Gula = diabetes? WRONG! (updated)

Satu dari sekian banyak iklan yang membodohi rakyat negeri ini adalah iklan pemanis pengganti gula (baca: sukrosa/gula pasir putih). Iklan-iklan tersebut mulanya membidik target para perempuan yang ingin langsing namun tetap dapat mengkonsumsi makanan/minuman yang manis. Setelah itu, target konsumen meluas menjadi mereka yang ingin tetap ‘sehat’.

Biasanya, iklan ini mengaitkan antara konsumsi gula dengan diabetes. Benarkah? Big NO! SUGAR DOES NOT CAUSE DIABETES. Kebutaan, amputasi, dan penyakit ginjal adalah komplikasi yang disebabkan oleh penyakit diabetes, bukan oleh konsumsi gula.

Yang mendorong timbulnya diabetes adalah tingginya kandungan gula dalam darah. Kata ‘gula’ ini sendiri dapat diartikan sebagai sejumlah kalori yang dapat disetarakan dengan jenis karbohidrat yang lain.

In other word, yang menyebabkan naiknya gula darah tidak hanya gula (=sukrosa), tapi karbohidrat secara umum, misalnya nasi, kentang, dan lain-lain sumber energi utama yang kita konsumsi sebagai makanan pokok. Dengan demikian, diabetes disebabkan oleh pola makan yang tinggi kalori, kelebihan berat badan, dan pola hidup yang kurang aktif.

"Ganti gula anda dengan gula jagung Tro****na S**m". Merk yang sama yang mengkiklankan gula = diabetes. Apakah gula jagung itu? Glukosa. Apakah glukosa itu jenis gula? Tentu. Glukosa adalah gula sederhana yang mudah diserap oleh tubuh. Gula yang lebih rumit seperti sukrosa (gula pasir) dan fruktosa (gula buah) akan dipecah-pecah oleh metabolisme tubuh menjadi glukosa. Glukosa yang terkandung dalam darah dinamakan gula darah.

Apakah sekarang terdengar lebih familiar? Ya memang begitulah bahasa iklan. Menyesatkan mereka yang tidak tahu (apalagi yang tidak mau tahu). Dan kata yang paling mudah ‘dimainkan’ oleh iklan adalah gula.

Untuk orang yang awam dengan kimia organik, gula adalah sukrosa. Sedangkan pada kenyataannya, di dunia kimia organik, semua senyawa organik yang memberi rasa manis dikatakan gula! Yang membedakan antara gula satu dengan gula lainnya adalah (tentu saja) struktur molekul dan tingkat kemanisan, di mana yang dijadikan standar adalah sukrosa (tingkat kemanisan = 1).

Apabila suatu produk dapat memberi rasa manis namun tidak mengandung gula (atau umumnya diklaim sebagai rendah kalori), maka produk tersebut adalah/mengandung pemanis buatan. Produk ‘manis’ rendah kalori ini biasanya dilabeli ‘diet’, seperti Diet C*ke, Diet P**si, dll.

Kalori yang rendah bisa disebabkan oleh penggunaan gula berkalori lebih rendah dengan tingkat kemanisan lebih tinggi (misalnya fruktosa, yang lebih manis sekitar 1,3 kali sukrosa), penggunaan gula berkalori lebih rendah -saja- (misalnya sorbitol), atau kombinasi antara gula dengan pemanis buatan.

*Setahu saya, produsen softdrink memilih sukrosa karena produknya lebih memuaskan. Sehingga kalau rasa produk ‘diet’ tersebut berbeda atau tidak enak dibandingkan produk regulernya, ya itulah kompensasinya. Asal tahu saja, gula yang digunakan dalam softdrink kaleng reguler 12-oz. rata-rata setara 9,5 sendok makan gula pasir!*gee, stop that softdrink-ing already!*

Atau jika suatu produk dikatakan tidak mengandung gula alias sugar free, maka bisa dipastikan produk tersebut menggunakan pemanis buatan. Pemanis buatan memang tidak menyediakan kalori sehingga tidak mempengaruhi gula darah. Di antara jenis pemanis buatan adalah saccharin (sakarin), neotame, aspartame (aspartam), sucralose, stevia, dan acesulfame kalium (Ace-K).

Yang paling umum digunakan pada produk makanan di Indonesia adalah aspartam, siklamat (biasanya dalam bentuk natrium siklamat), dan sakarin. Sakarin sudah sangat jarang digunakan, mungkin akibat pemberitaan tentang efek sampingnya beberapa waktu lalu (saya tidak tahu). Bagi anda yang suka menikmati minuman serbuk instan, coba amati kandungannya. Minimal satu jenis dari pemanis buatan tersebut tercantum di kemasannya.

Apakah pemanis tersebut benar-benar aman? (mungkin) Aman, jika dikonsumsi dengan tidak melebihi asupan maksimal. Umumnya, produsen yang baik akan mencantumkan kandungan pemanis tersebut beserta konsumsi maksimal per berat badan.

Jadi, jika anda punya kebiasaan minum minuman instan ini beberapa porsi sehari, hitunglah kembali TOTAL pemanis yang anda konsumsi per berat badan anda. Dan umumnya pula, orang-orang dengan kelainan fenilketonuria diperingatkan (dengan tulisan yang kecil-kecil, biasanya di bawah nutrition facts) bahwa produk tersebut mengandung fenilketon.

Untungnya jarang sekali orang Indonesia yang memiliki kelainan metabolisme ini. Kalau tidak, tentu produsen makanan & minuman instan di negeri ini akan menuai badai keluhan sebab iklan mereka TIDAK ADA yang mencantumkan peringatan ini.

Bagaimanapun, JANGAN TERTIPU dengan klaim sugar free atau "Produk ini menggunakan pemanis rendah kalori". Sebab, bisa jadi total kalori (see on nutrition facts) produk tersebut lebih besar daripada total kalori produk yang menggunakan gula (sukrosa). Dalam hal ini, produsen tidak salah, dan konsumen lah yang harus jeli.

Apakah dengan demikian kita bisa mengonsumsi gula (baca: makanan manis) sebanyak yang kita suka? As sure as it is simple: TIDAK. Gula memang tidak menyebabkan diabetes, tapi makanan dengan kalori berlebih bisa.

Kesimpulannya, konsumsilah gula sesuai dengan kebutuhan kalori anda per hari. Aman kok! Dijamin! Jika kebutuhan kalori per hari adalah 2000 kcal, maka gula (sukrosa) bisa dikonsumsi sampai 10%-nya, atau setara dengan 3-4 sendok makan. Be moderate. Be wise. Yang wajar-wajar aja, segala yang berlebihan tidak baik.

Many of this writing came from: 

I would really appreciate any correction of this writing, especially from those who knows better on organic chemistry and food/nutrition. CMIIW

Update 2 Maret 2006
Ah, sebuah penjelasan ‘manis’ dari dr. Arifianto bisa melengkapi (eh, maksudnya jadi referensi) kekesalan saya pada produk yang iklannya semena-mena ini.

19 Comments

  1. hericz

    October 9, 2005 at 3:58 pm

    SIP SIP!

    Ada orang yg protes di blog-ku soal penggunaan gula pasir untuk bikin bubur kacang ijo 😀 gara2 takut kena diabetes.. hehehe

  2. fila

    May 17, 2007 at 9:34 am

    hmm… makasih bangget ada yang nulis tentang ini…
    hmm..moga2 aja bener kalo yang namanya bermacam2 gula itu “memang begitu”.. kalo dimakan nggak berlebihan ya gpp

    masalahnya – dirumah ada satu problem..
    bokap kena diabet.. – mungkin gw ampir, obesitas jg soalnya…
    cuman, yang bt gw sedih…
    bokap bilang, dokter bilang “apel” tuh sehat! baik dikonsumsi diabet-er…
    nah, trus bokap malah sering banget beli minuman kotak spt bu*v*ta… dan bbrp merk lain yang ada tulisan “no added sugar”, “sugar free”, dan sebagainya… APA NGGAK PAPA tuh?
    aku udah bilang ke bokap…..di kandungan nutrisinya ada tulisan sukrosa atau gula atau apa aku lupa, n% gtu,
    tapi bokap gw ngeyel ajha, Gapapa… itu kan gula nya apel, jadi gapapa.. blabla blaaa

    Nah lo! emang bener gapapa kah? gw kan anaknya kuatir….
    gimana ya? cara nya mengedukasi yang… nggak sok menggurui… nggak sok menyalahkan,
    minta saran yha…

    soalnya bokap nih dasarnya suka manis, tapi dia udah ngurangin banyak kok, ampe porsi nasi jg..

    thanks banget for this blog. GBU

    1. Lita

      May 22, 2007 at 12:05 am

      Fila,
      Segala sesuatu kan pasti ada batasnya ya.
      Demikian juga dengan penderita DM. Dibatasi tidak berarti samasekali haram.

      Betul, apel itu menyehatkan. Semua buah dan sayuran, dalam takaran yang wajar juga menyehatkan.
      Tapi kalau sudah bentuk sari buah (jus) apalagi yang diberi pemanis, beda soal dong ya.
      Merek yang disebut itu -setahu saya- untuk produk sari buah apelnya ditambahi sukrosa (gula pasir).
      Jadi tidak benar jika dikatakan gula apel, karena ada gula selain gula buah dari apel.

      Ya seperti yang terlihat di komposisinya.
      Kalau di sana ada disebut ‘gula’, berarti ada kandungan gula yang ditambahkan (selain yang alami ada di buah).
      Sedangkan kalau kata ‘gula’ muncul di ‘informasi gizi’, bisa jadi yang dimaksud adalah gula buah dan bukan gula pasir.

      Intinya, untuk tahu apakah suatu produk ditambahi gula atau tidak, lihat komposisinya.
      Sedangkan soal kalori, sudah disebut di artikel ya. Bahwa klaim ‘sugar free’ atau ‘no added sugar’ tidak ada hubungannya dengan total kalori.

      Soal pemanis buatan.
      No added sugar tidak berarti tidak ada gula, karena bisa saja sudah ada gula yang secara alami terkandung.
      Sugar free juga tidak berarti 0% sugar, karena ada batasan jumlah gula maksimal yang diperbolehkan untuk mencantumkan klaim ini. Ada, tapi sedikit sekali, sehingga bisa ‘dianggap sugar free’, begitulah kira-kira.

      Sedangkan tentang dampak pemanis buatan sendiri, reaksi setiap orang tidak sama.
      Ada yang alergi, ada yang biasa saja. Ada yang tidak bermasalah, ada yang sensitif dan dapat mengenali ‘rasa’ manisnya yang beda dari gula biasa.

      Gimana ya? Mungkin bisa dengan berbagi bacaan, atau meninggalkan salinan artikel di -seolah- sembarang tempat sehingga menarik minat ayah untuk membaca.
      Atau jadi topik obrolan ringan saja. Bukan untuk memberi saran, tapi untuk berbagi hasil bacaan 🙂
      “Tadi habis baca berita/bahasan tentang anu di situ, katanya gini lho…”
      Jangan keburu pesimis atau khawatir akan ‘ditolak’ dulu.
      Cuek aja sok ngga nyadar hehehe… Niat baikmu pasti diam-diam dimengerti ayah, kok.

      Soal diet, ini harus dikonsultasikan ke ahli gizi atau dokter yang biasa jadi tempat konsultasi ya.
      Diet kan tidak melulu soal larangan, bisa berupa modifikasi resep atau pilihan bahan, supaya tetap enak dan tetap sehat.
      Untuk langkah awal, bisa browsing di MayoClinic. Di sana cukup banyak artikel tentang diet dan diabetes serta panduan untuk membaca label produk makanan.

      Semoga membantu, ya.
      Terimakasih sudah mampir 🙂

  3. Rizma

    May 25, 2007 at 7:59 pm

    Waduh,, 9,5 sendok gula?? tidak!!!

    Ma pencinta Pepsi!!

    dulu pernah disuruh bikin menu diet buat diabetes,, ternyata susah,, ckckck, Ma kirain gampang bikin menu diet itu,,

    btw, ini komen perdana Ma disini!!

  4. Joechen

    June 4, 2007 at 9:49 pm

    Gula itu sebenarnya baik saja dikonsumsi sama kita asal porsinya pa, alias gak berlebihan. Tapi alangkah baiknya kalo ita memang mau ngurangin konsumsi gula. Karena gula memang gak baik buat kesehatan kita. Selain bisa ngakibatin diabetes, gula juga bisa menaikkan berat badan kita. Karena biasnya makanan yang manis2, kalorinya kan tinggi. Buat kalian yang suka makanan2 yang manis, jangan takut untuk terus nikmatinnya. Asal kita bisa jaga porsinya aja, gula gak bakal ngangguin kesehatan kita.[deleted]

    Diana

    1. Lita

      June 4, 2007 at 11:48 pm

      Iklan dari anda saya hapus. No commercial allowed here.

      Coba baca kembali komentar anda sendiri.
      Kalimat pertama menyatakan A. Kalimat ketiga menyatakan negasi A.
      Mana yang benar? Baik-baik saja asalkan tidak berlebihan, atau samasekali tidak baik bagi kesehatan (seperti dinyatakan dalam kalimat ketiga)?
      Kalimat keempat, anda jelas-jelas TIDAK MEMBACA judul posting ini.
      Kalimat selanjutnya, rancu kembali. Anda menegaskan pernyataan A.
      “Gak baik” atau “gak bakal ngganggu kesehatan”? Tidak bisa dua-duanya benar.

      Bagaimana anda berharap calon konsumen akan percaya? *sigh*
      Tak perlu repot-repot protes terhadap ‘mutilasi’ atas komentar anda, identitas anda sudah saya masukkan daftar ‘awas’.

      1. aldohas

        November 1, 2008 at 1:57 pm

        waduh….
        galak banget nih mba Lita,
        tuh orang sudah berusaha untuk ngasih komentar.
        mangnya ngiklanin apa sih tuh joechen? Jadi penasaran.

        btw, nice post.
        tips yang baik adalah perbanyaklah minum “air putih”
        kalau makan diluar, buat minumnya klo gak pengen banget gak usah pesen yang aneh2 (biasanya udah jadi kebiasaan selalu pesennya es teh manis, dll) pesen air putih aja.

  5. fina

    June 6, 2007 at 10:40 am

    Gula tidak menyebabkan DM. Jangan percaya iklan untuk urusan informasi DM, deh!

    Konsumsi berlebih atas apapun tidaklah baik. Saya tidak setuju dengan pendapat kebanyakan orang yang mengatakan bahwa gula dan makanan manis menyebabkan diabetes. Karena, DM (tipe 2 – yang tidak tergantung insulin) lebih disebabkan karena faktor pola hidup yang kurang baik. Terlebih jika dalam keluarga terdapat riwayat DM maka kemungkinan terkena DM lebih besar.

    Pola hidup di sini bukan semata konsumsi makanan manis berlebih. Tapi lebih ke pola hidup keseluruhan. Semua harus seimbang, sesuai takaran, dan tidak dipaksakan.
    Tubuh sebagai karunia Allah SWT, harus dirawat dengan baik. Olahraga, istirahat, bekerja, makan-minum, ibadah, semuanya harus tertata baik. Jika satu atau lebih, tidak benar dilakukan maka tubuh akan mengalami sakit.

    Kalau ada yang berpikir makan gula berlebih itu menyebabkan DM, anda perlu mencari informasi yang jelas dan akurat tentang DM. Jangan tunda untuk mencari informasi ini apalagi menyepelekan DM. Gejala parah DM umumnya terlihat ketika usia sudah menua dan sudah terjadi komplikasi penyakit lain. Saat itu, pengobatan tidak lagi murah, alternatif pengobatan sudah terbatas, harapan sembuh mengecil, dan harapan usia juga terbatas. Maka itu, DM disebut penyakit “The Silent Killer”.

    Belajar dari pengalaman dari orang2 terdekat yang menderita DM, bentuk tubuh gemuk/kurus tidak jadi jaminan anda menderita/bebas dari DM. Bahkan tidak juga bebas dari penyakit berat lainnya. Jadi, alangkah baiknya jika kita semua memperbaiki pola hidup dan membiasakan general check up kesehatan. Ingat, untuk urusan kesehatan, mencegah lebih baik daripada mengobati.

  6. taufik

    April 19, 2008 at 6:17 pm

    Tulisan sampeyan diatas insya Allah kurang tepat alias salah maz,
    mas coba baca Evidence-Based Nutrition Principles and
    Recommendations for the Treatment and Prevention
    of Diabetes and Related Complications
    This paper was peer-reviewed, modified, and approved by the American Diabetes Association
    Professional Practice Committee and the Executive Committee, October 2001.
    Printed with permission from Diabetes Care 25 (Suppl.1): S50–S60, 2002
    terimakasih semoga bermanfaat

    1. Lita

      April 19, 2008 at 9:03 pm

      ‘Mas’ siapa yang anda maksud, ya?

      Dan sebetulnya gula seberapa yang dapat menyebabkan diabetes? Gula sebagai glukosa, sukrosa, atau fruktosa atau lainnya?
      Kalau ada link akan sangat membantu.
      TIA.

  7. Fenty

    April 21, 2008 at 5:03 am

    Saya mengerti sekali dengan kemarahan ibu Lita dengan iklan2. Pemanis buatan memang tidak baik buat kesehatan, ada juga side effects-nya. Tapi saya kurang setuju gula tidak menyebabkan diabetes.

    Yes and No! Gula harus dikomsumsi dengan makanan lain seperi protein kalo tidak, gula, atau sucrosa itu termasuk simple sugar karena mudah diasimilasi menjadi glucose dan menyebabkan naiknya gula darah yang cepat. Karena kenaikan gula darah yg cepat, menyebabkan beta cell of pancreas yg memproduksi insulin untuk bekerja keras. Insulin-lah yg bertugas mengantarkan glucose ke cell2 tubuh. Nah, insulin menyebabkan gula darah turun secara cepat dan menyebabkan adrenal gland memproduksi stress hormone, cortisol di liver dan otot dimana biasanya glucose disimpan menyebabkan release of glucose from glycogen (tempat penyimpanan glucose), yg kemudian menaikan lagi blood sugar. Then, the cycles continue..

    Simpelnya, kalo makan gula, tubuh mengalami yg biasa dibilang rollercoaster, karena naik turun gula yang disebabkan oleh kenaikan blood sugar yg terlalu cepat. kalo ini terjadi sering, maka bisa menyebabnya dinding cell menjadi tebal dan kehilangan insulin receptor dan cell kemudian resist the intake of glucose yg dinamakan insulin resistance dan ini bisa menyebabkan diabetes.

    Makanya gula bisa menyebabkan diabetes. Makanan karbohidrat yg baik adalah complex carbohydrate karena penguraian complex carbohydrate ke glucose butuh waktu dan tidak menyebabkan naiknya blood sugar secara cepat. Sekarang ini banyak sekali informasi tentang glycaemic index. Makanan dgn high glycaemic index yg menyebabkan naikanya blood sugar terlalu cepat lebish baik dikurangi. Tapi, teori ttg glycaemic index masih simpang siur dan banyak digunakan oleh iklan2 makanan sehat di negara2 barat sekrg2 ini.

    BTW, saya berlatar belakang BSc in Human Bioscience (physiology, psychology and biochemistry). Kalo anda ingin tau lebih lanjut, bisa membaca buku text ‘Medical physiology’ by William Francis Ganong (my bible, lol).

    HTH

    1. Lita

      April 21, 2008 at 9:22 am

      Yep yep… Saya baru baca tentang itu beberapa hari yang lalu. Lebih baik ‘makan’ gula kompleks daripada gula simpel dan tentang efek roller coaster itu.

      Now, dari sini saya mengerti bahwa gula simpel memicu insulin untuk bekerja lebih keras. Tapi apakah ini bisa dikatakan ‘langsung’ menyebabkan diabetes? Karena ‘langsung’nya ini yang saya tangkap dari iklan. Butuh waktu, pengaruh dari kebiasaan, jumlah gula sederhana yang dimakan, dan reaksi tubuh yang unik bagi setiap orang.
      Tentu, dengan penelitian, keunikan ini bisa ‘ditekan’ dan diambil kesimpulan yang umum.

      Nah, saya tidak setujunya adalah kalau semerta-merta SEMUA cara dan jumlah ‘makan’ gula diiklankan sebagai PASTI menyebabkan diabetes. Mereka yang sangat suka manis-manis sehingga segala manis, tentu lebih besar risikonya daripada yang sedang-sedang saja atau bahkan tidak suka manis (entah dari gula atau pemanis sintetik). Risiko tidak berarti ‘pasti terjadi’, bukan?

      Kalau SETIAP konsumen gula PASTI diabetes, berapa persen penduduk dunia yang PERNAH mengonsumsi gula simpel DAN kemudian mengidap diabetes akut? Laktosa juga gula simpel kan, ya? Bayi kan juga dapat laktosa. Tapi bayi tidak lantas diabetes.

      IMHO, be moderate. Itu saja kuncinya. Tidak perlu paranoid dengan kalimat ‘gula menyebabkan diabetes’ lalu banting setir ke pemanis buatan dan segala-gala harus pakai pemanis (karena ‘balas dendam’) hehehe…
      Pendapat saya juga sebagian dipengaruhi oleh bahasan di milis sehat. CMIIW.

  8. Fenty

    April 21, 2008 at 8:17 pm

    Aduh, mohon maaf, sepertinya saya salah mengerti dengan isi artikel anda. Memang benar, makan gula tidak langsung mengakibatkan diabetes (sejujurnya, saya belum pernah melihat iklan2 yg ibu sebutkan itu, duh!), kalo itu message yg dimaksud dengan artikel ibu Lita. Yang saya uraikan diatas adalah akibat konsumsi simple sugar yg secara terus menerus dalam jangka waktu yg relatif panjang.

    Laktosa memang simple sugar tapi pencernaan bayi dan orang dewasa sangatlah berbeda. Pencernaan bayi sangatlah immature dan kekurangan banyak digestive enzyme. Lactase, digestive enzyme yg mencerna lactose adalah the most abundant enzyme in babies, makanya bayi usia 0-6bln, hanya perlu minum susu. Complex carbohydrate juga tidak baik untuk bayi karena bayi tidak bisa mencerna makanan yg mengandung complex carbohydrate. HTH

    1. Lita

      April 21, 2008 at 10:37 pm

      Dear Fenty,
      Tulisan ini memang dibuat ketika agak ’emosi’, pas lagi sebel-sebelnya dengan iklan Tro*icana Sl*m hehehe… Karena lalu beberapa orang sekitar saya jadi kelewat was-was dan panik.
      Reaksi begini kan ngga sehat.

      Ya, konsumen memang harus menjaga kewarasannya, tapi iklan juga ngga boleh kelewatan menakut-nakuti. Sudah ‘ngga jaman’ memposisikan konsumen di pihak yang mudah disetir dan manut saja pada isi iklan (kalo ngga bener masa diiklanin?) *walau pada kenyataaannya bagian konsumen yang seperti ini memang ada. BANYAK 🙁

      Terimakasih ya untuk sumbang pendapatnya. It does help much 🙂

  9. wok

    October 29, 2008 at 10:36 pm

    mba saya sering banget buang air kecil, sehari bisa lebih dari 20x,saya sangat kecanduan dengan salah satu produk minuman teh manis, sehari bisa 3-5botol.
    apakah saya bisa dikatakan mengidap diabetes?
    sebagai informasi berat badan saya 68 tinggi 167.mohon informasinya,dikarnakan saya sangat kuatir mengidap penyakit ini. terima kasih.

  10. reagen

    November 6, 2008 at 9:18 am

    terima kasih ya..buat nasihat dan pengetahuannya..maaf saya bisa menggunakan bahan materi anda ini untuk dijadikan bahan pembantu projek management saya dalam pembuatan pabrik gula jagung saya dan kelompok saya dalam menyelesaikan tugas akhir perkuliahan kami di kampus kami..bisakah..?bisa tolong dibalas secepatnya…GBU

  11. sumarna

    September 15, 2010 at 8:34 am

    Saya dan keluarga punya pengalaman. Selama bulan puasa, untuk buka dirumah selalu dibuat kolak, kadang-kadang kalau gula aren tidak ada pemanisnya menggunakan gula putih. Demikian juga sebagai minuman pembuka selalu teh manis. Yang jadi masalah, setiap habis minum teh manis dan kolak, badan jadi terasa lemas. Ini terjadi pada seluruh keluarga. Yang jadi pertanyaan mengapa ini bisa terjadi? padahal dengan minum teh manisdiharapkan dapat energi instant agar pencernaan tidak berat bekerjanya.
    Karena selalu lemas, ahirnya saya coba buka puasa dengan minum air putih dan buah korma. Ini jauh lebih menyegarkan. Kenapa hal itu bisa terjadi?
    Mohon pencerahannya.
    Wassalam
    SMN

  12. tekun

    December 8, 2011 at 2:20 pm

    gula tetap bermanfaat untuk tubuh..hehehe

  13. pram

    March 19, 2012 at 8:21 pm

    iklan dan kemasan gula “jagung” Trop***ana Sl*m juga menyesatkan
    seolah gula jagung pure, padahal manisnya mayoritas dari aspartame…

Leave a Reply to tekun Cancel

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.