Bicara soal ritual kehamilan ala Jawa

Speaking of pregnancy… Hmmm…. There are bunch of things to discuss. *bentar… mmm, pepaya potong siram air jeruk nipis.. vitamin C for the day. A bite anyone? emoticon * 3 kejadian besar yang sepenuhnya ada di tangan takdir ALlah adalah kelahiran (dan kehamilan), jodoh, dan kematian. Dan di 3 hal ini pula kita akan menjumpai banyak sekali mitos dan ritual yang berbeda untuk tiap budaya.

Soal hamil, *kurasa* ibu-ibu Jawa paling cerewet karena paling banyak aturan & ritualnya (setidaknya ini yang kurasakan di tengah keluarga Jawa, entah di suku lain gimana). Yang paling dikenal biasanya adalah mitoni atau tujuh bulan-an. Aku ngga bisa cerita detil soal ini, karena aku ngga melakukannya. Yang pasti sih ada mandi kembang gitu (eugh, mandi aja kok ditonton orang..! emoticon ). Setelah itu ada anjuran minum minyak kelapa supaya proses melahirkannya lancar (apakah ini maksudnya minyak kelapa sebagai pelumas? kayanya ‘jalur’nya ngga nyambung ya, yang satu pencernaan, yang lainnya reproduksi emoticon ), minum air kelapa muda hijau (degan) supaya bayinya lahir dalam keadaan mulus, dan makan bubur ‘procotan’ supaya proses melahirkannya mudah (ini seperti bancakan tapi menunya bubur beras campur pisang.. enak juga hehe).

Di luar itu ada banyaaakk larangan dan ‘kewajiban’. Misalnya, mandi sore tidak boleh lewat dari jam 5 (alasannya dingin.. tapi di Dago mah siang jam 3 juga kalo mandi tetep dingin.. ngga relevan dong ya?), makan malam paling telat jam 6 (alasannya nanti gendut.. halah, aku makan jam 8 tiap hari kok ya ngga gemuk-gemuk emoticon ), ngga boleh makan es krim/minum air es, ngga boleh menjahit (termasuk masang kancing! katanya nanti jari-jari anaknya dempet.. haiyah! ibuku penjahit dan anaknya normal semuah!), dan lain-lain (ngga tau lagi, ada yang bisa bantu?). Yang mulai jarang dijadikan materi ‘pesan’ adalah kebiasaan ‘wajib’ seperti memasang peniti di baju yang dipakai (aduh, kalo ketusuk kan sakit! emoticon ), menyimpan gunting di bawah bantal (ckk.. ckk.. membahayakan jiwa neh emoticon).. ngg.. apalagi ya? Taunya cuma itu.

Soal larangan, semuanya aku langgar hehehe… Di Solo kan panas, jadi aku mandi paling ngga ya jam 6 sore (kalo lebih awal, bajunya ntar udah keburu basah keringat sebelum makan malam). Makan ya kapan aja pas aku laper. Yang dimakan ya apa aja, kalo lagi maleeeeesss banget makan nasi, aku makan coklat, paling banter biskuit, kentang, roti, atau ketan. Iya iya… yang kusebut itu emang sumber kalori juga, tapi kan orang Jawa itu prinsipnya kalo belum makan nasi ya ngga bisa dibilang ‘makan’! Jadi ini perjuangan! emoticon Aku juga suka es krim. Susu khusus ibu hamil ngga enak (nanti aku bikin posting khusus susu ini), jadi apapun sumber kalsium jadi lah. Dari es krim sampe yoghurt.. yumm. Aku juga masang kancing dan menambal sedikit bagian baju kakanda yang lepas jahitannya. Aku ngga minum minyak kelapa, mbayanginnya aja udah eneg. Tapi soal air kelapa muda dan bubur procotan itu, aku konsumsi dengan senang hati. Aku emang suka air kelapa, dan aku suka pisang. Walaupun sebenernya pas dikasih bubur itu aku ngga tau maksudnya apa.

Kalau ditinjau kembali (cieeh..), kayanya banyak banget ya aturannya? *jadi kasian sama perempuan Jawa tulen* emoticon Berhubung aku ‘bukan Jawa’ ya aku merasa boleh dan berhak menolak dengan sewenang-wenang segala alasan yang tidak ilmiah tersebut hehehe… Toh, alhamdulillah, Ibrahim lahir selamat, mulus, dan jarinya ngga dempet.

 

4 Comments

  1. arifah

    May 30, 2007 at 12:46 pm

    assalamu’alaikum wrwb mba lita

    comment perdana nih,

    komentari soal ritual kehamilan nih, saya rasa bukan ala jawa saja yang ‘mengharuskan’ ibu hamil menjalani proses yang hampir mirip ritual yang disebutkan, saya sunda asli tapi ibunda masih saja tetap mengingatkan untuk memasang peniti dan gunting/keris (pokonya benda tajam) di baju hehehe katanya sih kalo orang hamil itu lemah jiwanya jadi itu buat menghindari kita para ibu hamil dari mahluk halus. saya sih iya iya aja toh g saya lakukan. yang penting percaya dan bismillah aja de.

    tapi gimana dengan acara empat bulanan yang biasanya kita mengadakan pengajian?. yang menurut kepercayaan kita bahwa umur empat bulan itu masa ditiupkan roh kedalam janin.

    eniwey nice blog, keep istiqomah dan salam kenal.

  2. ani

    June 16, 2007 at 12:03 pm

    jangan percaya dengan ritual begituan

  3. ABU OSAMA

    March 23, 2008 at 11:05 pm

    Aku orang jawa asli bahkan ikut Panginyongan alias Ngapak tulen. Tapi gak ada acara-acara ritual yang gak masuk akal yang pada akhirnya membuat orang awam yang benar-benar awam menyangka kalau hal tersebut ada hubungannya dengan Islam. Pada hal Rasullullah tidak pernah melakukan hal tersebut. Kita kan percaya bahwa Muhammad Saw. adalah Nabi terakhir dan hanya beliaulah yang patut untuk diikuti (suri tauladan kita gitu loe). Adat jawa yang saya teliti saat ini telah merusak Aqidah yang Haq. Adat jawa telah merusak Islam. Kalau mau adat ya adat aja jangan bawa-bawa Islam. Bikin cepet kiamat!!! ancur deh semua. Cukup Rasullullah saja yang kita ikuti jangan ikut-ikutan yang gak jelas! Menolak tetapi mengikuti sama aja “BENCI TAPI RINDU!!”

  4. Echie

    January 12, 2010 at 3:08 pm

    Yup setuju bahwa mitos2 itu, terutama yg pke peniti, gunting, dll, buat menghindari makhluk halus,itu malah mengajak/ mengarah kpd kesyirikan. Jd mnrt sy, jk ada yg menyarankan untuk melakukan itu, tmsk ortu/ mertua, sampaikn dgn baik alasan kt menolak, biar ga trs bkembang mitos/ ritual yg dpt mrusak aqidah.

Leave a Reply to arifah Cancel

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.