Setelah bosanku hilang dengan bermesraan bersama Daud, mari kita kembali ke urusan remeh temeh tentang kesehatan. Ha!

Awalnya ingin angkat bicara tentang trend minuman elektrolit yang sekarang banyak bermunculan dengan segala merk. Tapi… Berhubung sekarang musim hujan, dan -aku yakin- banyak yang pilek atau batuk atau flu (ya kan Her?), kita bicarakan soal suplemen (atau bukan) yang mengklaim bisa mencegah bahkan menyembuhkan pilek dan flu.

Yang populer di kalangan ibu-ibu (ehm… ya mungkin gak semua ibu sih) adalah immune booster. Namanya macem-macem, misalnya Imbo*st dan St*muno. Untuk dewasa, ada C*xon Enace. Garis besar klaimnya: dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Kandungan aktif produk-produk ini adalah herba Echinacea (genus dari famili bunga Aster) atau Phyllantus. Echinacea dikenal dapat mengurangi gejala serta mempersingkat durasi selesma (batuk-pilek) atau flu. Sementara Phyllantus katanya bisa menyembuhkan hepatitis B.  Waw… kedengarannya indah. Klasifikasi ilmiah dan info ringkas dapat dilihat di echinacea dan phyllanthus. Pembahasan mengenai bagian mana dari tumbuhan yang dapat memberi hasil optimal kita lewat saja.

Iklan yang -mungkin- paling sugestif adalah kesaksian pengguna. Dan sepertinya itu alasannya kenapa iklan St*muno pake ibu-ibu: supaya ibu-ibu lain ikutan. Yea yea… membantu meningkatkan sistem imun. Apa ya maksudnya? Bahkan di iklan dikatakan bahwa produk diresepkan oleh dokter! Wah, catet: DOKTER ! Mari kita bahas resep dokter ini.

Echinacea banyak dipakai untuk terapi gejala batuk-pilek serta infeksi saluran pernafasan atas (ISPA). Stimuno dikatakan bukan jamu dan sudah teruji klinis (serta terdapat stamp fitofarmaka di kemasannya) oleh seorang pengguna yang urun bicara di milis. Baiklah. Saya belum pernah melihat kemasannya langsung, cuma dari TV dan medicastore. Kata ibu-ibu di iklan, "Saya kira suplemen vitamin, ternyata…". Separuh benar. Yang pasti, Stimuno ini bukan obat melainkan PRODUK KOMPLEMEN. Produk komplemen adalah produk bukan suplemen tapi juga di luar kategori obat. Batasan 'obat' komplemen dan 'obat' alternatif memang agak kurang jelas. Baca saja di sini.

"Ya bukan obat, kan dari herba", katamu? Gini ya.. Mau dari bahan sintetik atau alami, kalau fungsinya untuk menyembuhkan (healing, curing) ya judulnya tetep aja obat. Hanya, kebanyakan obat herba tidak lolos (atau tidak melalui) uji klinis yang sama dengan obat sintetik. Sejatinya, kalau mau SAH dinyatakan dapat menyembuhkan dan AMAN dikonsumsi ya harus lolos uji klinis.

update:[Dan setiap produk-bukan-obat-yang-diklaim-membantu-penyembuhan yang dinyatakan aman biasanya dikategorikan sebagai jamu. Identifikasinya mudah: kalau obat, harus ada lingkaran berwarna yang menyatakan golongan obat (bebas atau keras), sedangkan jamu harus mencantumkan kata 'jamu' di kemasannya (mungkinkah fitofarmaka ini dimaksudkan sebagai kamuflase kata jamu?)]

Echinacea ini sudah kadung tenar dari abad lalu sebagai tanaman obat. Dan kini difabrikasi serta dikemas sebagai suplemen untuk dapat dikonsumsi dengan 'mudah'. Nyatanya, uji-uji terhadap Echinacea sendiri ternyata tidak memberi hasil yang meyakinkan tentang dampak positifnya. Tentu saja yang dimaksud di sini adalah uji klinis, yang melibatkan pemberian plasebo (sampel kosong), bukan hanya empiris (berdasarkan pengakuan pengguna, yang bisa jadi sifatnya sugestif).

Uji klinis yang dilakukan Juli 2005 tidak memperlihatkan hasil yang menguntungkan. Riset tahun 1998 menunjukkan bahwa TIDAK SATUPUN preparat Echinacea (yang dikonsumsi relawan uji) yang memiliki dampak signifikan terhadap frekuensi, kepayahan, maupun durasi ISPA. Sementara hasil penelitian lain TIDAK MENDUKUNG penggunaan Echinacea untuk perawatan selesma pada anak usia 2-11 tahun (yang umumnya menjadi target utama pemasaran produk immune booster). Oh ya, ngomong-ngomong ISPA itu misalnya pilek, batuk, dan radang tenggorokan. Ya, anak kecil memang sering sakit. So what. Sakitnya ya seputar batuk, pilek, demam, batuk lagi… dst. Kalau imunisasi sudah lengkap, kena penyakit (yang sudah divaksinkan) pun tidak fatal.

Kesimpulan saat ini: tidak ditemukan bahaya DAN keuntungan mengonsumsi Echinacea baik untuk anak-anak maupun dewasa alias plasebo. Penelitian pada Echinacea terus dilanjutkan. Dan yang harus diingat, klaim 'meningkatkan/merangsang sistem imun tubuh' tersebut patut disikapi dengan hati-hati. Sebab, immune booster ini justru tidak dianjurkan untuk orang-orang dengan kelainan sistem imun semisal AIDS.

OK, sementara ini produk masih bisa dibela oleh penikmat suplemen: "Kalo gitu ya ngga papa dong!". Mari kita lihat langsung ke produknya. Dari situs BPOM, ternyata Imb*ost mengandung aspartam, sodium saccharin dan alkohol 95% (untuk tablet effervescent), sedangkan C*xon Enace mengandung aspartam dan acesulfame-K. Yang berarti, walaupun Echinacea-nya sendiri adalah plasebo, namun pemanis buatannya sudah mendatangkan resiko tersendiri.

Lepas dari kontroversi sifat karsinogenik aspartam serta efek samping saccharine dan acesulfame-K, pemanis buatan sebaiknya dihindari. Sayang tidak ada keterangan tentang St*muno dalam situs BPOM, sehingga saya ngga tau St*muno pakai pemanis apa. Mungkin ada yang ingat, ibu-ibu di iklan bilang bahwa dia memberi St*muno pada anaknya sejak diresepkan oleh dokter 3 tahun yang lalu (atau berapa ya? hitungan tahun deh pokoknya). WHAT? Kasihan kali anaknya… Semoga hanya di iklan dan bukan di dunia nyata.

Jadi pak, bu, yang sabar ya kalo anak sakit ["Yaaa!", koor ibu-ibu di Posyandu]. Jangan dilarang. Sistem ketahanannya kan sedang belajar. Menjelang remaja juga makin jarang kok sakitnya. Kalau ingin meningkatkan daya tahan tubuh ya jaga asupan gizi dan istirahat yang cukup. Gak mau rep
ot? Oalaahh… Mbok ya sadar posisi! Jadi orangtua kok ngga mau repot urusan anak. Ckk ckk… Macam mana pula!

Masih mau pake immune booster? Terserah. Saya sudah bilang lho yaaaa…. 

Taut sumber hasil nanya mbah Google:

error
Echinacea: Immune Booster? [Updated]

30 thoughts on “Echinacea: Immune Booster? [Updated]

  • February 8, 2006 at 12:17 pm
    Permalink

    tanya dikit 😀

    “dan alkohol 95% (untuk tablet effervescent) ”

    lita: tanya banyak jg gpp, tapi lewat mail aja ya:p saya dapet infonya untuk produk tablet effervescent. tapi -ya itu aneh- kok ada alkohol 95%-nya ya? masih gak mudeng sampe sekarang

    Reply
  • February 8, 2006 at 12:43 pm
    Permalink

    Kayaknya perlu dibuat satu halaman statik untuk menjelaskan istilah-2 aneh yang sering dipake deh .

    Contohnya pada paragraf ke 7

    pemberian plasebo (sampel kosong)

    ‘mere’ frasa spt ‘sampel kosong’ menurutku belum menjelaskan plasebo itu apa …
    Atau dibikin link ke wiki buat kata-2 yg susah ….

    lita: DONE! makacih hunny..

    Reply
  • February 8, 2006 at 3:15 pm
    Permalink

    Sy agak khawatir pada suplemen…
    Menurut saya ASI dan gaya hidup sehat lebih baik dari pada mengkonsumsi suplemen. Bener ga?

    lita: iya dong. tapi orang dewasa dan balita udah gak minum ASI lagi toh?

    Reply
  • February 8, 2006 at 10:34 pm
    Permalink

    wah, kalau aku sering minum redoxon itu gimana?

    lita: redoxon yg mana? CDR? msh gpp. double action? buat apa?

    Reply
  • February 9, 2006 at 8:27 am
    Permalink

    emang kayaknya fitofarmaka itu jamu deh Ta.. cuma beda bahasa aja ;). jadi salah kaprah nurut gw, klo ada yg bilang jamu itu bukan fitofarmaka. pertanyaannya adalah spt yg kamu bilang, obat itu lewat uji klinis atau nggak :).

    gw sendiri orang jawa, tapi ga pernah minum jamu. jgnkan minum, masuk toko jamu macam Akar Sari yg di Singosaren (Solo, pasti tau kamu.. hehe.. ) aja aku ga mau 😛

    Reply
  • February 9, 2006 at 10:09 am
    Permalink

    @@ Hericz,
    Gak ngaruh her, mending kowe ngombe jamu godong kates ben dino, mangan sing akeh, terus olahraga sing rajin ojo neng ngarep kompie terus…. (hehe padahal …..)

    @@Mbak Yanti
    wah wah wah,… segitunya lho si mbak ini nyirik jamu.
    Saya orang solo, dulu waktu masih di solo, saya langganan kalo habis kerja berat (ato lagi pegel-pegel) datang ke AkarSari di Jl. Coyudan. SehatPria+PegelLinu komplit pake Ginseng+Telur Bebek (Ato Telur Ayam Kampung Dua)….ditambah senyumnya si mbak-2 yg melayani …. woot… besok paginya langsung seger, e`the`s, sumringah, seger, sentosa. Siap menguasai dunia bwahahahah….
    Waktu masih aktif berolah raga juga selalu minum madu, kalau darah rendah karena fatig saya gak ke dokter tapi makan jamu enak a.k.a Satay (kalo di keluarga saya yg namanya sate itu ya Sate Kambing ga ada sate yg laen)…
    Yap, saya naturalis holistik. Saya lebih percaya ramuan cina daripada uji klinis, saya lebih nurut tabib/shingse drpd dokter.. (meskipun lebih sering saya nurut karepe dhewe hehe)
    🙂

    Reply
  • February 9, 2006 at 2:44 pm
    Permalink

    eh jadi inget ada mitos : kalo pengen punya anak sehat, maka sejak bayi jangan dikasih makanan instan dan obat-obatan kimia… paling gak hingga balita …

    bener gak tuh ?

    lita: benernya malah sampe gede hindari makan makanan instan pak. dan sebaiknya, kalau merencanakan punya anak (yang sehat), ibu harus mengatur pola makan sejak beberapa bulan sebelumnya (idealnya sih)

    Reply
  • February 10, 2006 at 7:06 am
    Permalink

    hehehe.. kalo sekedar ‘obat tradisional’, seperti minum madu, makan makanan sehat atau berkhasiat sih, aku ga masalah. tapi kalo udah dalam bentuk jamu yang seperti dijual di Akar Sari itu, aku ga suka rasa & baunya (hence ga mau masuk tokonya, ra tahan ambuneeeee :P). mungkin satu2nya jamu berlabel ‘jamu’ yang aku pernah minum adalah kaplet Lancar ASI 😀

    Reply
  • February 11, 2006 at 11:08 am
    Permalink

    Sayah juga akhir2 ini sering banget pilek..
    Sekarang aja masih ‘meler’ nih idung.. hiks..

    Reply
  • February 11, 2006 at 11:37 am
    Permalink

    bu dokter
    ada jamu untuk menolak bala dan obat untuk penyakit hatii…sprt riya, syirik dengki??

    lita: alah, di sini gak jual jamu pak. obat hati tanya ke Aa’ di cyberMQ aja sono… tolak bala? tinggal say NO to bala toh?
    dokter siapa ya? (aye pan bukan dokter pak!)

    Reply
  • February 11, 2006 at 11:58 am
    Permalink

    haha.. aku tau memang anak kecil sering sakit karena daya tahannya sedang di pupuk untuk nanti besar (sambil menambah daftar penyakit yang ada supaya di kenal dengan tubuhnya :D), asal yang penting anak tidak sakit berlarut-larut, sambil dijaga asupan gizi, no makanan junk food, banyak tidur dan olahraga (eh ini bisa buat orang dewasa juga nih.. hihihi).

    aku sendiri paling anti minum obat kalo gak perlu2 amat. paling banter minum obat ya obat pilek buat ‘menidurkan’ badan saat harus istirahat sepanjang siang dan malam. supaya liver ku masih bisa fit disaat aku sudah tua.

    lita: SETUJU ama golda!

    Reply
  • February 13, 2006 at 10:34 pm
    Permalink

    OOT : halo mbak lita, nice banana blog here =)
    account anda sudah kami aktifkan, sekarang mbak lita sudah bisa mulai aktif di forum kami, terima kasih sudah bergabung bersama kami, jangan lupa luangkan waktu untuk memperkenalkan diri di ruang perkenalan =)

    Reply
  • February 14, 2006 at 6:07 pm
    Permalink

    waaa.. minta suplemen pisangnya dung non lita.. 😉 *anterin pesenan kupi+krim*

    lita: makasi ye pok, jauh2 nganterin kupi krim ke sini… btw, suplemen pisang blon ade nyang bikin tuh! bantuin aye dong!

    Reply
  • February 20, 2006 at 4:22 pm
    Permalink

    halo mba!
    saya klo spedaan sering minum vitamin c dan bawa bekal minuman pengganti ion tubuh.
    sebaiknya minum vitamin c setelah sarapan ya?
    klo minum pocari sweat terlalu banyak, berpengaruh buruk ga?
    thx! 🙂

    lita:Halo juga pak Dhani. Saya jawabnya di posting tersendiri saja ya? Terlalu panjang untuk ditulis di kolom komentar.
    Harap dicatat: saya bukan dokter, jadi saran saya jangan disamakan statusnya dengan medical advice dari dokter.

    Reply
  • July 3, 2006 at 7:18 am
    Permalink

    Bukanya stimuno sudah lolos uji klinis & pra klinis. Sampurno (BPOM) pernah menyampikan hal ini dan di muat di Republika. Coba lihat file-file di ZRepublika online deh….

    Reply
  • July 3, 2006 at 8:53 am
    Permalink

    Hade, saya sudah mengetahui bahwa stimuno sudah lulus uji klinis sejak beberapa bulan lalu namun belum sempat membahasnya kembali. Terimakasih sudah diingatkan.

    Sampai saat ini, secara umum, tingkat ‘kelulusan’ echinacea pada uji klinis (yang menjadi referensi pada taut artikel sumber) yang saya sebutkan belum berganti statusnya: tidak berbahaya dan keuntungannya tidak signifikan.

    Reply
  • July 4, 2006 at 7:22 am
    Permalink

    Nanya Mbak…,
    Kalau Stimuno dibilang “bisa membuat 80 persen penderita TB tidak menularkan penyakitnya” itu kira-kira senyawa yg mana yang bisa membuat hasil penelitian spt itu ya mbak.
    Makasih.

    Reply
  • July 4, 2006 at 9:34 am
    Permalink

    Hade
    Saya bukan farmasis atau dokter yang tahu banyak tentang detail efek ‘obat’. Jadi saya hanya bisa merujuk ke artikel-artikel yang dirujukkan oleh yang lebih berwenang saja.

    AFAIK, echinacea tidak hanya satu spesies, dengan begitu hasil penelitian tergantung pada spesies yang digunakan. Selain spesies, ternyata efek echinacea juga dipengaruhi oleh bagian mana yang digunakan, cara ekstraksinya, dosis penggunaan, dan cara minum.

    Jadi seharusnya, betul-betul terinci spesies mana yang digunakan dalam penelitian untuk memberikan hasil seperti yang diklaim.

    Penjelasan ini bisa didapat pada taut yang sudah disebut dalam artikel, walau tidak berkait langsung dengan Stimuno dan tuberculosis.

    Tambahan, ada artikel dari prof. Iwan Darmansjah mengenai tidak efektifnya Echinacea sebagai immuno-stimulant. Dan taut ke artikel yang berkait di The New England Journal of Medicine (efek Echinacea terhadap infeksi Rhinovirus a.k.a. common cold/selesma).

    Reply
  • November 20, 2007 at 6:31 pm
    Permalink

    met malam mbk lita…
    ak mau nanya nich klo mau beli echinacea dimana ya?
    trus harganya berapa?
    boleh minta bantuanx g?
    soalnya ak mau penelitian bulan ini…
    terima kasih..

    Reply
    • November 21, 2007 at 11:21 am
      Permalink

      Dear, aku cuma jualan buku, itupun buku menyusui 🙂
      Minta info ke teman lain saja, ya.

      Reply
  • November 27, 2007 at 10:07 am
    Permalink

    Hallo..
    mo nany…ttg echinacea purpurea..
    ada ga hub.ny dgn IgA???
    klo ada bhn n info ny blh minta ga???buat bhn skripsi
    mksh

    Reply
    • November 28, 2007 at 2:48 am
      Permalink

      Halo Thieka.
      Sila cari di tempat lain ya, saya tidak menyediakan bahan untuk skripsi 🙂

      Reply
  • January 25, 2008 at 7:09 pm
    Permalink

    gw detailer obat, jualan imunomodulator, kalo nggak ada efeknya …kenapa omzet obat imunomodulator Milyaran rupiah setahun…Target gw tiap tahun naik jadi mau scientific atau pakai perasaan…..

    Reply
    • January 25, 2008 at 11:13 pm
      Permalink

      Ini maksudnya bukan kura-kura dalam perahu, kan? 🙂

      Dengan iklan segencar dan sepersuasif itu, masakan tidak ada ibu yang ‘terhasut’ dan membeli untuk anaknya tersayang supaya tidak mudah sakit? 😉
      Kalau obat flu ngga ada efeknya, kenapa omzetnya besar sekali? Tanya kenapa ™ 🙂
      Vaksin HPV dipromosikan sebagai pencegah kanker rahim di Indonesia. Apakah berdasarkan penelitian ‘lokal’ bahwa kanker rahim di Indonesia sekian persen (sehingga dianggap mayoritas dan premis berlaku) disebabkan oleh HPV? Tidak. Kok terjual? Tanya siapa ™ 🙂

      Maafkan kekasaran saya. Seringkali iklan tidak memakai daya tarik sains, tapi menyinggung perasaan agar calon konsumen membeli produk. Ngga saintifik ngga papa, yang penting dibeli.

      Reply
  • April 21, 2008 at 2:04 pm
    Permalink

    Mbah Lita… eh sorry Mbak Lita, sudah pernah coba Klorofil yang sekarang lagi marak beredar belum ?

    Reply
  • April 2, 2009 at 4:58 pm
    Permalink

    “”kenapa masih ada yg usil…memalsukan jamu ya..padahal itu kan itu warisan nenek moyang.tolong sadar donk..cinta in warisan budaya kita

    Reply
  • February 12, 2017 at 12:05 am
    Permalink

    Mbak lita mau tanya istri saya kan sedang hamil dan krn sempet kepleset d kamar mandi trus d periksa ke dokter katanya bayinya gpp tp kandungannya lemah jadi d suruh minum echinacea 250mg dgn resep dokter apa itu gpp???

    Reply
    • February 13, 2017 at 12:08 am
      Permalink

      Halo, mas Andy
      Saya percaya dokter (yang memeriksa istri mas) lebih kompeten daripada saya dalam memberikan konsul medis 🙂
      Jika kurang yakin, bisa dan pasti didengar kok jika ditanyakan baik-baik alasan pemberiannya. Atau ‘second opinion’ ke dokter lain.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.