Panggilan Sayang

Suatu sore setelah berbuka puasa.

Yahya: "Kemarenan Daud bilang gini…"
Lita: *menyimak, sambil minum*
Yahya: "Kalo ayah bilangnya 'han' [hunn, red.]. Kalo Daud bilangnya 'bunda'."
Lita: *diam sesaat, cuma melongo* [antara terharu dan kagum] "Now that's new! So original!"

Seingatku, dulu bahkan sampai aku SD aku selalu ikut apa yang dikatakan mama. Mama memanggil mbah putri dengan 'ibu', jadi aku juga memanggil beliau 'ibu'. Berkali-kali ditegur, jawabanku selalu sama. "Mama bilangnya ibu, Ita juga."

Aku tak ingat persisnya kapan aku mulai memanggil beliau selayaknya dengan 'mbah'. Tapi pastinya Daud bisa memisahkan ini. Toh dia juga tak memanggil ayahnya seenaknya, padahal sang bunda jarang konsisten, dari 'ayah', 'mas', 'yang', 'ganteng', dan sebagainya.

Bagus. Anak lebih baik daripada orangtuanya :mrgreen:

2 Comments

  1. pandri

    October 4, 2008 at 8:02 am

    oooh ‘han’ nyang ntu, kirain lita mari’han’a 🙂 mohon maaf lahir batin yah mba, selamat idul fitri 1429H.

  2. Edwir

    October 23, 2008 at 3:46 am

    Asslm. Itu ampir gw banget, jd aq msh cr ortu sejatiku krn ga ad kekonsistensian dr masa kcl ampe skrg. Id yg ad diragukan kesejatianny tp krn cm itu id yg ad kepake terus ampe skrg. Buat derita b’kepanjangan, org kira aq nak durhaka dn sampa krn nganggur

Leave a Reply to Edwir Cancel

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.