Bunda Marah

Siang panas. Perut sedang kram dan punggung pegal. Risih serba tak nyaman. Namanya juga sedang haid.

Capek. Sudah minta disusui, tapi Daud tak kunjung mau berbaring padahal matanya sudah berkantung tanda mengantuk. Mataku makin berat. Jadilah setengah tidur sambil tangan masih sibuk berjaga supaya Daud tidak memanjat tubuhku dan berpindah ke sisi lain: lantai.

Duh, kegiatannya tak ada tanda akan mereda. Sudah jam 3 sore, batallah acara tidur siang. Cukup.

Aku duduk. Daud beringsut mendekat, meraih tubuhku mencari pegangan. Minta berdiri. Aku diam saja. Karena geliat, tubuhnya terjatuh ke kasur. Tertawa, mengiraku mengajak bercanda.

Kupijit hidungnya lembut, walau sebenarnya merasa gemas tak karuan. Lucu sekaligus mangkel. "Uh! Ngga lucu!", kataku. Dia tertawa lagi. Aduuuhhh, kok malah ketawa siiihhh. "Bunda marah", kataku. Dia tertawa lagi. Aku tetap diam kaku. Lalu ketawanya hilang sendiri berganti wajah tanya.

Kutinggalkan Daud di kamar bersama sepupu dan adikku. Menyiapkan air mandi dan pakaian ganti, lalu kembali ke kamar. Melihatku, Daud berjuang keras untuk turun dari kasur (yang diletakkan di lantai) karena dihalangi oleh sepupuku. "Biar saja. Biar dia mulai merasakan lantai", kataku.

Beringsut turun, merasakan lantai yang keras dan dingin, geraknya sedikit perlahan. Tapi tergesanya tak hilang. Tubuhku tergapai, lalu dia minta diturunkan kembali ke lantai. Mencoba merangkak, tertarik pada pengganjal pintu.

Aku khawatir, mengingat kebiasaannya untuk mendarat dengan muka saat merayap (sambil melompat) maju. Hmph, kuatkan diri!, kataku pada diri sendiri. Kuamati Daud dengan cemas. Awas.

Satu, dua langkah. Hup! Lompat. Dug! Hening sejenak, lalu… Whoaaaaaaaaaaaaaaa!!!…

Ibuku yang sedang lelap langsung duduk terjaga, mengira Daud jatuh dari dipan. "Nggak papa, Ma. Memang lagi di lantai, kok!", jawabku terhadap bingungnya.

Kuraih Daud untuk berdiri. Tangisnya keras tak berhenti.

Whoaaaa…

"Iya sakit. Itu namanya sakit".

Haaaaaaaaa…

"’Sakit, bunda’?, iya, bunda tahu Daud sakit".

Aaaaaa…

"Lain kali hati-hati ya. Pelan-pelan aja, ngga usah buru-buru. Sakitnya nanti juga hilang".

Nnnggggg… *Dekati lalu peluk-peluk kaki bunda*

*Bunda senyum doang*
"Bunda marah. No hug this time, my dear. That’s your lesson today". (sebelum ditanya, "Iya, aku mengajari bilingual".)

*Tangis berhenti sendiri, sambil tetap memeluk dan bersandar ke kaki bunda*

"Sekarang kita mandi, yuk!"

Sekian pelajaran ‘bunda marah’. Setelah mandi, belum habis makanannya, Daud sudah tertidur. Di pelukan bunda, tentu saja.

Kenapa repot-repot mengajari marah?
Supaya mereka tahu ‘bentuk’ marah itu seperti apa: muka tanpa senyum, kata-kata jadi tegas dan tajam, tak ada pelukan.
Supaya mereka belajar membedakan, mana bunda yang sedang bercanda, mana bunda yang sedang marah.
Supaya mereka gak ketawa kalo aku lagi marah! *ugh gemes, cium pipi-pipi empuk itu!*

Bunda sayang kalian, nak. Bunda bisa marah, tapi tak akan lama kok. Habis itu, kita main lagi. Yuk!

38 Comments

  1. luthfi

    June 27, 2006 at 10:33 pm

    Belum ada yang nagsih komen ?
    Buat daud, sabar ya dek …. ibukota lebih kejam daripada ibu tiri. — gak nyambung ya ?
    *cium pipi daud yang empuk*
    Buat ibunya : klo Daud ketiduran, padahal maemnya blm habis, apa gag gosok gigi ato giginya digimanain ???

  2. Mbilung

    June 27, 2006 at 10:34 pm

    Whoaaaa รขโ‚ฌยฆ… bunda maraaaaaah …..

  3. Rani

    June 28, 2006 at 7:32 am

    hehehe iya .. agak susah ya menahan diri utk menjaga supaya anak ga ngerasain jatuh, tapi ternyata jatuh itu proses belajar yg penting juga untuk si anak. Kalo ga pernah jatoh ga belajar jadinya..

    Jadi batas antara melindungi dan membiarkan utk belajar tuh gimana ya? Pernah sekali si Noe di bully anak kecil, tadinya aku mo biarkan aja utk memecahkan masalahnya sendiri tapi malah jadi kasian ama dia jadi aku giring aja jauh2 dari si bully itu..

    terus ada lagi masalahku.. si Noe ga pernah ngerti kapan aku marah. kalo aku cemberut marah gitu dia pikir aku becanda. gimana ya caranya?

  4. Dhika

    June 28, 2006 at 7:49 am

    :), serem juga kalau marah… *tega nian je…

  5. yanti

    June 28, 2006 at 8:20 am

    kalo gw marah, Naila sering bilang ,”Bunda ketawa dong! Bunda ketawa!”

    setengah mati nahan untuk ga senyum ๐Ÿ™‚

  6. mbu

    June 28, 2006 at 8:25 am

    ntar klo udah punya anak, buka-buka lagi postingan-postingan parentingnya bunda lita ah.. ๐Ÿ™‚

    ih.. bunda seyem juga yah.. :p

  7. Lita

    June 28, 2006 at 9:25 am

    Luthfi
    Walau makanannya belum habis, kalau Daud sudah tidak mau atau ada tanda-tanda mengantuk, acara makan dihentikan dan dilanjutkan dengan minum air putih.
    Kalau sudah ketiduran? Bangunin. Kalau minum dia mau kok, walau sambil merem ๐Ÿ™‚

    Mbilung
    Jangan teriak-teriak, pakdhe. Nanti Daud bangun gantian sampeyan yang saya marahi :mrgreen:

    Rani
    Ibrahim dulu gak mempan kalo dimarahi aku atau mbah putrinya. Sekarang dia cuma gak mempan sama mbah putri :mrgreen:

    Seingatku begini:
    Eye contact. Lihat ke matanya dan minta dia melihat mata kita.
    Mean it. Kalo marah ya marah. Mukanya marah, nadanya marah, bahasa tubuh juga marah (jangan nyengir, gitu hehe).
    State it. Bilang kalo kita marah.
    Make it simple and to the point. Bilang apa yang bikin kita marah SAAT ITU dan JANGAN mengungkit yang sudah lalu.

    Syaratnya, kita harus tenang. Kalau perlu, anak ditinggal menenangkan diri dulu atau sekadar menjauh. Nangis? Biarin aja.
    Susah? Tak perlu ditanya. Kuat-kuatan aja :mrgreen:

    Bully? Hehe… Aturan buat Ibrahim ada dua:
    Kalau dinakali, balas. NO telling on. Tapi tidak boleh nakal duluan. Hasilnya, yang usil sama dia pasti dibales hehehe…Terserah empunya barang. Kalau mau pinjam tidak boleh, ya jangan merebut. Hasilnya, kalau di rumah temannya dan dia tidak diberi pinjam, ya gak protes. Tapi jangan tanya kalau si teman berkunjung ke rumah. Dikasi pegang juga gak boleh, sementara teman lainnya boleh :mrgreen:

    Terkesan balas dendam? Tidak juga. Eye for an eye. Satu untuk satu, tidak boleh berbuntut panjang.
    Lagipula kan ada orangtua, yang bisa membantunya untuk mengerti kapan begini dan kapan begitu. Kapan suatu aturan berlaku dan membiarkan anak mengatasi sendiri, kapan kita harus turun tangan.

    Lho lho… jadi panjang. Maap mbak Rani, tidak bermaksud menggurui, hanya berbagi.

    Dhika
    Jadi orangtua harus tahu kapan dan bagaimana untuk tega. Semua demi mempersiapkan anak untuk melangkah ke dunia luar tanpa ditemani orangtua. That’s what parenting is ๐Ÿ™‚
    *serius mode: on*

    Yanti
    Ayo bunda, tahan senyumnya! Yak tahan… 5 detik lagi… Cut!
    Qiqiqiq… Susah ya nahan senyum kalau mereka bertingkah lucu ketika kita berniat marah. Doh, sampe pegel rasanya.

    Mbu
    Silakan, tapi yang ngaco jangan ditiru ya :mrgreen:
    Iya, bunda emang seyem. Baru tau ya, nak?

  8. Oskar Syahbana

    June 28, 2006 at 10:09 am

    Hiiiy, bundanya serem amit ๐Ÿ˜‰

  9. eka

    June 28, 2006 at 10:28 am

    nanti kalo daud sudah sebesar mba rafa dia akan bilang
    “bunda marah ya…maaf ya bun…jgn marah lagi dooong”
    “aku janji deh ga nakal lagi, ga ngambek lagi, ga ngomong jelek lagi… aku kan sayang bunda” sambil ngelus2 pipi bundanya…trus ngasih jari kelingkingnya yg mungil tanda minta baikan huehehehe

    paling bundanya yg akan berkaca2…peluk deh!

    anak memang mesti tau bundanya marah dari kecil, kalo dari kecil slalu dituruti dan ga tau bundanya bisa marah, kalo dah rada gede ga bakal mempan
    sia sialah bundanya marah
    (pengalaman temen neh)

    ayo ibrahim & daud yg sholeh, tetep semangat ya…
    kasih semangat bunda juga kalo bunda batrenya lagi abis
    hahaha

  10. Ima

    June 28, 2006 at 12:13 pm

    Nice Site deh Bunda! ๐Ÿ™‚ Lam kenal lam ukhuwah. Boleh dilink ? Lam kenal juga buat Daud. Kabarnya pipinya endut yah ? titip cubit sayang yah dari tante ima.. ๐Ÿ™‚

  11. Silverlines

    June 28, 2006 at 3:08 pm

    Katanya kalo mau mengajari bilingual sebaiknya konsisten, contohnya: Dengan Ayahnya anak hanya berbahasa Indonesia, Dengan Bundanya hanya berbahasa Inggris/Perancis/Jawa/Padang etc .. Nanny/Suster/Mbak/Mbok juga boleh “dikaryakan” supaya konsisten hanya berkomunikasi dengan satu bahasa. Selain supaya anak lebih tertib bahasa, juga menghindari kebiasaan berbahasa campursari dalam satu dialog. Gitu lhoo.

    Katanya lhoo ..
    Saya sendiri hanya berbahasa Indonesia dengan anak, dan marahnya biasanya beneran juga kalau memang perlu marah, belum pernah pura2 marah … ๐Ÿ˜€

  12. anjak

    June 28, 2006 at 6:54 pm

    gak diajari judo, Ta? biar kalo temennya usil, dibanting…

  13. Lita

    June 28, 2006 at 8:06 pm

    Oskar
    Hiiiiyyy…
    Lah, kok kaya nonton pilem horor aja seh.

    Eka
    “Ayo pasukan, yang semangat ya! Bude Eka udah mau jadi cheer leadernya tuh!” :mrgreen:
    Gak usah dikasi omongan manis gitu. Ditatap mata-mata polos itu aja udah trenyuh kok :p Susyah yaaaa…

    Ima
    Adaw… Jangan dicubit tante. Mbales nyubitnya bisa lebih keras, lho :p
    Salam kenal, mbak Ima.

    Silverlines
    Huhu… ada mbak Silverlines, tamu kehormatan ๐Ÿ˜€
    Aku juga belum pernah pura-pura marah.

    Terimakasih mbak.
    Sebenernya di rumah ini gak betul-betul bilingual. Soalnya selain bahasa Indonesia dan Inggris ada bahasa Jawa juga. Hihihi…

    Anjak
    Memangnya ada judogi buat anak 2 tahun?
    Biar bapaknya aja yang ngajarin, ibunya cuma inget ukemi doang :mrgreen:

  14. jundihasan

    June 28, 2006 at 8:27 pm

    What a beautiful episodes…

    Ingat Fathimah Az-Zahra yang menggiling gandum sambil menggendong si kembar…
    *gak persis sama sih..just remind me of Her*

    InsyaAllah Bunda sudah melakukan hal yang seharusnya Bunda lakukan
    Moga surga kau dapatkan bunda!!

    * Foto Daud?

  15. Tamu Misterius

    June 28, 2006 at 11:11 pm

    Ikutan Boleh???? ๐Ÿ˜›

  16. Lita

    June 29, 2006 at 7:50 am

    Jundihasan
    Fotonya silakan dilihat di halaman ‘about’.

    Not the same, of course. Masa saya disandingkan dengan Fathimah yang mulia? Hehe…
    Saya juga ngga pernah menggendong keduanya di saat bersamaan kecuali ketika si bungsu masih dalam kandungan ๐Ÿ™‚

    Tamu Misterius
    Saya tidak melarang siapapun bergabung.
    Harap ingatkan diri anda untuk mematuhi etika walau ini hanya blog.

  17. dini

    June 29, 2006 at 8:54 am

    Wah…komen yang keberapa nih, yang pasti dapet banyak ilmu abis mampir ke sini ๐Ÿ˜›
    Kapan-kapan aku curhat ya mbak… ๐Ÿ™‚

  18. Irma Citarayani

    June 29, 2006 at 9:24 am

    hihi..baca artikel ini aku jadi inget ade bontotku. Kalau dirumah aku suka becanda,jailin dan kadang manjain adeku, tapi kadang2 adeku juga suka nakal, dan kalau dia nakal, biasanya aku bisa sengaja marah dgn cara meninggikan nada suara dan jelas-jelas bilang gini “ivan, uni ma marah nih!”…eh,adeku malah ketawa-tawa sambil bilang…”ih, uni ma sensitif ya…”, dan bukannya marah aku malah jadi ga bisa nahan tawa ๐Ÿ˜€

    btw, titip salam buat tamu misteriusnya je..:P

  19. Tamu Misterius

    June 29, 2006 at 2:07 pm

    Aturannya jangan keras keras, :P.
    Nabi Ibrahim ketika mau ngasih makan ummat Namrud saratnya disuruh ucapkan LAA ILAAHA ILLALAAH, langsung ALLAH kasih beliau peringatan. Karena manusia sendiri untuk tinggal di bumi ALLAH ini, ALLAH tidak berikan sarat sarat khusus dan berat berat.
    Kenapa ya? kita mesti banyak pakai sarat dan aturan?
    Kita patuh apa tidak patuh dengan aturan ALLAH, ALLAH tidak marah dan paksa kita.
    Tinggal kita nya aja, milih, mikir, kalo mau enak ato selamet ikuti aturan, kurang lebih gitu ya mbak???

  20. evaa

    June 29, 2006 at 5:07 pm

    duh iya niiy betapa susahnya mengatur marah pada anak
    memang perlu deh ‘ilmu manis’ memarahi anak ๐Ÿ™‚ marah yang ga sampe sesuatu menyentuh fisik anak ato melukai hatinya ;(

    salam kenal, ini jejak perdana setelah mampir kesini beberapa kali ๐Ÿ™‚

  21. Indra

    June 29, 2006 at 5:23 pm

    duuh yg udah punya anak … pengen cepet2 punya anak nih … nikah dulu kali yeeeeee … oke deh mbak lita .. aku mo nikah nih ,… hhehe .. undangannya dah aku kirim lewat email, atau bisa liat di website pernikahan saya pernikaha [dot] indrac [dot] net

    datang yeeeee …

  22. Lita

    June 29, 2006 at 8:18 pm

    Dini
    Boleh boleh… Kirim e-mail aja biar curhatnya di jalur pribadi, ya ๐Ÿ™‚
    Alhamdulillah, senang bisa bermanfaat.

    Irma
    Uni Irma, kalo anak kecil diancam (“… nanti marah nih!”), biasanya dia akan ngetes. Beneran kejadian gak, ya? Atau malah menggoda ‘iman’ supaya yang ngancem gak jadi marah.

    Jadi, menurut pengalamanku, kalau memang mau marahnya dimengerti, pakai peringatan dulu (misalnya, “Kita hanya akan main ke luar kalau kamu sudah pakai baju. Jika tidak, kamu tidak boleh ke luar kamar. Malu.”). Tunggu sampai dia benar-benar melakukan ‘kesalahan’, baru katakan apa kesalahannya yang menyebabkan kita marah (misalnya, “Uni marah. Kamu melanggar janji untuk tidak merebut mainan temanmu”).

    Silakan dicoba. Semoga gak kalah nyali sama Ivan :mrgreen:
    Salamnya pasti sudah dibaca sendiri sama yang bersangkutan, tak perlu perantara ๐Ÿ™‚

    Evaa
    Ah, iya betul. Cara marah harus fleksibel, disesuaikan dengan tipe masing-masing anak yang unik.

    Salam kenal juga, bunda Lyla. Terimakasih sudah mampir dan meninggalkan jejak di sini ๐Ÿ™‚

    Indra
    Deuuu… yang mo nikah tanggal 9 ๐Ÿ˜‰
    Undangannya sudah diterima dan dimasukkan ke jadwal. Tunggu saat kopdar, ya ๐Ÿ™‚

  23. Rho Mayda

    June 30, 2006 at 3:56 am

    waaaaaaaaaaaa mba lita hebaaaaaaaat!!! ini niih ibu jagoan ๐Ÿ˜‰

  24. awaloeddin

    June 30, 2006 at 1:00 pm

    jadi pengen punya momongan

    [masih lmaaaaaaaaaaaaaaaaaa] ๐Ÿ™

  25. fitri

    July 1, 2006 at 12:21 pm

    halo! nyesel banget saya baru nemuin blog tentang dunia ibu dan anak seperti ini disini. kayaknya ada cerita2 lainnya juga. bagus banget. salam kenal ya ๐Ÿ˜€

  26. fitri

    July 1, 2006 at 11:28 pm

    aku link ya jeng ๐Ÿ˜€ iya deh, nggak jadi nyesel deh sekarang. hehehe. salam buat para jagoan ya. ๐Ÿ˜€

  27. Lita

    July 1, 2006 at 11:33 pm

    RhoMayda
    Hayuh sini setoran oleh-oleh dari Belanda dulu.

    Awaloeddin
    Lama gak lama, yang penting nikah dulu toh? ๐Ÿ˜‰

    Fitri
    Ya gak usah nyesel gitu lha, mbak Fitri. Blog ini kan nyempil di antara berapa juta blog laen :mrgreen:

    Monggo kalo mau di-link. Silaken. Terimakasih, nanti ta’ link balik.

  28. kenji

    July 2, 2006 at 11:10 pm

    asik2… sudah masuk ke pelajaran memarahi anak ๐Ÿ˜€
    berikutnya pelajaran memberikan hukuman :p

    bener ga? menghukum itu perlu tapi ada aturan dan etikanya ๐Ÿ˜€

    ayo lit, bikin postingan tentang memarahi dan menghukum anak :D… Dulu saya lihat di NHK, ada psikolog yang menyesalkan sistem pendidikan yang tidak memberikan hukuman fisik. Dia bilang itu berkaitan dengan perkembangan psikologis balita (wah ora ngeh aku, belum punya anak :D)

  29. Mbilung

    July 3, 2006 at 2:20 am

    Maaf Bu, saya sudah ndobos tidak teliti, sudah saya perbaiki … Ibu ndak marah lagi kan? … *dengan mata berkejap-kejap* ..

  30. Evi

    July 3, 2006 at 11:11 am

    Memang sulit untuk marah pada anak apalagi bayi, tapi kadang mereka bikin gemes. Kyk Nasywa kalo lagi minum ASI kadang suka nggigit padahal belum keluar giginya tapi lumayan juga bikin kaget dan ga mau dilepas sebelum Bundanya mencet hidungnya plus teriak. Kasian juga, Nas ikut kaget tapi itu pelajaran bagi dia bahwa yang dilakukan salah. Tapi namanya juga bayi masih diulang-ulang juga.

  31. Eep

    July 5, 2006 at 9:00 pm

    Jadi begitu ya marahnya Bunda sama Daud..?
    doooh…, ga nyangka.. ๐Ÿ™‚

  32. lely

    July 18, 2006 at 3:20 pm

    wah.. bunda yang hebaat…
    padahal baru baca beberapa posting nih,.. hehe
    salam kenal ya..
    btw, mulai umur berapa ya mbak anak bisa dikasih pelajaran ‘marah’ ini ? soalnya anak saya baru 6 bulan neeh
    thx b4

  33. Lita

    July 18, 2006 at 10:46 pm

    Kenji
    Hukuman fisik? Paling cuma kupencet aja idung para juragan itu ๐Ÿ™‚ Pernah juga nepuk kaki/tangan.

    Menghukum? Berhubung anakku masih kecil-kecil, paling aku diemin aja kalo aku lagi ngambek :p

    Mbilung
    Nggak marah kok *ikutan ngedib-ngedib*

    Evi
    Kayanya reflek ibu itu universal ya: mencet idung :mrgreen:

    Eep
    Memangnya apa persangkaanmu padaku?

    Lely
    Aku kirimi e-mail ya, mbak. Salam kenal juga.

    Umur berapa ya? Rasanya ngga ada batasan umur minimal deh. Eh, buat aku sih.

    Intinya: konsisten dan bertahap.
    Kalo sesuatu gak boleh, ya gak boleh. Jangan sekali boleh, kali lain ngga boleh.
    Bertahap; awalnya diperingatkan, apa yang akan kita lakukan kalau mereka mengulangi hal yang tidak kita perbolehkan.
    Selanjutnya, lakukan apa yang kita peringatkan pada mereka.

  34. Saya

    July 26, 2006 at 7:36 pm

    Bu, saya setuju bahwa anak perlu diperkenalkan dengan emosi marah orangtuanya. Yang saya tidak setuju, adalah marah itu dilakukan tanpa penjelasan apa sebenarnya hal yang membuat marah. Seorang anak juga harus diperkenalkan konsep sebab-akibat yang konsisten, sehingga dia juga bisa belajar menimbang konsekuensi perbuatannya.

  35. renee, bundanya aila

    December 26, 2006 at 8:53 am

    mba’…aku & aa’ lagi bingung ngadepin tantrum & terrible two period-nya aila.
    semalam dia mainin makan malamnya, jadi dia hanya makan sekitar 3-5 suap. karena nakalnya itu, aku & aa’ sepakat memberi punishment tidak boleh dengar kaset kakak tasya sepanjang perjalanan pulang (kebetulan kami dalam perjalanan dari depok menuju cirendeu). maka…MENGAMUKLAH DIA!!! mulai dari menuntut kasetnya dipasanng, melihat yanda-bundanya gak bergeming, ganti ‘tuntutan’ deh: minta duduk dipangku bunda (aila duduk sendiri di seaternya di belakang ditemani pengasuhnya). ‘tuntutan’ ini terpaksa kami penuhi krn aila hampir muntah. setelah tenang baru aku kasih tau kalo tadi perbuatannya dia salah (mainin makan malamnya) & kalo salah harus siap menerima konsekuensinya. dgn lirih aila menjawab “iya, bunda. aila minta maaf”. sisa perjalanan dihabiskan aila tidur di pangkuanku tanpa mendengar kakak tasya-nya…
    pagi ini, dlm perjalanan menuju kantor, aa’ menyatakan keberatannya dgn metode punishment tsb kalo ada orang lain saat kami ‘menghukum’ aila. dia takut orang lain tsb (dalam hal ini pengasuh aila) akan mendapat justifikasi utk meniru penerapan metode tsb saat kami tidak ada, tanpa tahu di batas mana mereka harus berhenti.
    any input, advise, anything?
    *stillconfuse&sooo…otired!*

  36. Lita

    December 26, 2006 at 10:22 am

    Renee
    Kepala saya tiba-tiba gatel nih :p

    Untuk menghadapi anak yang tantrum, tidak ada solusi yang seragam pas sama untuk setiap anak sih, karena tipe anak kan beda-beda.

    Mungkin ngga, Aila ngga tau kalo mainin makanan itu salah, makanya ngga tau kenapa permintaannya ngga dituruti? Karena ngga dituruti, keluar deh ngamuknya. Tuh, setelah mbak katakan alasannya, Aila ngga minta diputarkan kaset (pinter banget sih mbak Aila!).

    Mungkin sedang tidak lapar, atau sedang malas makan, tidak berselera, atau apapun, makanya makanannya dimainkan. Tapi… sepertinya mbak sudah punya kesepakatan dengan Aila ya, tentang ‘memainkan makanan’? ๐Ÿ™‚

    Soal batas punishment, tiap keluarga beda-beda ya. Kalau aku boleh saran, kita tetap konsisten. Ada orang lain atau tidak, perlakuan kita tetap sama. Walaupun akan lebih nyaman buat anak kalau kita tidak menyatakan kesalahannya di depan orang lain. Tentu saja sampai batas mana, ini kembali ke kesepakatan masing-masing orangtua.

    Kalau merasa lebih baik hukumannya ditunda, ya tunda saja. Kalau merasa lebih baik sekarang daripada nanti (keburu anaknya lupa atau berpikir bahwa orangtuanya suka mengungkit-ungkit yang sudah lewat), ya sekarang saja mumpung topiknya masih hangat :p

    Paling enak, bikin kesepakatan saja dengan suami dan Aila. Usia segitu kan sudah bisa memahami dengan baik kata-kata orang dewasa. Jadi, kalau Aila mulai beraksi, mbak bisa mengingatkan tentang kesepakatannya. Aila tentu akan lebih merasa dihargai kalau kita ‘memperhitungkan’ kata-katanya ๐Ÿ™‚

    Sabar ya, mbak… Ngga sendirian kok. Kita senasib dengan berjuta-juta orangtua lain di dunia hehehe…

  37. renee, bundanya aila

    January 2, 2007 at 7:35 am

    mba’ lita emang Te-O-Pe Be-Ge-Te deh!!! ;D
    makasih ya mba’… ๐Ÿ™‚
    aku juga udah baca beberapa artikel ttg tantrum, memang gak ada batasan yg tegas, tapi garis merahnya adalah konsisten (as you mentioned).
    sekarang kami masih dalam proses menyusun kesepakatan pemberian punishment saat ada orang lain.
    kekhawatiranku dgn penundaan punishment, selain alasan yg sudah mba’ berikan, adalah membuat anak ‘mencari perlindungan’ dari orang lain utk menghindari punishment saat dia tau dia gak akan dihukum saat ada orang lain…
    mmm…memang PR yg rumit! :S

Leave a Reply to Dhika Cancel

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.