangan. Ini adalah kata kuncinya.

Ada ibu yang tidak mampu menyusui (misalnya karena ASI tidak keluar samasekali), ada ibu yang masih dapat menyusui namun memilih memberikan tambahan susu formula, dan ada pula ibu yang memilih untuk tidak menyusui. Ketiganya memerlukan susu formula sebagai solusi, mereka saya sebut 'pihak pertama'.

Ada ibu yang mampu untuk menyusui, karena keinginan, karena kemampuan, dan karena usahanya. Perjuangan beberapa ibu untuk menyusui secara eksklusif patut diacungi jempol. Tanya mbak Rani, yang 'jungkir balik' demi Noe yang sempat mogok menyusu akibat produksi ASInya terlalu melimpah ruah (Overactive Milk Ejection Reflex, OMER). Kelompok yang memilih menyusui dan tidak memberikan susu formula saya sebut sebagai 'pihak kedua'.

Pihak pertama merasakan halangan biologis (dan mental) sehingga tak dapat menyusui. Sedangkan pihak kedua merasa DIhalangi secara fisik (dipisahkan dari bayi, tidak diberi kesempatan perlekatan dini-early latch-on (ELO)) dan mental (dikatakan kepada mereka bahwa ASI saja tidak cukup, bayi akan kelaparan, bayi akan kuning/jaundice, dan lain-lain yang belum tentu benar -dan kalaupun sebagian benar, tidak berbahaya).

Pihak kedua ini lebih banyak saya sorot. Mohon maaf, bukan kesengajaan untuk berlaku tidak adil. Tapi untuk melawan agresivitas promosi susu formula, pihak kedualah yang perlu dibela. Dibantu untuk mempertahankan haknya.

Pihak pertama adalah yang membutuhkan kehadiran susu formula, yang PASTI akan tetap tersedia walau tanpa promosi jor-joran melanggar kode etik internasional seperti sekarang ini. Pihak kedua adalah yang bertahan dari 'serangan' promosi susu formula, yang PASTI akan tetap eksis karena dibutuhkan oleh pihak pertama, walau tanpa sokongan promosi yang merugikan.

Bukan memilih; jika pilihan tidak tersedia atau tak bisa dipilih

Biarkan ibu memilih, itu benar sekali. Kita patut menghargai pilihan yang dibuat oleh orang lain. Terutama karena ia sendiri yang akan menjalaninya. Tapi bukan memilih namanya, jika tidak ada pilihan.

Tidak ada pilihan untuk perlekatan dini, jika setelah lahir bayi langsung diperiksa, ditimbang, dimandikan, dan dibawa ke ruang bayi. Bagi yang menjalani operasi, bahkan tidak diberi pilihan untuk bius lokal, 'hanya' demi bayi bisa menjalani perlekatan dini. Yang ibu tahu, begitu sadar, bayinya sudah nyaman di boks bayi dalam keadaan kenyang.

Atau ibu yang memilih bius lokal sekalipun, sebagian masih 'dihadang' alasan "Obat bius di tubuh ibu dapat memberi dampak negatif pada bayi", yang sebetulnya dampak negatifnya adalah berkurangnya reflek hisap saat perlekatan dini. Tak lebih. ASI ibu aman untuk bayi.

Tidak ada pilihan untuk memberi ASI eksklusif, jika setelah menyatakan demikian bayi tidak segera diserahkan ke ibu untuk disusukan kapanpun si bayi ingin menyusu. Bukan memilih untuk memberi susu formula, jika prosedur baku di rumah sakit adalah "Jika tidak ada pernyataan memberi ASI, maka anak akan diberi susu formula kecuali ketika sedang bersama ibunya di waktu-waktu yang 'diizinkan' oleh rumah sakit'.

Sisa waktu lainnya dihabiskan bayi di ruang bayi. Bersama bayi lainnya, bersama para perawat. Jauh dari suara dan peluk ibu. Rooming-in adalah pilihan yang mahal, yang di sebagian (besar?) rumah sakit di Indonesia (atau hanya di kota besarnya?) hanya dapat dinikmati oleh pasien dengan pilihan tarif kelas 1 dan VIP.

Yang amat sangat sulit saya terima adalah: kenapa pemberian susu formula dijadikan prosedur standar? Anda dapat menjawabnya, segera setelah membaca referensi yang saya berikan di akhir tulisan. Bahkan sebelum membaca, anda dapat mengendus baunya. Uang dan politik.

Promosi: antara memenuhi dan menciptakan kebutuhan. Dengan pembodohan, jika perlu.

Sesempit pengetahuan saya tentang pemasaran, ada dua cara dalam memasarkan produk: memenuhi kebutuhan yang memang telah ada, dan menciptakan kebutuhan (baru) untuk produk yang telah atau akan dibuat.

Kebutuhan susu (sapi) cair dipenuhi produsen dengan mengeluarkan lini produk susu pasteurisasi dan susu UHT. Sedangkan produk susu cair organik dapat diciptakan pasarnya dengan mengangkat isu keamanan dan kealamian proses.

Begitu juga dengan susu formula. Susu formula memenuhi kebutuhan ibu yang tak mampu (atau memilih untuk tidak) menyusui secara penuh (maupun samasekali tidak menyusui). Sedangkan ibu yang menyusui, dapat dibuat 'merasa butuh' membeli susu formula andaikan mereka 'merasa' ASInya kurang.

Ini seperti membandingkan kebutuhan memakai pelembap bagi yang wajahnya kering dan menciptakan kebutuhan untuk 'tampak muda kembali' bagi produk pelembap dengan kandungan anti-aging.

Tampak muda. Apakah anda benar-benar membutuhkannya? Atau sebagian orang BILANG bahwa anda butuh dan perlu untuk tampak muda supaya tampak menarik? Anda mengerti maksud saya, kan?

Ibu-ibu yang masih mampu menyusui (melewati masa eksklusif 6 bulan yang direkomendasikan WHO, salut untuk anda!), seperti yang saya alami, ditawari produk susu formula dengan alasan 'ASI tidak cukup lagi'. Betul, kebutuhan nutrisi tidak lagi dapat disokong SEPENUHNYA oleh ASI. Di sinilah perlunya pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) mulai usia 6 bulan.

Dengan demikian ibu yang mampu menyusui sebetulnya tak perlu khawatir anaknya kurang gizi karena asupannya 'hanya' ASI dan MPASI. Dan ibu-ibu ini tak perlu SENGAJA dibuat, diarahkan, dibimbing, untuk merasa khawatir anaknya 'ternyata' memerlukan susu formula karena ASInya tak lagi mampu menjadi satu-satunya asupan nutrisi.

Ini yang saya lawan. CARA PROMOSI seperti ini adalah PEMBODOHAN dan PEMBOHONGAN. Lawan!

*Serasa masih mahasiswa. Ngga papa dong ya, biarpun tubuh sudah ibu-ibu, semangat muda selalu :mrgreen:

Tambahan, rupanya Kompas menurunkan artikel yang senada dengan tulisan saya ini. Lihat di Waspadai Promosi Susu Formula. Terimakasih infonya, jeng Indah ;)

Referensi 'kampanye' saya:

  • The international code of marketing of breastmilk substitutes. Penjelasan tentang kode etik yang 'ramah' dibaca, dari International Baby Food Action Network (IBFAN). Aslinya dari WHO (pdf).
  • IBFAN code watch. Lihat rekaman pelanggaran yang mereka lakukan di beberapa negara. Indonesia? Lihat di sini (format pdf).
  • How breastfeeding is undermined. Here.
  • A brief guide to spotting a violation. Di sini.
  • ASI oke banget. Group blogging. Temukan kelompong pendukung (support group) bagi ibu menyusui di sini. Milis ASI for baby di sini.
  • Breastfeeding after cesarian birth, dari La Leche League. Anda bisa menyusui segera setelah melahirkan dengan cara operasi!
  • Breastfeeding after surgery, dari dr. Sears.

About Lita Mariana

Educator at heart & full-time dreamer.

68 comments

  1. To Mbak Lita,

    Salam kenal. Tadinya saya lagi browsing2 tentang ASI , gara2 ada pro-kontra mengenai pemberian ASI ekslusif. Jadinya nggak sengaja waktu search di Google , “terdampar” disini…, tapi saya seneng banget , baca artikel tentang ibu2 yang berusaha mati2an untuk memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan tanpa tambahan apa2.

    Saya seorang ayah dari putri umur 4.5 bulan.Istri saat ini full-time di rumah untuk si kecil. Waktu lahir berat badan bayi kami 2.2 kg…, kecil sekali kan. Pihak RS bersalin ( RSB Asih , blok M , Jakarta ) , langsung memberikan si bayi pada ibunya setelah dilahirkan untuk menyusui. Selama dirawat di sana , istri “dipaksa” untuk memberikan ASI pada bayi kami. Ternyata waktu saya keliling2 rumah sakit itu , terpampang peraturan utama ” ASI merupakan makanan terbaik untuk bayi “. Perjuangan yang sangat berat,karena saat itu ASI istri saya belum banyak dan si bayi tampaknya lapar. Akhirnya istri minum dan makan daun katuk untuk menambah produksi ASI.Sampai akhirnya saat ini si kecil sampai terkenyang2 karena ASI istri saya sudah terbilang cukup untuk si kecil.

    Sharing saya , memang dibutuhkan support dari suami maupun keluarga besar ( orang tua, mertua maupun sepupu2 , misalnya ) sehingga program ASI ekslusif benar2 bisa berjalan. Termasuk juga cukup pengetahuan mengenai ASI (…seperti sekarang.., lagi browsing2…:) ).

    Itu saja , semoga program ASI ekslusif makin lama makin bisa dilakukan oleh ibu2 di Indonesia.

  2. anak saya mendapatkan ASI ekslusif (6bln) tapi sekarang asi saya sudah mulai berkurang shg saya tambah dengan susu formula tapi ternyata anak saya kok ga suka. sudah berbagai merk dicoba. Gimana ya mbak sekarang makannya juga sedikit dan susunya kurang jadi badannya agak kurus

  3. Salam kenal Bu.
    Saya kira tidak apa-apa kok jadi tokoh untuk Katakan Tidak pada Susu Formula. hehehe….

    Pertama, sekarang ini sedang digalakkan kampanye ASI eksklusif 6 bulan. Dan yang paling utama sebenarnya adalah Inisiasi Dini-nya itu, atau Early Initiation Breastfeeding. Selain meningkatkan daya hidup bayi, juga memberi bayi perkenalan yang ‘ramah’ dengan dunia baru-nya.

    Salut deh Bu.

    Salam.

  4. Terus terang rasanya sedih banget kalo baca artikel tentang asi. Gimana ga? Bayi saya udah ‘disodorin’ sufor sejak lahir sm pihak RS dan keterusan sampe sekarang umur 4 bln. Saya cm bisa kasih asi dgn cara dipompa sampe dia umur 3 minggu, tapi lama-lama ga keluar. Udah saya coba kasih asi tapi anak saya nggak mau. Malah nangis histeris tiap kali dicoba dikasih asi. Emang mestinya RS dukung ibu-ibu yang melahirkan ya buat kasih asi langsung begitu bayinya lahir.
    Mudah2an anak saya selalu sehat dan kuat meskipun tanpa asi

  5. hik apa daya, baru 2 minggu ibunya keburu sakit dan dirawat jadila terpaksa minum susu formula (bayi)

    eniwei, ada yg tau beda s26 , s26 gold dan s26 gold gn lutein ga ? perasaan jadi bodo bgt ga bisa nemuin bedanya dulu pas dari dokternya si dikasinya s26 tapi aga lumayan maal eui :p

    ada usul susu yang bagus dan lebi mura? sgm bagaimana?

  6. bagaimana jika ibu punya sakit ato tidak bisa memberikan asi karena alasan medis? teman saya ada yang sakit mastitis & tidak bisa memberikan asi karena terlalu kesakitan ketika menyusui. Kemudian ada seorang kenalan yang punya hep. c, sehingga dilarang menyusui anaknya karena bisa tertular hep c…?
    bagaimana baiknya mengingat di sini, di indonesia masih belum ada bank ASI?
    terima kasih…

  7. Mama JD, yang saya protes kan hanya promosinya, ya, yang lebih banyak membodohi konsumen ketimbang memberikan informasi yang berimbang (kalo gitu namanya bukan promosi dong :p )

    Jika indikasi medis memang menyarankan ibu supaya lebih baik tidak menyusui demi keselamatan ibu dan bayi, ya monggo.
    Ini sedikit yang saya dapat dari searching:

    As the risk of vertical transmission of HCV appears significant in viremic mothers (HCV-RNA positive) 1,2, we would recommend discouraging breastfeeding for these mothers in developed nations where relatively safe alternatives (artificial milks) are available.

    In Third World Countries where the morbidity and mortality risks of malnutrition, gastroenteritis and other infectious diseases greatly outweigh the risk of morbidity and mortality of hepatitis C infection transmitted via the breastmilk, breastfeeding, as with HIV virus, should be encouraged.
    Breastfeeding and hepatitis C.

    Dan dari CDC:

    Should a woman with hepatitis C be advised against breast-feeding?
    No. There is no evidence that breast-feeding spreads HCV. HCV-positive mothers should consider abstaining from breast-feeding if their nipples are cracked or bleeding.

    http://www.cdc.gov/ncidod/diseases/hepatitis/c/faq.htm
    http://www.cdc.gov/breastfeeding/disease/hepatitis.htm

  8. Saya kok ngerasa naik turun peradaban manusia. Dulu blm kenal sufor. Nenek moyang kt cm kasih ASI. Trs ada tajin buat bayi yg tdk dpt ASI. Habis itu ada susu bubuk. Trs susu formula. Yg intinya mempermudah ibu dlm memberi susu. Ibu bs jalan2 lg tanpa kawatir anaknya lapar. Ada bebisiter di rmh. Tp seiring kemajuan itu, kt jd mikir lg. Trnyata yg serba mudah, cepat, dan instan tdk bgs (cntoh lain: fast food). Kita spt back to basic saat ini. Dan kita menyadari bahwa itulah yg terbaik.

  9. ya… ASI ekslusif! tapi pengalaman saya memang tidak semulus untuk pemberian ASI dini, karena persalinan yang saya alami melalui secar sehingga saya baru bisa merasakan menyusui pertamakali adalah 12 jam setelah persalinan, hiks! aku sedih waktu itu, meminta dan memohon ke perawat untuk bisa merasakan skin to skin contact dan menyusui dini hapus sudah impian ini, padahal kolostrum yang ada sudah keluar sebulan sebelum melahirkan.

    Memang pengalaman yang menyedihkan jikaingat waktu persalinan kemarin, bahkan waktu kami mau pulang pun bayi saya “terpaksa” akan ditahan oleh pihak rumah sakit dengan alasan bahwa bayisaya malas untuk minum dan selalu muntah-muntah setiap diberi susu formula. Yaa… memang saya akui saya kecolongan untuk masa 3hari awal usia anak saya. Akhirnya ketika waktunya untuk pulang dari rumah sakit, saya dan suami berpikir akan membawa pulang bayi saya sekalian toh tingkat kuning (billirubin) bayi saya pun masih dalam tingkat toleransi rendah, dan bisa hilang dengan cara di jemur dan diberi ASI sesering mungkin. Sialnya lagi, ketika pas ambil bayi dari ruang bayi,kami harus menandatangi surat keterangan pulang paksa, dan diakhirnya perawat disana merekomendasikan untuk memberikan susu formula tertentu untuk bayi saya, hiks! marah, jengkel, dan sebel….!

    Setelah saya di rumah, saya berpikir untuk YAKIN bisa memberikan ASI dengan baik. Setiap satu jam sekali saya berikan bayi saya ASI, dan alhamdulillah dalam kurun waktu 4 hari bayi saya naik 1 ons. Subhanallah… dari situ saya semakin yakin bahwa saya BISA memberikan ASI sampai usia enam bulan nanti (sekarang bayi saya baru berusia 4 bulan).

    PErnah juga waktu bayi saya berusia satu bulan ASI saya tiba-tiba berproduksi sedikit karena saya kecapean. Keadaan ini membuat saya sedih, beruntungnya keluarga (suami, orang tua dan saudara)dan kawan-kawan menjadi juru kampanye untuk bisa memberkan ASI, semangat pun muncul lagi, bahkan saya sudah bisa memerah secara manual sampai hari ini untuk saya tinggalkan di rumah selama saya bekerja.

    Demi ASI untuk si kecil, saya berani bolak-balik kantor rumah ketika istirahat siang hanya untuk menyusui bayi saya. Hal ini harus saya lakukan karena ASI yang ada tidak melimpah, sehingga saya hanya bisa memerah 2 kali saja dalam sehari (@ 100ml). Apa yang disampaikan Mbak Lita memang benar, ketika siang hari bayi saya merasa kurang untuk mendapatkan ASI, dia akan kejar begitu saya ada dirumah. SEhingga ketika di rumah, hampir satu jam sekali bayi saya selalu minta susu (biasanya mulai dari jam 4 sore, sampe jam 9 malem), dan ketika malam harinya biasanya saya beri ASI dia dua jam sekali.

    ASI… ASI… and always ASI, itu yang saya pikir saat ini untuk bisa memberikan yang terbaik bagi buah hatiku.

  10. ya…saya percaya bahwa tidak ada yang dapat mengalahkan ASI dibandingkan dengan susu formula,hal itu saya rasakan sendiri utamanya dalam hal kedekatan batin dengan anak,dimana saya merasakan bahwa anak saya yang mendapatkan ASI sampai usia 2 tahun lebih dekat dengan saya dibanding anak saya yang saya berikan susu formula sejak usia 2 bulan karena waktu itu saya harus bekerja.karena pengalaman ini saya setiap ketemu teman selalu saya menyarankan mereka untuk memberikan ASi kepada anak-anaknya demi pertumbuhan dan perkembangannya.

  11. Kalau mau kasih Asi ( IMD ) di RS pastikan dulu pada pihak RS bahwa mereka melaksanakan IMD & Rooming in, atau kita buat reques dan perjanjian dengan bidan/dokter/perawat yang menangani agar kita bisa melakukan IMD, dan bayi kita dapat rooming in. Kalau perlu pake tandatangan mereka. Karena itu pengalaman saya sendiri, karena saya melahirkan di RS yang tidak mendukung ASI ekskulsif apalagi IMD & rooming in. Tapi saya bisa… andapun bisa. Semoga berhasil

  12. allhamdulillah sampe anak saya umur 4bln saya masih ngasi asi eklusif.tapi saya binggung nih,nanti setelah umur 6bln saya mau kasih dia makan,minum nya di kasih asi apa susu formula ya ???? soal nya ini baru anak pertama jadi saya tidak terlalu mengerti.help mee please…..

  13. Diteruskan saja ASI-nya, ibu :)
    ASI bisa diperah dan disimpan di kulkas untuk kemudian dihangatkan jika akan digunakan sebagai MPASI.

    Tulisan berjudul lain dengan topik ASI bisa dicari di blog ini di kotak ‘search’ di kanan atas. Dan jika kurang puas, dapat googling menggunakan kata kunci ‘MPASI’ atau yang sesuai dengan keinginan.

    Semoga sukses dengan MPASI-nya, ya.
    Maaf untuk balasan yang lama.

  14. Bapak dan Ibu, Jangan terlalu menganggap ASI is all the best.. Realistic saja sebenarnya apa yang diminum oleh bayi dari susu ibu adalah tergantung dari qualitas gizi yang diasup oleh ibunya, So untuk bapak2 dan ibu2 yang sudah terpelajar yang sudah bisa mengukur dan membaca seharusnya anda bisa mengira2 sendiri apakah anda sudah cukup baik untuk memberi ASI atau Formula ??

  15. ASI memang yang terbaik, seperti halnya semua air susu induk hewan yang dirancang Tuhan untuk anak dari si induk. Realistik.
    Yang menjadi tugas ibu adalah menjaga makanannya baik-baik.
    Demikian.

  16. Saya masukin comment gak pernah masuk, apa disengaja krn my comment memojokkan ASI?

  17. JEMPOL buat tulisan Mba Lita :D

    aku juga BENCI banget ama PEMBODOHAN dan PEMBOHONGAN dari PROMOSI SUFOR itu !!

    Alhamdulillah anakku ASIX-MPASI dan skarang uda 19 bulan msh aku kasi ASI (ASI ku banyak banget soalnya) dan aku barengi ama UHT FullCream juga.

    anugerah Allah SWT melalui ASI jangan disia-siakan, yang penting si Ibu YAKIN kalo ASI pasti bisa keluar. ga ada yang bisa nyamain kandungan dan manfaat ASI dari SUSU manapun di dunia ini.
    masak bayi manusia dikasih susu sapi, susu sapi ya cuma untuk anak sapi.
    SUSU IBU ya cuma untuk anak MANUSIA :D

    LAWAN !!

    Dika
    Aceh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>