Bertanyalah Pada Yang Lebih Tahu

Saya suka lagu Belajar dari Ibrahim-nya Snada. Lagu lama, tapi liriknya ceria. Dan karena Ibrahim adalah anak pertama kami, ini seperti ‘lagu kebangsaan’ keluarga. Lalu? Ya… entah, rasanya ketika terpikir tentang ‘belajar dari siapa saja’ kok terpikir tentang lagu ini.

Saya teringat ketika memberikan tugas beberapa hari yang lalu. Ada satu soal yang saya ragu-ragu menjawabnya. Tentang grafik, dan itu lebih ke persoalan matematika ketimbang teori kimia.

Selalu ada pilihan berbagai cara menanggapi ketika seorang guru tidak/belum tahu jawaban dari suatu pertanyaan. Katanya sih, yang paling penting, guru itu harus jago ngeles. Dan terus terang, saya tidak jago ngeles. Jadi kalau saya tidak tahu ya saya bilang saja jujur, saya tidak tahu dan berjanji akan mencari tahu (dan memberitahukan hasilnya di pertemuan selanjutnya).

Khusus untuk pekan ini, saya memutuskan untuk langsung belajar dari murid. Tentunya, harus sudah mengenyampingkan yang namanya ‘harga diri’, malu, segan, dan lain-lain. Murid saja saya anjurkan untuk banyak bertanya (walaupun tidak harus selalu saya yang menjawab, kebanyakan justru mereka sendiri yang menjawab), masa saya enggan bertanya?

Saya hampiri seseorang dan saya tanyakan padanya. “Untuk nomor yang ini, bagaimana caramu, nak?”. Lalu kami berdiskusi, mengerjakannya bersama. Betul-betul bersama, karena saya memosisikan diri sebagai yang sedang belajar, minta diajari ketimbang mengajari. Di akhirnya memang jawaban awal saya (yang saya simpan di hati saja) memang salah. Murid saya yang benar.

Saya puas, karena berhasil mengalahkan keengganan diri dan memilih untuk tidak ‘ngeles’. Murid juga puas, karena berhasil menjawab pertanyaan sekaligus membantu saya. Katanya, “Eh, kok jadi saya yang ngajarin Ms. Lita”. Saya tersenyum, “Memangnya kenapa? Tidak apa-apa, kan?”.

Hanya butuh untuk merendahkan diri sejenak, ternyata. Murid senang dan percaya diri, saya juga senang dan senang melihat murid senang. Kami sama-sama senang di akhir pelajaran kimia hari itu.

p.s.
Terimakasih ya, nak. Jangan sampai sombong, ya. Kamu bisa melaju lebih cepat dan menggapai yang lebih tinggi kalau tidak cepat berpuas diri. Ayo semangat!

Modified article is also posted in AksiGuru.org here.

4 Comments

  1. AdityaFajar.com

    January 17, 2010 at 8:43 pm

    I salute you Lit! This what I called education, where teacher and pupil are cooperating for a greater good.

  2. aLe

    January 23, 2010 at 5:46 pm

    Sore bu lita,
    lama neh aLe ga maen kesini,
    aLe sedang mempertanyakan imunisasi
    http://alixwijaya.com/mempertanyakan-imunisasi-vaksin-halal-dan-haruskah.htm
    Mungkin ibu lita bisa bantu,

    Terima kasih

    Salam dari Malang
    -aLe-Ais-Vivi-

  3. Lita

    January 24, 2010 at 2:33 pm

    aLe bisa gunakan kotak search untuk menemukan tulisannya, ya.
    Mohon bersabar, karena tulisan & komentarnya panjang sekali.
    Kesimpulannya? Kembali ke para orangtua 🙂
    Monggo. Silakan.

    @Adit: 🙂 not an easy thing to do. Thank you for supporting.

  4. kenji

    February 21, 2010 at 9:44 pm

    sudah saatnya kita tidak mengikuti budaya buruk orang tua kita dalam hal menjaga postur yang berlebihan…

Leave a Reply to kenji Cancel

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.