Pernyataan Sikap terhadap Susu Formula (Bayi)

Ketika iseng-iseng melongok blog saya di Friendster (yang memang tidak terurus), yang salah satu tulisan salin-tempel (dari bananaTALK ini)nya adalah tentang promosi susu formula, saya dapati komentar dari seorang ibu (halo, mbak Alfita).

Komentar tersebut senada dengan tanggapan mbak Gita (halo mbak Gita, terimakasih atas obrolan langsungnya, ya) terhadap tulisan saya yang menentang promosi susu formula. Mbak Alfita dengan jelas meminta saya 'do it nicely' dalam 'syiar (ASI eksklusif)'.

Walaupun 'baru' dua orang yang menangkap pesan secara berbeda dari yang saya maksud, saya pikir ada perlunya saya memberi pernyataan terbuka (lagi). Sebagai penegasan. Daripada bolak-balik menjelaskan dan saya kadung dikenal sebagai pelopor 'katakan tidak terhadap susu formula'. Berabe nanti.

Sebagian di antara ibu sekalian merasa tersinggung atas tulisan-tulisan saya tentang susu formula, atau 'kampanye' saya seputar Air Susu Ibu (ASI) dan pemberian ASI eksklusif, atau mungkin mengira saya punya 'sesuatu' yang berkaitan dengan 'kampanye hitam' melawan susu formula merek tertentu. Rekan ibu tersayang di manapun anda, izinkan saya curhat kali ini.

Disclaimer: susu formula yang saya maksud dalam artikel ini adalah infant formula, (dengan pengertian infant: bayi berusia 0-12 bulan), yang berarti mengecualikan SEMUA susu 'yang diformulasi khusus' bagi anak umur 1 tahun ke atas -the so called growing-up milk or whatever.

Saya bukan ahli dan tidak sempurna sebagai ibu menyusui

Saya tidak merasa ahli dalam menyusui. Bahkan saya merasa sebagai ibu yang bodoh, karena saat melahirkan anak pertama saya bahkan tidak pernah mendengar istilah latch-on, ASI eksklusif, apalagi bagaimana seharusnya pihak rumah sakit mendukung ibu dan bayi dengan 'mempromosikan' ASI eksklusif alih-alih bertindak 'kalau tidak bilang ya berarti tidak keberatan jika bayinya diberi susu formula'.

Sungguh pengalaman yang berharga. Dan saya harap ibu-ibu lain tak perlu mengalami apa yang saya alami, 'hanya' untuk mendapat 'pelajaran' yang sama: persiapkan segala sesuatu sejak kehamilan (bahkan idealnya sebelum menikah dan hamil). Mulai dari diri sendiri, pasangan, anggota keluarga yang lain, bidan atau dokter yang akan menangani, sampai memilih rumah sakit yang mendukung pilihan menyusui.

Saya sepenuhnya mengerti, bahwa masalah dalam penyusuan tidaklah sesepele yang dipikirkan orang. Bahwa menyusui adalah sesuatu yang alami, tidak butuh teori, apalagi bimbingan orang lain. Sungguh -mati- saya menyesal pernah punya pikiran seperti ini. Dan saya turut sedih dan simpati atas para ibu yang sangat ingin menyusui bayinya namun apa daya ternyata tak mampu, dengan berbagai sebab.

Lalu, mengapa saya terkesan 'antipati' terhadap susu formula? Mari kita pisahkan dua hal. Susu formula adalah satu hal. Dan promosinya adalah hal lain. Kemudian kita konsentrasi pada yang kedua. Saya TIDAK PERNAH mengatakan atau mengajak untuk mengatakan "Say no to infant formula". Yang saya katakan adalah "Katakan tidak pada PROMOSI susu formula". 

Jangan ambil hati atau menganggapnya jadi masalah pribadi ketika saya mengecam praktik promosi yang dilakukan oleh produsen susu formula pilihan (favorit?) anda untuk buah hati tersayang. Saya tidak 'menyerang' anda. Seharusnya bukan anda yang marah, tapi produsen susu formula!

Saya tidak antipati terhadap susu formula, apalagi tidak berusaha memahami perasaan ibu yang memberi susu formula pada bayinya

Sungguh saya tidak bermaksud menyinggung satupun ibu yang memberi susu formula kepada bayinya. Dengan alasan apapun. Satu, karena keputusan tersebut adalah murni hak ibu. Dua, karena yang menjalani keputusan tersebut adalah ibu (dan anaknya). Tiga, yang paling ingin saya katakan saat ini, adalah karena saya termasuk salah satu dari anda!

Saya tidak punya dendam pribadi terhadap susu formula. Susu formula tidak melakukan kejahatan apapun terhadap anak saya. Ia hanya 'benda mati' yang menolong saya ketika dilanda frustasi saat menyusui, saat ASI berkurang dan dukungan untuk menyusui -saya rasakan- berkurang, dan justru meningkat untuk beralih ke pemberian susu formula.

Ya, saya JUGA memberikan susu formula pada anak pertama saya. Jadi para ibu yang memutuskan memberi susu formula kepada anaknya tak perlu merasa sakit hati karena tulisan saya yang seolah 'kurang mengerti perasaan ibu yang memberi susu formula pada bayinya'. I was in your shoes, too! Saya tidak mengambil oposisi darimu. Bagaimana bisa?

Saya merasakan (sebagian) yang dialami dua pihak 'target' promosi susu formula

Sebagai yang pernah merasakan dua keadaan: memberi susu formula pada anak pertama sejak lahir, dan samasekali tidak memberikan susu formula pada anak kedua (sampai sekarang), saya mengerti perjuangan masing-masing 'pihak'. Bahwa menyusui bukan tanpa halangan. Ini adalah kata kuncinya.

Ada ibu yang tidak mampu menyusui (misalnya karena ASI tidak keluar samasekali), ada ibu yang masih dapat menyusui namun memilih memberikan tambahan susu formula, dan ada pula ibu yang memilih untuk tidak menyusui. Ketiganya memerlukan susu formula sebagai solusi, mereka saya sebut 'pihak pertama'.

Ada ibu yang mampu untuk menyusui, karena keinginan, karena kemampuan, dan karena usahanya. Perjuangan beberapa ibu untuk menyusui secara eksklusif patut diacungi jempol. Tanya mbak Rani, yang 'jungkir balik' demi Noe yang sempat mogok menyusu akibat produksi ASInya terlalu melimpah ruah (Overactive Milk Ejection Reflex, OMER). Kelompok yang memilih menyusui dan tidak memberikan susu formula saya sebut sebagai 'pihak kedua'.

Pihak pertama merasakan halangan biologis (dan mental) sehingga tak dapat menyusui. Sedangkan pihak kedua merasa DIhalangi secara fisik (dipisahkan dari bayi, tidak diberi kesempatan perlekatan dini-early latch-on (ELO)) dan mental (dikatakan kepada mereka bahwa ASI saja tidak cukup, bayi akan kelaparan, bayi akan kuning/jaundice, dan lain-lain yang belum tentu benar -dan kalaupun sebagian benar, tidak berbahaya).

Pihak kedua ini lebih banyak saya sorot. Mohon maaf, bukan kesengajaan untuk berlaku tidak adil. Tapi untuk melawan agresivitas promosi susu formula, pihak kedualah yang perlu dibela. Dibantu untuk mempertahankan haknya.

Pihak pertama adalah yang membutuhkan kehadiran susu formula, yang PASTI akan tetap tersedia walau tanpa promosi jor-joran melanggar kode etik internasional seperti sekarang ini. Pihak kedua adalah yang bertahan dari 'serangan' promosi susu formula, yang PASTI akan tetap eksis karena dibutuhkan oleh pihak pertama, walau tanpa sokongan promosi yang merugikan.

Bukan memilih; jika pilihan tidak tersedia atau tak bisa dipilih

Biarkan ibu memilih, itu benar sekali. Kita patut menghargai pilihan yang dibuat oleh orang lain. Terutama karena ia sendiri yang akan menjalaninya. Tapi bukan memilih namanya, jika tidak ada pilihan.

Tidak ada pilihan untuk perlekatan dini, jika setelah lahir bayi langsung diperiksa, ditimbang, dimandikan, dan dibawa ke ruang bayi. Bagi yang menjalani operasi, bahkan tidak diberi pilihan untuk bius lokal, 'hanya' demi bayi bisa menjalani perlekatan dini. Yang ibu tahu, begitu sadar, bayinya sudah nyaman di boks bayi dalam keadaan kenyang.

Atau ibu yang memilih bius lokal sekalipun, sebagian masih 'dihadang' alasan "Obat bius di tubuh ibu dapat memberi dampak negatif pada bayi", yang sebetulnya dampak negatifnya adalah berkurangnya reflek hisap saat perlekatan dini. Tak lebih. ASI ibu aman untuk bayi.

Tidak ada pilihan untuk memberi ASI eksklusif, jika setelah menyatakan demikian bayi tidak segera diserahkan ke ibu untuk disusukan kapanpun si bayi ingin menyusu. Bukan memilih untuk memberi susu formula, jika prosedur baku di rumah sakit adalah "Jika tidak ada pernyataan memberi ASI, maka anak akan diberi susu formula kecuali ketika sedang bersama ibunya di waktu-waktu yang 'diizinkan' oleh rumah sakit'.

Sisa waktu lainnya dihabiskan bayi di ruang bayi. Bersama bayi lainnya, bersama para perawat. Jauh dari suara dan peluk ibu. Rooming-in adalah pilihan yang mahal, yang di sebagian (besar?) rumah sakit di Indonesia (atau hanya di kota besarnya?) hanya dapat dinikmati oleh pasien dengan pilihan tarif kelas 1 dan VIP.

Yang amat sangat sulit saya terima adalah: kenapa pemberian susu formula dijadikan prosedur standar? Anda dapat menjawabnya, segera setelah membaca referensi yang saya berikan di akhir tulisan. Bahkan sebelum membaca, anda dapat mengendus baunya. Uang dan politik.

Promosi: antara memenuhi dan menciptakan kebutuhan. Dengan pembodohan, jika perlu.

Sesempit pengetahuan saya tentang pemasaran, ada dua cara dalam memasarkan produk: memenuhi kebutuhan yang memang telah ada, dan menciptakan kebutuhan (baru) untuk produk yang telah atau akan dibuat.

Kebutuhan susu (sapi) cair dipenuhi produsen dengan mengeluarkan lini produk susu pasteurisasi dan susu UHT. Sedangkan produk susu cair organik dapat diciptakan pasarnya dengan mengangkat isu keamanan dan kealamian proses.

Begitu juga dengan susu formula. Susu formula memenuhi kebutuhan ibu yang tak mampu (atau memilih untuk tidak) menyusui secara penuh (maupun samasekali tidak menyusui). Sedangkan ibu yang menyusui, dapat dibuat 'merasa butuh' membeli susu formula andaikan mereka 'merasa' ASInya kurang.

Ini seperti membandingkan kebutuhan memakai pelembap bagi yang wajahnya kering dan menciptakan kebutuhan untuk 'tampak muda kembali' bagi produk pelembap dengan kandungan anti-aging.

Tampak muda. Apakah anda benar-benar membutuhkannya? Atau sebagian orang BILANG bahwa anda butuh dan perlu untuk tampak muda supaya tampak menarik? Anda mengerti maksud saya, kan?

Ibu-ibu yang masih mampu menyusui (melewati masa eksklusif 6 bulan yang direkomendasikan WHO, salut untuk anda!), seperti yang saya alami, ditawari produk susu formula dengan alasan 'ASI tidak cukup lagi'. Betul, kebutuhan nutrisi tidak lagi dapat disokong SEPENUHNYA oleh ASI. Di sinilah perlunya pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) mulai usia 6 bulan.

Dengan demikian ibu yang mampu menyusui sebetulnya tak perlu khawatir anaknya kurang gizi karena asupannya 'hanya' ASI dan MPASI. Dan ibu-ibu ini tak perlu SENGAJA dibuat, diarahkan, dibimbing, untuk merasa khawatir anaknya 'ternyata' memerlukan susu formula karena ASInya tak lagi mampu menjadi satu-satunya asupan nutrisi.

Ini yang saya lawan. CARA PROMOSI seperti ini adalah PEMBODOHAN dan PEMBOHONGAN. Lawan!

*Serasa masih mahasiswa. Ngga papa dong ya, biarpun tubuh sudah ibu-ibu, semangat muda selalu :mrgreen:

Tambahan, rupanya Kompas menurunkan artikel yang senada dengan tulisan saya ini. Lihat di Waspadai Promosi Susu Formula. Terimakasih infonya, jeng Indah ;)

Referensi 'kampanye' saya:

  • The international code of marketing of breastmilk substitutes. Penjelasan tentang kode etik yang 'ramah' dibaca, dari International Baby Food Action Network (IBFAN). Aslinya dari WHO (pdf).
  • IBFAN code watch. Lihat rekaman pelanggaran yang mereka lakukan di beberapa negara. Indonesia? Lihat di sini (format pdf).
  • How breastfeeding is undermined. Here.
  • A brief guide to spotting a violation. Di sini.
  • ASI oke banget. Group blogging. Temukan kelompong pendukung (support group) bagi ibu menyusui di sini. Milis ASI for baby di sini.
  • Breastfeeding after cesarian birth, dari La Leche League. Anda bisa menyusui segera setelah melahirkan dengan cara operasi!
  • Breastfeeding after surgery, dari dr. Sears.

68 thoughts on “Pernyataan Sikap terhadap Susu Formula (Bayi)

  1. Tidak ada pilihan untuk memberi ASI eksklusif, jika setelah menyatakan demikian bayi tidak segera diserahkan ke ibu untuk disusukan kapanpun si bayi ingin menyusu. Tidak ada pilihan untuk memberi susu formula, jika prosedur baku di rumah sakit adalah “Jika tidak ada pernyataan memberi ASI, maka anak akan diberi susu formula kecuali ketika sedang bersama ibunya di waktu-waktu yang ‘diizinkan’ oleh rumah sakit’.

    pertanyaan saya mbak :

    Gimana cara kita bilang ke rumah sakit bahwa kita ingin si dede langsung dapet asi ekslusif dari ibunya. ngga pake ngikutin SOP rumah sakit yang mengharuskan si dede minum susu formula

  2. Alhamdulillah saat melahirkan nasywa, pihak RS mengharuskan saya belajar menyusui dulu dan tidak memaksakan susu formula jenis tertentu. Jadi begitu air susu keluar untuk yang pertama kali nasywa merasakannya dan saat itu sudah berlaku sistem rawat gabung pada ibu dan bayinya.

  3. waahh…untungnya produk susu yang di kemasannya ada label promosi AA dan DHA sudah mau ditarik ya mba…masalahnya AA/DHA ini memang salah satu daya tarik yang paling dhasyat…
    PS: saya dah baca tulisan mba yang di kompas :)

  4. Istri saya termasuk yang susah memberikan ASI, hingga 3 bulan mencoba berbagai cara sampai akhirnya bayinya yang menyerah. Maka hingga kini bayi kami meminum susu formula

  5. Alhamdulillah, anak ke-tiga saya kemarin lahir di klinik bidan kecil, deket rumah, murah, dan ramah. Nggak rooming-in sih, tapi, karena kecil, ruang bayi deket sekali sama ruang rawat ibu, nyaris seperti rooming-in :)

  6. stujuuu…., aku bener-bener nggak setuju dengan cara pemasaran susu formula. terlebih-lebih beberapa dari mereka berani menghubungi kita melalui telpon (dapat dari mana coba kalau bukan dari rumah sakit/klinik?) dan sales girl nya suka ngotot bilang kalau gizi yang terkandung di asi nggak menjamin. sebelllll!!!

  7. BRAVO MOM!!

    tengkiyuu tetap konsisten terus meLAWAN gencarnya PROMOSI SF!!

    ayoo ayoo …
    parents, baik yg pernah menyusui maupun tidak berhasil sama sekali …
    friends, baik yg udah nikah maupun yg belum…
    Apapun pilihan anda,yg penting kita bersatu tuk meLAWAN ini semua ….

    mari kita LAWAN PEMBODOHAN dan KEBOHONGAN ini!!!

  8. Alhamdulillah anak kami yang kedua mendapatkan asi exlusive 6 bulan, bahkan sampai faiz berumur 1 tahun kurang 3 hari saya masih memompa di kantor (240 ml).
    Sebenarnya waktu melahirkan kita sebagai orangtua dari si bayi yang bilang ke pihak rs, bahwa bayi kami
    mau mendapatkan asi saja, karena itu adalah hak si bayi. Dan sampai di rumah selama cuti melahirkan, kita harus yakin dan percaya bahwa kita ( sebagai ibu) mampu memberikan yang terbaik buat anak sendiri, yakni memberikan asi exclusive. Tidak ada alasan , bahwa kita bekerja tidak bisa memberikan asi kepada anak kita, dan ini sudah terbukti pada saya. Hingga kini , anak kami sehat dan perkembangannya sangat pesat, jika dibandingkan dengan teman2 sebayanya.

  9. Kalo waktu saya ngelahirin baru2 ini sih saya langsung bilang pas saya ngelahirin…sesaat sebelum dsognya episiotomi/jahit perineum…
    sengaja saya milih baru bilang pd saat melahirkan karena saya takut mereka lupa namanya juga pasien banyak. Untungnya mereka juga mendukung…walaupun RS saya sebenarnya gak full support ASI eksklusif..

    Waktu ngelahirin anak kedua saya 3 th yg lalu juga sama…saya baru bilangnya sesaat setelah melahirkan.

    Maya S. – bunda 3F

  10. “Rooming-in adalah pilihan yang mahal, yang di sebagian (besar?) rumah sakit di Indonesia (atau hanya di kota besarnya?) hanya dapat dinikmati oleh pasien dengan pilihan tarif kelas 1 dan VIP.”

    Hehehe…mbak Lita…kalo pernyataan ini saya mengalami yg agak berbeda…

    Saya ngalamin sendiri..melahirkan di RSIA di daerah Ciputat, cuma di kelas II yg dlm satu ruangan ada 4 orang…bisa rooming in…asyik kan. Itupun gak sengaja..gara2 malam2 pas saya tanya…”kog bayi saya gak dianter buat disusuin”… eh mereka malah nawarin rooming in…”ibu mau rooming in?”

    Cuma yg juga sedihnya…yg rooming in di ruangan itu cuma saya doank…

    Dan tiap kali pergantian suster..mereka selalu memperkenalkan saya ke suster2…”ini ibu Maya yang ASI eksklusif!!!”…

    Tapi setelah saya melahirkan saya bilang ke dsognya tepat sebelum diepisiotomi kalo saya mau kasih asi
    “Dok…saya mau kasih ASI…bayi saya tolong jangan dikasih apa2 dulu ya…”
    Dan untungnya sampai saya akhirnya mulai bisa menyusui 2 jam kemudian bayi saya belum dimandikan..
    jadi sucking refleksnya masih cukup kuat..

    Maya s. – Bunda 3F

  11. duh pusing baca susu-susuan… nanti biar bini saya aja deh yang baca2 lebih lanjut :D
    jadi sebenarnya itu yang dipermasalahkan tag line marketingnya ya?

  12. Acha
    Kalau menurut pengalaman pribadi, aku bilang ke DSOG jauh-jauh hari sebelum melahirkan.
    Sekaligus tanya-tanya gimana kebijakan RS yang bersangkutan, perawat dan dokter anaknya.
    Maunya sih milih DSA yang mendukung ASI eksklusif, tapi katanya ngga bisa milih. Ya sudah. Eh kebetulan dapetnya yang ‘aku pengen’.

    Trus pas lagi masih di ruang bersalin, sebelum melahirkan, aku udah bilang ke perawat di situ kalau aku mau ngasih ASI eksklusif, minta early latch-on (bilangnya sih mau langsung disusukan sebelum dibersihkan).
    Begitu aku masuk ruang rawat, perawat pertama yang datang kutitipi pesan bahwa aku mau bayiku disusui secara eksklusif. Pokoknya kalau dia bangun, nangis, atau minta menyusu, kasih ke aku dulu. POKOKNYA :D
    Tiap perawat (baru) yang dateng nganter bayi atau ngecek kondisiku, dapet pesen yang sama.

    Bosen biarin. Daripada kecolongan. Pastinya, suami berperan penting banget. Istri kan sedang lemah fisik dan mental tuh. Jadi kalau suami bisa mengusahakan, hasilnya bisa ‘berlipat ganda’.
    Breastfeeding father, turut menyukseskan ASI eksklusif :)

    Waktu terpenting untuk menyampaikan adalah: sebelum bayi ada di tangan mereka, sebelum diapa-apain sama sekali :p

    Eep
    Perlawanan akan efektif kalau dilakukan serentak dan kompak, plus banyakan.
    Ikut gelaran ‘World Breastfeeding Week’ yuk! :)

    Evi
    Maksa secara langsung sih biasanya ngga ya, mbak. Lewat ‘banyak alasan’ aja :D
    Wah asik tuh bisa rawat gabung. Mandiin dan mbersihin pip-pup sendiri juga kah?

    Iway
    Konsumsinya gratis kan, mas?
    Dilarang jualan di trotoar :D
    Eh, gak sedia payung ya?

    Gardino
    EH?? Saya ndak nulis apa-apa kok di Kompas.
    Itu tulisan yang dibuat wartawan Kompas, tapi topiknya pas cocok betul dengan tulisan saya yang ini.
    Karena itu saya masukkan link-nya di sini supaya yang tidak tahu bisa ikutan baca.
    Begitu :)

    Belajar WordPress
    Ngga papa, toh kasih sayang ibu-anak tidak hanya terhubung oleh ASI.
    Semoga ketika ada ‘kesempatan lain’, bisa diminimalkan ya faktor ‘penyusah’nya :)

    Luthfie
    ASI eksklusif juga kan, pak? ;)

    Tara’s mom
    Gizi dalam ASI ngga menjamin pendapatan untuk produsen, maksudnya? :p
    Lha mana ada yang bisa ngasih jaminan? Mahluk hidup kok pake jaminan segala. Berani ngasih garansi berapa tahun tuh susunya? :D

    Alida
    Yay, asik, ada pendukung :D
    Sama-sama. Demi kebaikan ibu, bayi, dan menyusui :)

    Yuni
    Sip, mbak Yuni. Belum banyak lho ibu bekerja yang mau ‘susah payah’ memerah ASI selama itu :)
    Bravo!

    Maya
    Mbak Maya beruntung sekali :)
    Saya cuma ‘nyaris’ rooming in. Statusnya sih rawat biasa, tapi karena saya satu-satunya yang memberi ASI eksklusif saat itu, anak saya tidur di boks sebelah tempat tidur hampir seharian penuh. Diambil pas mau dimandikan saja.

    Waktu tanya ke perawat soal rooming-in, sebetulnya cuma ada untuk pasien kelas 1 ke atas.
    Alasannya kalau kelas 2 ke bawah kan sekamar rame-rame, kasihan ibu dan bayi kalau banyak pengunjung.
    Hehe.. saya mah melahirkan diem-diem aja biar ngga dijenguk. Ntar pas udah pulang baru woro-woro. Jadi di RS gak sibuk sendiri terima tamu bolak-balik, bisa menikmati istirahat. Sebentar, di rumah kan begadangan dong :D

    Mbah Keman
    Halah mbah, udah keduluan berapa orang, tuh :D

    Kenji
    Kenj, kalo yang kuprotes itu tagline-nya doang, postingnya akan seperti protes ke Stimuno kemarenan itu.
    Ini bukan tagline doang, tapi aksi fisiknya juga. Segala yang seharusnya ngga boleh, di Indonesia dianggap wajar.
    Misalnya ada SPG untuk ‘membantu’ calon konsumen yang mau beli MPASI. Itu terlarang. Apalagi SPG susu formula.

  13. Ayo LAWAN!
    Alhamdulillah, saya sukses memberikan ASI Eksklusif 6 bulan 4 hari utk ke 2 anak kembar saya padahal saya bekerja dikantor.
    Alhamdulillah bangetttt, saya bisa memerah/memompa dengan lancar & tenang dan bisa membawa oleh2 yang sangat berharga utk si raja2 kecil dirumah sebanyak 800 – 1000 ml sehari.
    Walopun ibu bekerja teteeeuuupppp PASTI bisa koq memberikan ASI Eksklusif utk si bayi. Gerah bangeeettt ama RS yg ada kerjasama dgn sufor. Karena iklan & promosi yg gencar & membodohkan, apalagi mayoritas masyarakat indonesia yang sangat konsumtif.

  14. tidak dapat menyusui terjadi pada anak kedua saya:( ,…mungkin saya kurang mengerti, merasa pasti setelah saya sehati setelah SC pasti akan disandingkan dgn baby (spt SC pertama, saya lgsg bisa menyusui sehari setelah SC), ternyata kebijakan RS beda-2,…alhasil, selama 3 hr anak kedua sy tidak menyusu dari saya, dan sy frustasi, merasa bersalah, kesedihan adalah faktor psikologis kenapa ASI saya pun jd ngadat….

    ASI itu penting…dan berjuta-juta zat yg terbaik ada didalamnya…

    keep up the good work, Mom! :)

  15. jeng litaaa salam kenal,

    terima kasih sharing infonya. tulisan mba sangat sangat memberikan pencerahan buat saya, saya ibu baru dari putri yg berusia 4 bulan 11 hari alhamdulillah sampai saat ini masih dan sedang berjuang buat kasih asi ekslusif selama mungkin (mudah2an)walopun saya bekerja dan meski hiks dulu saya ga sempet ELO krn baru tau ELO pas masuk ngantor lagi huhuhu dan sempet sehari babyku dikasih sufor:( bener2 itu murni krn ketidaktahuanku padahal sejak hamil udah bertekad mau kasi ASI aku kedolongan cari tau ttg ELO dan Kolostrum huhuhuu,
    anyway senang banget bisa ketemu (though in cyber) orang seperti mba..smoga saya bisa menebus kebodohan saya kmaren dan banyak belajar dari orng2 sperti mba…

    Dan udah saat nya mindset kita terutama orang2 dulu even ortu kita yg udah terbiasa dan merasa WAJIB ngasih sufor and MPasi instant duhh sedih nya..
    SALAM ASI
    SEMANGAT TOLAK SUFOR!!

  16. Hallo Lita, apa kabar?
    Memberikan ASI eksklusif merupakan cita2 saya waktu hamil dulu, tapi keinginan tsb langsung kandas bbrp jam setelah Nazhif lahir. Waktu itu Nazhif sudah teriak2 minta minum, tapi payudara saya belum mengeluarkan ASI setetes pun, setelah saya telpon kesana-kemari akhirnya dengan berat hati Nazhif diberi susu formula. Saat itu pihak RS sudah membelikan susu formula (lengkap dg dot-nya), katanya sih sudah diresepkan oleh SPA-nya. Walau begitu pihak RS masih baik juga, para perawat-nya menyarankan sebelum kita memberikan susu formula dg dot, anak disuruh menyusu dulu ke payudara ibunya sampai anak bosan, barulah susu formula diberikan. Tujuannya agar ASI cepat keluar dan anak tidak menolak payudara. Setelah seminggu susu formula dihentikan dan Nazhif bisa minum ASI full. Tapi keadaan ini hanya berlangsung selama 1 bulan. Waktu itu selama bbrp hari Nazhif minta disusuin terus, seharian ga berhenti2 dan keliatan masih kelaparan tidur-nya pun ga pernah nyenyak. Sampe2 saya menangis ketika harus melepaskan payudara saya secara paksa karena waktu itu Nazhif masih minta menyusu, sementara saya sudah kelelahan dan ASI sudah ga keluar lagi (sampe skg saya masih suka nangis kalo inget waktu itu, terbayang wajah anak saya yg baru bisa tidur karena kelelahan, keliatan sayu dan pucat). Sampai skg (umur 7 bulan) Nazhif saya beri tambahan susu formula disamping ASI.
    Setelah dipikir2 lama, mungkin ASI saya kurang karena makan saya kurang (udah dari dulu saya memang susah makan), disamping itu dari awal saya sudah stress karena ASI yg keluar sedikit. Ini terbukti, setelah saya memberikan tambahan susu formula saya tidak takut lagi anak saya kelaparan, dan hasilnya ASI saya bisa bertambah 3x lipat.
    Dari pengalaman anak pertama, mudah2an kalo nanti Nazhif punya adik saya bisa memberikan ASI ekslusif.
    Tambahan lagi, pake susu formula selain mahalnya minta ampun, repot banget kalo bepergian. Apalagi spt saya yg suka jalan dan tempat tinggal jauh dari kota besar, tiap mau belanja bulanan dan konsul ke SPA (di tempat saya skg ga ada SPA) yg bisa seharian penuh, bawaan bekel bayinya banyak banget. Kalo udah pergi menginap keluar kota lain lagi, perlengkapan minum (susu, dot, sikat+sabun pembersih botol, panci u/ sterilizer) bisa 1 tas sendiri tuh….

  17. Setuju sekali soal ASI! Lha wong sampe anak saya hampir 2 taon sekarang saya masih kasih ASI kok. Yang ingin saya tanyakan,anjuran pemberian susu tambahan >1th. Saya pilih susu terbaik (formula versi GOLD) pilihan keluarga saya yang lebih dulu berpengalaman pny anak, jadi bukan pilihan SPG :D Lha kok saya seperti dianggap pendosa ya sama orang2 milis sehat:P Padal menurut pemahaman saya, kalau ada susu yang bisa membantu perkembangan otak anak saya dan saya mampu untuk membelinya, mengapa tidak? (http://www.sciencedaily.com/releases/2000/03/000307090806.htm). Dan kok perasaan(perasaan saya dan keluarga saya), anak saya tambah pinter ya sejak susunya ganti yg GOLD ini :D Jadi anggaplah saya tdk akan tersinggung atau merasa terserang dengan segala penjelasan Anda. Plis, beri saya penjelasan, mengapa saya harus memberikan susu UHT dibanding susu mahal ini ??? makasih banyak, tulisan2nya bagus mbak :)

  18. Kalem mbak, kalem :D
    Hehehe, ngga se-pendosa itu, ah. Setidaknya, ngga begitu yang aku tangkap di thread tentang susu formula di milis sehat.
    Kalau ada yang lebih ‘efisien’ (dari harga) dari susu formula sedangkan manfaatnya sama, kenapa harus pilih yang mahal? Gitu sih rasanya.

    Udah baca ScienceDaily-nya. Itu kan terbitan tahun 2000 ya, mbak. Lagipula, zat yang dimaksud kan sudah ada di ASI (yang sebelumnya tidak ada di susu formula keluaran tahun sebelum itu).
    Jadi kalau maksud memberi susu formulanya adalah supaya si kecil mendapat asupan 2 suplemen (AA dan DHA) yang dimaksud di ScienceDaily, ngga urgent lagi dong ya, kan mbak masih ngasih ASI dari lahir sampai sekarang :)

    Soal pinter. Apakah jadi langsung pinter? Pastinya butuh waktu, ya. Dan selama waktu yang dibutuhkan untuk ‘reaksi’ dari susu ini, tidakkah anak memang alaminya bertumbuh dan berkembang?
    Apakah sudah dibandingkan antara minum susu dan tidak, selama rentang waktu yang sama, bagaimana tingkat ‘kepintaran’ masing-masing?

    Sederhananya gini, anakku yang pertama kan dikasih susu formula tuh. Dibanding temen-temennya, dia memang -secara subyektif maupun obyektif- lebih ‘pintar’.
    Masalahnya, faktor yang mempengaruhi anak menjadi ‘pintar’ kan ngga cuma susu ya, mbak.
    Ada faktor genetik (turunan orangtua, mbak sekeluarga mungkin emang pinter-pinter jadi ngga pake susu formula juga si kecil udah bakat pinter tuh :) ), lingkungan, stimulasi, dan sifat ‘agresif’ anak sendiri dalam belajar dari lingkungannya.
    Kalau begini, pandangan saya tentang susu yang dikonsumsi si sulung jadi harus berubah. Soale dia minum susu yang sama (beneran, udah ditanyain kok hehehe…) dengan anak tetangga, yang -maaf maaf- saya ‘rendah’kan tadi.

    Trus, dibanding adiknya. Si kedua ini bahkan tidak mengicip susu formula. ASI doang.
    Tapi dari pandangan -subyektif dan obyektif- saya, dia lebih awal mencapai apa yang dicapai oleh kakaknya di usia yang lebih tua. Lebih pinterkah? Saya coba tengok lagi.
    Oh.. anak kedua ini lebih banyak dapat stimulasi daripada kakaknya. Si kakak dulu saya sambi kuliah, ditinggal-tinggal ngga keruan. Sementara si kedua saya asuh dengan sepenuh konsentrasi karena ketika dia lahir, saya sudah lulus kuliah.

    Eh, saya bukan bermaksud ‘membujuk’ mbak untuk meninggalkan susu formula dengan bilang ‘SF ngga guna’, lho.
    Bukan itu. Tadi kan sedang membicarakan kepintaran dan hubungannya dengan susu, kan? :)
    Bawaan anak kan juga beda-beda ya, mbak. Saya sendiri, walau menilai si kedua lebih cepat ‘maju’ daripada kakaknya, merasa penilaian tersebut tidaklah sepenuhnya adil. Anak punya karakter dan kebiasaan sendiri-sendiri. Masih terlalu dini untuk mengatakan si sulung pintar dan si adik lebih pintar lagi.

    Pintar atau tidak, sebagai orangtua, yang saya pikirkan adalah mereka mampu menguasai ‘life skill’ yang diperlukan untuk mengatasi permasalahan dan hidup mandiri. Jadi -buat saya- kepintaran baru nampak jelas ketika mereka sudah beranjak dewasa, ketika mereka bergulat dan mampu menang dari belitan masalah yang mereka alami, dengan bekal pengalaman hidup yang telah dijalani. (duh, filosofis banget yak… maaf)

    Sementara ini, pengertian saya tentang ‘pintar’ untuk anak kecil adalah ia mampu mencapai tepat atau lebih cepat, suatu tahapan kemampuan, relatif terhadap standar yang disepakati (IDAI tentang perkembangan motorik dan sensorik anak, misalnya) dan terhadap anak-anak lain yang seusia dengannya.

    Pertanyaan mbak butuh posting tersendiri, yang sedang saya rancang.
    Tentang growing-up milk atau susu lanjutan beserta suplementasi dan jurnal-jurnal penelitian yang bisa dijadikan acuan.
    Sementara ini, harap berpuas dulu dengan posting sebelumnya (tentang suplementasi pre/probiotik).
    Di sana ada sedikit penjelasan, mengapa -buat saya- yang membuat pintar anak adalah ORANGTUA dan pengasuh anak (siapapun itu selama orangtua tidak di sisi anak), dan bukan susu. Apapun susunya.

    Terimakasih sudah mampir, mbak Ifa :)

  19. Mestinya semua unit pelayanan persalinan BISA melakukan program ASI Eksklusif, dari Klinik Bersalin, Puskesmas Perawatan, RS tipe D, RS tipe C, RS tipe B dan RS tipe A. Promotor utama ASI Eksklusif sudah selayaknya dilakukan oleh unit layanan persalinan RS tipe A dimana banyak berkumpul para ahli. (catatan:RS tipe D adalah RS yang minimal memiliki 4 dr spesialis, bedah, kandungan, penyakit dalam dan anak)
    Aneh jika keahlian seseorang bisa dikalahkan oleh “iming-iming sesuatu” dari produsen sebuah produk lalu menciptakan kesan seolah-olah pemakaian produk tersebut adalah suatu kewajiban bagi konsumen (ibu dan bayi) tanpa pilihan lain.
    Tak salah jika kita mempertanyakan profesionalisme dan integritasnya. Hai friends, hai Bosss.

    Saya bukannya tidak hormat kepada para ibu pemakai susu formula bagi bayinya, bukan !!! Ini menyangkut sistem dan penyampaian informasi. Artinya, pihak institusi pelayanan persalinan harusnya memberikan pilihan pertama ASI Eksklusif sebagai standar, kecuali ASI tidak bisa diberikan karena suatu hal. Inipun sedapat mungkin si ibu mendapatkan motivasi dan bimbingan untuk memberikan ASI Eksklusif.

    hehehe, lucu ya kalau ibu harus menghiba-hiba kepada pihak RS untuk menyusui anaknya. Oh oh oh ….

  20. Dalam hal ASI eksklusif 6 bulan alhamdulillah sudah sepaham dengan mertua (klo ortu sih ga pernah protes). Yang masih jadi peer sekarang adalah urusan susu lanjutan untuk 1 tahun ke atas. Mertua masih menyarankan sufor, sementara aku lebih memilih susu UHT. Rafi juga lebih suka susu UHT dan ga suka sufor (pernah dicoba dikasih sufor yang dibelikan mertua). Berat memang kalo belum sepaham. Lebih berat lagi klo mesti bertentangan dengan pasangan (suami/istri). Makanya yuk kita sama2 belajar dan menggelindingkan bola salju kebenaran dan mencerahkan “korban2″ pembodohan iklan.

  21. Makasih sharing pemikirannya mbak, menambah corak warna pada pelangi pemikiran saya sebagai seorang ibu *halah, ini maksutnya apaa juga :P*

    Tak tunggu ya postingan berikutnya yang mbahas soal ini, biar bisa lebih ‘intensif’ diskusinya :D
    Emang ada penelitian yang lebih baru ya mbak ? Aku search di google demi mendapatkan info yg lebih obyektif nemunya link itu, langsung paste, link laen blom sempet ngecek :D Kita kan harus obyektif toh mbak, gak dapet info dari satu tempat langsung ditelan mentah2.

    Kalo soal kepinteran masing2 anak beda, setuju mbak. Tapi kalo soal kepinteran dihubungkan dengan susu, trus dibilang tidak ada hubungannya, nah ini yang saya kurang setuju. Betul mbak lita bilang, musti dicoba, diadulah istilahe. Idealnya sih 2 obyek sama persis dicoba dengan satu diberi susu mahal dan satu susu murah, baru bisa diputuskan, soal benerkah tdk ada beda antara dua tester susu tsb.

    Soal ‘life skill’, setuju banget mbak. Bukan bermaksut filosofis, tapi memang benar, belum tentu anak IQ brilian bisa lebih tangguh menghadapi permasalahan hidup dibanding anak IQ standar ;) Setuju banget kok mbak soal tanggung jawab pendidikan anak ada di tangan orangTua. Cuman kalo bisa mendidik anak yang ‘tangguh’ plus menciptakan peluang untuk anak mendapatkan IQ brilian (who knows:P), mengapa tidak??

    Nah, selama tdk ada penelitian yang membuktikan bahwa susu mahal tidak ada kelebihan sama sekali dibanding susu murah (sori jadi pake istilah mahal-murah:P), saya mewakili ibu2 pemberi susu mahal ke anaknya tidak bisa terima ;) Apalagi di link saya sebelumnya ada penelitian yang mengatakan AA DHA formula terbukti meningkatkan kecerdasan dan ketajaman mata. Dengan tdk melepaskan tanggungjawab pendidikan anak ditangan saya, saya sangat senang kalau ada -walau sedikit- kelebihan bisa didapatkan anak saya walau harus lebih keras bekerja agar mampu beli susu mahal ;) Kata suami saya, “peraih medali emas sprinter olimpiade dengan peraih medali perak, bedanya cuman sepersekian detik, tapi sepersekian detik itu yg membuat perbedaan besar”

    Saya tunggu postingan berikutnya mbak, Salam kenal :)

  22. mbak, pengalaman yang mbak lita alami sama dengan yang saya alami. saat menyusui anak pertama saya, dia susah banget minum asi. bukannya tidak mau, tetapi kalau asi udah keluar ya bakal diisap sampai kenyang. yang susah itu waktu mau memasukkan puting ke mulut anak saya. karena saking susahnya, lama-lama saya malas. akhirnya asi yang keluar semakin sedikit, lancarlah pula usaha untuk menyetop asi. hal tersebut juga didorong alasan pekerjaan. akhirnya anak saya hanya sampai usia 10 bulan saja dia minum asi. namun, sampai usia 6 bulan baru saya beri susu formula, paling tidak satu botol sehari. saya juga menyesal karena sok sibuk dan malas meladeni keinginan anak saya. padahal saya tahu, semenjak stop minum asi, penyakit gampang banget mampir di tubuh anak saya. memang begitulah punya anak pertama. semua serba tidak tahu. tapi dari hal tersebut akhirnya kita dapat ambil hikmahnya.

  23. huhuuuyyyy…akhirnya nyampe sini juga. jauh tadi muternya. halah :p

    makasih udah mampir, mbak lita. dan soal ASI vs susu formula, seharusnya para ibu eh orang tua ga boleh ‘kalah’ sama iklan ya?

  24. suatu hari saya datang ke seminar tentang ASI yang diadakan oleh RS tempat Adilia lahir. semua konsep ideal tentang ASI Eksklusif keluar. Namun ketika saya bertanya, kenapa saat saya melahirkan anak saya langsung dikasih susu formula tanpa ada konfirmasi dengan orang tuanya. seharusnya “template” RS adalah memberikan dan mengusahakan segigih mungkin untuk ASI bagi bayi. Kenyataannya kan di RS ini malah nggak.
    Dan DSOG yang menjadi pemateri cuma bilang “ya…itu memang idealnya, mungkin ada pertimbangan khusus dari RS” sesimpel itukah jawabannya?
    Terus terang, sampai saat ini saya masih SAKIT HATI! ya… SAKIT HATI… karena masalah ASI di RS itu. Bahkan tas bayi yang merupakan oleh2 dari RS itu, dengan senang hati saya berikan pada orang lain. Karena saya selalu teringat bahwa yang pertama kali dinikmati anak saya, bukan susu ibunya. Tapi susu sapi! apalagi di Tas itu dipasang logo besar NUT**LON RO**L….!

    (sorry, numpang keluarin uneg0uneg bunda…)

  25. Lita,

    kita ajak temen2 yang ada disini semua untuk ikutan kampanye protes iklan Nutrilon Royal 3 with Immunofortis. Walaupun mereka belum menarik iklannya dari televisi, tapi mereka sudah cukup khawatir untuk mengirimkan PR company mereka bertemu dengan kami dari AIMI untuk membahas masalah ini. Diharapkan, semakin banyak ibu-ibu yang mengirimkan e-mail protes ke website mereka, maka jeritan hati bayi-bayi yang teraniaya akibat pemberian susu formula yang tidak diperlukan, dapat terdengar.

    Salam ASI!
    Mia Sutanto
    Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia

  26. Yang penting kita ngasih yang terbaik untuk anak, ya makannya, ya perhatiannya, pendidikannya, stimulasi, dll dll..Kedewasaan, watak dan kepandaian anak adalah proses belajar bertahun-tahun dan bukan hanya ASI/susu yang mempengaruhi. Tapi sudah jelas kalau diberikan ASI, nutrisinya bisa diserap oleh anak seluruhnya dan sesuai dgn kebutuhannya. ASI juga membuat anak lebih dekat ke Ibu (ini kalau menyusui langsung). Kerasa bgt u working moms,.. anak tetap ingat Ibunya, at least yang diingat ” kalau ada mama aku bisa nenen, sama mbak kan gak bisa..nenen mama paling enak” hehe

  27. cK
    Sila duduk. Make yourself comfortable.
    Di sini swalayan yak.
    Tuan rumah seringnya sibuk mulu, gak sempet duduk manis nemenin tamu. Maap… :p

    Cak Moki
    Lucu yang satir, cak. *geram*

    Indah
    Aih, kukira posisimu ‘aman’ lho, jeng.
    Berhubung keluarga suami banyakan yang latar belakangnya medis, tuh.
    Minta main-main ke sini, dong. Biar bagi-bagi ilmu di mari ;)

    Ifa
    Posting baru tentang AA & DHA dalam susu bayi sudah ya, mbak.
    Bahasan susu lanjutan masih harus menunggu. Duh, 24 jam terasa kurang…

    Desita
    Terimakasih sharingnya, mbak Desita.
    Iya, cukup sampai di hikmahnya saja, penyesalannya jangan dibawa terus.
    Jadi terbawa sedih tiap kali sedang menatap si sulung. Hiks…

    Venus
    Welkom, mbok :)
    Makasih juga mampir ke sini.

    Harusnya sih begitu ya.
    Apa boleh buat, tindakan produsen tak sekadar iklan di media tapi maju ke tindakan nyata sih.
    Lawaaaannnn… !

    Ira
    Masuk kok, mbak. Kalem.
    Entah kenapa, komentar pertama terjaring Akismet. Tuh udah muncul :)

    Ada bacaan enak dari Breastfeeding.com berkaitan dengan cerita mbak.
    Judulnya “How to Know a Health Professional is not Supportive of Breastfeeding” di sini, oleh dr. Jack Newman.
    Artikel itu akan menjawab tipe RS & dokter yang mbak tanya :mrgreen:s

    Eh, gak papa, sebutin aja: Nutrilon Royal. Sayang banget tasnya dikasih ke orang mbak. Kalau saja sempat difoto dulu untuk didokumentasikan buat kampanye AIMI melawan agresi promosi susu formula :) (ntar lagi, tunggu posting tentang ini).

    Mia Sutanto
    Posting baru sedang disiapkan, mbak :)
    Siap kerja bareng AIMI untuk mendukung ibu menyusui. Yukkkk…

    Asdwin Noor
    Pendapat anti-susu sudah sejak lama ada, di seluruh dunia. Begitu juga gerakan anti-vaksinasi. Anti-vaksin sambil jualan, saya tahu jenis itu dari situs yang anda beri URLnya.

    Coba bicara yang jelas, daripada mengiming-imingi pertanyaan supaya URLnya diklik.
    Ini sekaligus peringatan, supaya lain kali anda tahu mengapa URLnya saya hapus.
    FYI, situs anda itu sudah pernah saya bahas di blog ini.

    Mbak Ketty, thread bahasannya ada di detikinet.
    Di sana juga bisa dilihat banyak pendapat yang berseberangan dengan bu Andang Gunawan.
    Intinya sih, susu tidak wajib. Memang.
    Namun ketika mulai disinggung ‘kandungan kimia’, saya kok muncul insting skeptik lagi: apa ini bukan usaha jualan produk organik?

    Lagian bahasan susu dari mas Noor ini salah tempat deh. Saya ngomongin susu formula bayi, kok. Bukan susu untuk anak 2 tahun ke atas (yang sebetulnya dibahas bu Andang Gunawan).

  28. oowwhhh…jam sekian masi sempet aja mampir disini…
    teruskan perjuangan ya mbak…masi banyak yang perlu dibuka matanya…

    eehh, si ifa mama razzan udah mampir yaaa..
    lagi panas tuw mbak…abis tak komporin…hihihiyyy

  29. mbak Lita, perasaan semalem aku leave comment deh, tapi lupa di posting mana?
    Tapi tak cari lagi kok gak ketemu ya? Rasanya yakin deh *yakin kok rasanya :P* udah klik add comment…

  30. Hiks… terus terang saya jadi ingin menangis. Saya punya bayi berusia 4 bulan lewat seminggu. Sampai umur 4 bulan dia memang hanya minum ASI.
    Seminggu ini ibu saya datang dan mengajari anak saya makan buah pisang karena dipicu dengan kejadian beberapa hari yl ketika stok ASI di rumah tidak mencukupi (padahal saya ninggal anak selama seharian penuh).
    Tadi pagi ibu menyarankan saya untuk membeli susu merk Nutrilon -katanya sih bagus- (Saya sendiri malas nonton TV karena lebih suka bermain2 dg anak). Tapi alhamdulillah setelah baca tulisan ini saya bertekad tidak membeli susu formula kecuali setelah anak saya berumur 6 bulan.
    Terimakasih banyak ya bu Lita…
    Pertanyaan saya: ASI eksklusif itu murni hanya ASI-kah? Buah tidak boleh?

  31. UmmuAbdullah
    Dari pengertian kata, exclusive -yang berdasar dari exclude- berarti mengecualikan atau tidak mengakui yang lain. Jadi ASI eksklusif -menurut haluan purist- ya hanya ASI tanpa apapun lainnya. Tidak susu formula, tidak buah, tidak madu, bahkan tidak air putih maupun air gula.

    Tapi pengertian ini tidak untuk menyurutkan semangat para ibu yang terlanjur memberikan apapun selain ASI kepada bayinya (dalam 6 bulan pertama). Kalau sudah terlanjur, tetap ada pilihan untuk berhenti dan melanjutkan pemberian hanya ASI saja. Tidak tahu bukan ‘dosa’, kok :)

    Untuk menyukseskan ini, ada baiknya mbak melupakan ‘tragedi’ saat stok ASI kurang. Jangan sampai tertekan atau khawatir berlebihan dalam menimbun stok. Pikiran untuk mengejar ‘setoran’ malah bisa menghambat keluarnya ASI. Jadi santai saja.
    Yang harus diingat adalah bayi itu pintar. Kalau di siang hari ia merasa ASI yang didapat kurang, ia akan mengejar ketertinggalannya di malam hari dengan menyusu lebih sering.

    Secara total, bayi hanya akan mengambil sesuai keperluannya. Jika dirasa pada suatu hari lebih sedikit daripada biasanya, berarti hari itu bayi memang memerlukan lebih sedikit daripada hari lainnya. Begitu juga sebaliknya.
    Ibu yang memproduksi ASI lebih sedikit tidak perlu tertekan melihat ibu lain yang memproduksi ASI lebih banyak atau cenderung berlimpah.
    ASI cukup untuk bayi. Itu saja.

    Berlebih juga tidak selalu baik. Ada juga ibu-ibu yang menghadapi masalah ASI berlebih sehingga malah bayinya tidak mau menyusu atau harus memberikan kelebihan ASI ke bank ASI (atau sesama ibu yang memerlukan) daripada stok ASInya terbuang tanpa terpakai.

    Soal merek susu yang katanya bagus, saya punya banyak dugaan mengapa dikatakan bagus. Misalnya karena seri iklan awal yang bekerjasama dengan IDAI dan mendukung ASI (yang sekarang nampak nyata bahwa dukungan tersebut ada ‘maunya’ saat seri iklan yang lebih baru dimunculkan), karena formulasinya konon paling mendekati ASI, karena merek ini menyelenggarakan semacam seminar pendidikan tentang pentingnya ASI (dan turut mempromosikan pentingnya formulasi terbaru dalam produk mereka), atau ya karena iklannya sedemikian gencar dan para pemakainya punya semangat berbagi informasi yang tinggi (susu anakku merek N ini bagus lho jeng, anakku jadi begini begitu..)
    Maaf para ibu, bukan bermaksud mendiskreditkan anda tapi saya dengar sendiri promosi model ini dan kenyataan pahit (bahwa sebagian dari kita memang ada yang begini) tetap harus kita terima.

    Sebagus apapun susu formula, tetap tidak akan bersanding dalam kebaikan dengan ASI. ASI memang bukan dewa, tapi ASI SATU-SATUNYA bagi anak manusia, karena memang diciptakan untuk anak manusia.

    Setelah 6 bulan juga tidak berarti anak pasti memerlukan susu formula kok, mbak. Kalau bisa, cukup ASI saja sampai kelak disapih (atau anak menyapih diri sendiri). 2 tahun adalah anjuran optimal, lebih dari 2 tahun akan lebih baik.

    Sesudah berusia setahun, anak bisa diberi susu sapi cair (atau susu kambing atau susu lain) atau produk turunan susu (keju, yogurt, krim, dll) jika memang ingin.
    Tapi tidak harus. ASI tetap lebih penting.

    Semoga membantu mengusir khawatir dan tidak jadi ingin menangis :)

  32. Kalau mau,tambah bikin pernyataan sikap tentang perlu atau tidak perlunya imunisasi. Mengapa? *provokasi lho…..*

    Sebab, ibu saya melarang saya untuk mengimunisskan anak saya di puskesmas….. *main bingung*

    tentang buku, nanti saya tanya istri saya….soalnya, istri saya itu tukang bertanya kesana kemari…bahkan kemarin ketika hamil saja, entah berapa puluh orang yang ditanya, juga entah buku yang dibelinya……

  33. Soal imunisasi, sudah beberapa kali dibahas di sini, pak :)
    Perlu atau tidak? Perlu. Kalau anak saya tidak diimunisasi, mungkin sekarang sudah ‘develop’ hepatitis B lewat penularan vertikal (ibu ke janin). Apa jadinya pula kalau polio kembali mewabah di Indonesia.
    Dan hampir semua tulisan tentang imunisasi di sini bermaksud untuk mengenyahkan mitos atau urban legend atau isu negatif (yang tidak benar) tentang vaksin dan keamanannya.
    Mungkin ada alasan tertentu mengapa ‘tidak di Puskesmas’? Kalau di dokter atau bidan, tidak keberatan ya? Hehe..

    Soal buku sila dipertimbangkan. Saya tinggal terima order selama barang masih ada kok :)

  34. Bagi saya sih, proses melahirkan itu ga akan berulang2 dalam seumur hidup. Paling 2-3 kali. Apa salahnya sih ngotot sama rumah sakit buat early latch on. Cerewetin aja susternya, ga perlu bentak sih, ingetin aja terus. Kalau perlu pastikan dr awal mereka bisa jamin dukungan thd program early latch on (spt yg saya lakukan). Kl ngga ya simply cari tempat lain yg bisa dukung, banyak ko RS pendukung laktasi. Perjuangan kita yg ngotot dan mungkin dinilai rese itu ngga seberapa bgt dibanding pengaruh ASI bagi anak kita di masa mendatang ya toh…? Negor orang yg nyerobot antrian Busway aja brani masa buat masa depan anak pake ngga enak sgala?!

  35. mbak lita, sedikit banyak saya sedih membaca posting-nya mbak lita, bukan apa-apa..seperti membaca kisah saya sendiri. Sewaktu melahirkan Rangga setahun yang lalu melalui persalinan cesar, saya kira tidak lazim ibu yg mendapatkan obat bius dan berbagai obat2an lain untuk langsung menyusui bayinya. Ternyata saya salah ya :-(. yg menyedihkan saya tidak mendapatkan “bimbingan” yg layak utk menyusui dari bidan2 dan dokter yg menangani persalinan saya saat itu. Bukannya saya tidak tahu sejuta manfaat ASI, tetapi memang niat ibu tanpa dukungan lingkungan itu berat sekali untuk diwujudkan.Beruntung ada orang2 spt mbak lita dan milis sehat yg terus memperjuangkan hak2 bayi..mudah2an di anak kedua dst-nya nanti saya bisa spt mbak lita hehe :-)

  36. kuncinya gampang-gampang susah Bunda Aulia,

    1. Percaya diri…percaya bahwa ASI Anda cukup. Sedikit itu tidak penting, yang penting cukup. Kalau kebanyakan juga mubazir kan, kecuali Anda berniat sekalian donor ASI :)
    2. Banyak minum…komponen ASI paling besar kan cairan.
    3. Banyak makan…apa yang diolah menjadi ASI jika kita kurang asupan?
    4. Menjaga gizi asupan makanan…meski gizi ASI tidak akan berkurang bisa kita makan makanan ‘kurang’ bergizi (karena akan dicurikan dari ibu), tapi sesuai pengalaman saya, makin banyak makan makanan bergizi, makin banyak pula produksi ASI. Hal yang sebaliknya juga terjadi. Ketika banyak makan junk food, instan, ASI jadi agak tersendat.
    5. Sering menyusui…semakin sering dikeluarkan (termasuk dipompa sebagai persediaan), semakin banyak pula yang diproduksi.

    hmmm, apa lagi yaa…
    ingatnya baru itu…
    nanti kalo ingat lagi mampir lagi deh…

    mbak Lita, mohon ditambah kalo kurang… ^_^V

  37. Top banget bu,, kasian aja ibu ibu yang diprovokasi kaya gitu, padahal sampe 6 bulan ASI aja udah cukup kan,, kaya dibilangin kalo ga minum susu formula, kualitas anak menurun, jadi ga pinter, macem macem deh bu,, ckckck,, :(

  38. Waktu anak saya baru lahir memang sempat diberikan susu formula pada awalnya, karena waktu itu ASI belom keluar. Tapi tetap disusui juga dengan ASI sampai sekarang. Saya juga memberi tambah susu formula karena saya bekerja…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>